Ketika Gajah Mada mempunyai visi
untuk menyatukan Nusantara. Dapat kita pastikan, ia tidak akan mengira bentuk
perubahan peradaban zaman sekarang. Patih termasyhur Majapahit itu tidak akan
mempunyai imajinasi bahwa jika ingin berbicara dalam jarak yang jauh yang
dibutuhkan hanya sebuah benda berukuran segenggam. Tidak perlu repot-repot
untuk mujahadah dengan tekad yang kuat dan hati yang lurus selurus garis
katulistiwa, memperoleh kanuragan.
Ia mengira, pada zamannya, bahwa
berbagai bentuk aji-aji-an lebih utama dari segalanya untuk mejadikan suatu
pasukan militer itu tak tertandingi. Sekarang tidak lagi digunakan, tetapi
tidak bisa dianggap bahwa prajurit sekrang lemah. Nyatanya tanpa ilmu sejenis
pancasona dan rawarontek banyak terjadi perang yang menumbalkan nyawa demi
kekuasaan. kita dan dia sama-sama tahu
bahwa dunia akan tetap aman-aman saja. Bagimanapun jenis kemajuan zaman terjadi
dengan segala atribut dan keindahan yang mengelilingi. Sampai kemudian kebencian
merasuki relung-relung hati manusia.
Jika dulu dengan ilmu kanuragan
orang bisa dimana-mana. Sekarang dengan teknologi orang tidak perlu kemana-mana
tetapi sudah dimana-mana. Intinya ingin sama-sama mengatasi keterbatasan fisik
dalam mengakses waktu dan tempat. Formula kesaktian, dengan berbagai
asal-usulnya entah teknologi atau kanuragan, ingin menggambarkan kemampuan
Naruto, yaiitu jurus seribu bayangan. Dalam satu waktu ia bisa berada di banyak
tempat untuk melakukan banyak hal. Bisa juga, seperti Doraemon kapanpun mau
tinggal buka pintu maka akan terhampar tempat dimana saja yang dinginkan.
Jika dulu ketika Gajah Mada ingin
memberi tahu panglima pasukan yang telah berada di suatu tempat untuk merubah
rute ekspedisi, tanpa menggunakan kanuragan, kurir yang menyampaikan bisa
sampai berbulan-bulan. Kalau sekarang ketika Kementerian ingin menjalankan
suatu kebijakan. Agar sampai ke pemerintahan akar rumput, Desa. Maka tinggal
klik maka dalam sekejap tidak hanya pemerintah Wilayah, Kabupaten, Kecamatan,
Desa bahkan Pak RT yang aktif menggunakan android akan mengerti. Karena tinggal
buka Whatsapp saja. Apa yang baru diputuskan segera bisa diketahui oleh lapisan
paling bawah.
Sayangnya, mengetahui tidak akan
berguna tanpa bisa melaksanakan. Pak RT sekalipun faham hanya akan menunggu
intruksi kerja dari Pak RW yang juga sama-sama menunggu dari atasannya, yaitu
Pak Kasun. Lagi-lagi sekalipun mengetahui kebijakan dari Pusat, ia juga harus
menunggu dari Pak Kades lanjut ke atas ke Kecamatan, Kabupaten dan wilayah.
Bisa dilihat dan diperhatikan,
jika dari Kementerian tertanggal, semisal, 15 Nopember 2021, bisa baru nyampek
ke Pak RT tanggal berapa. Anggap saja setiap, pemerintahan terkait dengan cepat
dan siganya menanggapai isi sebuah surat. Langsung menyampaikan ke bawah dengan
memakan waktu setengah hari, setelah ribet-ribet proses administrasi, mengetik,
mencatat surat, tanda tangan hingga mengirim via Whatsapp dalam format pdf.
Maka butuh berapa hari? Apalagi jika menghadapi hari libur, sabtu dan minggu,
pasti akan tersendat.
Dengan begitu dan jika begitu,
sistem pemerintahan kita sedang menerapkan kurir Majapahit, padahal
ditengah-tengah Istana berdiri orang-orang sakti mandraguna. Yang bisa
mengupayakan, lewat kesaktiannya, segalanya dengan cara seksama dan dalam tempo
yang sesingkat-singkatnya. Kecanggihan teknologi, sekali klik seluruh dunia
bisa tahu, tidak berguna. Mempunyai kecanggihan itu tetapi tidak ada sebagai
esensi.
Hal ini perlu dibicarakan, karena
setiap pekerjaan pasti ada target penyelesaiannya. Jika terlunta-lunta hanya
karena panjangnya pos-pos pemerintahan yang sebenarnya tidak begitu esensial
dalam menjalankan roda pemerintahan, sebab sudah digantikan oleh kecepatan
kanuragan era sekarang. maka bagaimana jawabannya, bila digugat oleh Pak RT,
semisal,”wong ini sudah tiga hari yang lalu, kementerian sosial
(misalnya) yang nge-WA aku, kok baru sekarang kerjanya, ndadak-ndadak
lagi”. Untung-untung kalau Pak RT tidak tahu jika sebenarnya kebijakan itu
masih nge-pos di beberapa gedung.
Gajah Mada sebagai seorang
administrator yang baik, setiap abad sejak ia moksa hingga sekarang pasti
namanya disebut sebagai seorang layaknya manusia super. Seandainya ia hidup di
era sekarang, apakah ia akan melakukan revolusi adminsitrasi besar-besaran agar
dapat bersanding dengan perubahan zaman sebagai produk revolusi digital 4.0
ini? Kita tidak bisa menjawab secara pasti. Yang bisa kita pertanyakan, apakah
Gajah Mada mempunyai ahli waris? Itu saja.
Tegalwangi, 15-11-2021
Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Seandainya Gajah Mada Hidup di Era Revolusi 4.0"