Seandainya Gajah Mada Hidup di Era Revolusi 4.0

 


Ketika Gajah Mada mempunyai visi untuk menyatukan Nusantara. Dapat kita pastikan, ia tidak akan mengira bentuk perubahan peradaban zaman sekarang. Patih termasyhur Majapahit itu tidak akan mempunyai imajinasi bahwa jika ingin berbicara dalam jarak yang jauh yang dibutuhkan hanya sebuah benda berukuran segenggam. Tidak perlu repot-repot untuk mujahadah dengan tekad yang kuat dan hati yang lurus selurus garis katulistiwa, memperoleh kanuragan.

Ia mengira, pada zamannya, bahwa berbagai bentuk aji-aji-an lebih utama dari segalanya untuk mejadikan suatu pasukan militer itu tak tertandingi. Sekarang tidak lagi digunakan, tetapi tidak bisa dianggap bahwa prajurit sekrang lemah. Nyatanya tanpa ilmu sejenis pancasona dan rawarontek banyak terjadi perang yang menumbalkan nyawa demi kekuasaan.  kita dan dia sama-sama tahu bahwa dunia akan tetap aman-aman saja. Bagimanapun jenis kemajuan zaman terjadi dengan segala atribut dan keindahan yang mengelilingi. Sampai kemudian kebencian merasuki relung-relung hati manusia.

Jika dulu dengan ilmu kanuragan orang bisa dimana-mana. Sekarang dengan teknologi orang tidak perlu kemana-mana tetapi sudah dimana-mana. Intinya ingin sama-sama mengatasi keterbatasan fisik dalam mengakses waktu dan tempat. Formula kesaktian, dengan berbagai asal-usulnya entah teknologi atau kanuragan, ingin menggambarkan kemampuan Naruto, yaiitu jurus seribu bayangan. Dalam satu waktu ia bisa berada di banyak tempat untuk melakukan banyak hal. Bisa juga, seperti Doraemon kapanpun mau tinggal buka pintu maka akan terhampar tempat dimana saja yang dinginkan.

Jika dulu ketika Gajah Mada ingin memberi tahu panglima pasukan yang telah berada di suatu tempat untuk merubah rute ekspedisi, tanpa menggunakan kanuragan, kurir yang menyampaikan bisa sampai berbulan-bulan. Kalau sekarang ketika Kementerian ingin menjalankan suatu kebijakan. Agar sampai ke pemerintahan akar rumput, Desa. Maka tinggal klik maka dalam sekejap tidak hanya pemerintah Wilayah, Kabupaten, Kecamatan, Desa bahkan Pak RT yang aktif menggunakan android akan mengerti. Karena tinggal buka Whatsapp saja. Apa yang baru diputuskan segera bisa diketahui oleh lapisan paling bawah.

Sayangnya, mengetahui tidak akan berguna tanpa bisa melaksanakan. Pak RT sekalipun faham hanya akan menunggu intruksi kerja dari Pak RW yang juga sama-sama menunggu dari atasannya, yaitu Pak Kasun. Lagi-lagi sekalipun mengetahui kebijakan dari Pusat, ia juga harus menunggu dari Pak Kades lanjut ke atas ke Kecamatan, Kabupaten dan wilayah.

Bisa dilihat dan diperhatikan, jika dari Kementerian tertanggal, semisal, 15 Nopember 2021, bisa baru nyampek ke Pak RT tanggal berapa. Anggap saja setiap, pemerintahan terkait dengan cepat dan siganya menanggapai isi sebuah surat. Langsung menyampaikan ke bawah dengan memakan waktu setengah hari, setelah ribet-ribet proses administrasi, mengetik, mencatat surat, tanda tangan hingga mengirim via Whatsapp dalam format pdf. Maka butuh berapa hari? Apalagi jika menghadapi hari libur, sabtu dan minggu, pasti akan tersendat.

Dengan begitu dan jika begitu, sistem pemerintahan kita sedang menerapkan kurir Majapahit, padahal ditengah-tengah Istana berdiri orang-orang sakti mandraguna. Yang bisa mengupayakan, lewat kesaktiannya, segalanya dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kecanggihan teknologi, sekali klik seluruh dunia bisa tahu, tidak berguna. Mempunyai kecanggihan itu tetapi tidak ada sebagai esensi.

Hal ini perlu dibicarakan, karena setiap pekerjaan pasti ada target penyelesaiannya. Jika terlunta-lunta hanya karena panjangnya pos-pos pemerintahan yang sebenarnya tidak begitu esensial dalam menjalankan roda pemerintahan, sebab sudah digantikan oleh kecepatan kanuragan era sekarang. maka bagaimana jawabannya, bila digugat oleh Pak RT, semisal,”wong ini sudah tiga hari yang lalu, kementerian sosial (misalnya) yang nge-WA aku, kok baru sekarang kerjanya, ndadak-ndadak lagi”. Untung-untung kalau Pak RT tidak tahu jika sebenarnya kebijakan itu masih nge-pos di beberapa gedung. 

Gajah Mada sebagai seorang administrator yang baik, setiap abad sejak ia moksa hingga sekarang pasti namanya disebut sebagai seorang layaknya manusia super. Seandainya ia hidup di era sekarang, apakah ia akan melakukan revolusi adminsitrasi besar-besaran agar dapat bersanding dengan perubahan zaman sebagai produk revolusi digital 4.0 ini? Kita tidak bisa menjawab secara pasti. Yang bisa kita pertanyakan, apakah Gajah Mada mempunyai ahli waris? Itu saja.

Tegalwangi, 15-11-2021

Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Seandainya Gajah Mada Hidup di Era Revolusi 4.0"