Menjadi Diri Sendiri Bersama Nietzsche

nietzsche

Menjadi Diri Sendiri Bersama Nietzsche

Nazi hancur kalah perang bersama negara fasis lainnya, sesudah ia mengamalkan beberapa doktrin dari Nietzsche, termasuk dengan menjadi diri sendiri. Para penjahat kelas dunia digiring dan diperhadapkan untuk mempertanggung jawabkan segala sesuatu dibalik masa-masa berkuasanya. Dalam persidangan tersebut ternyata nama filosof Jerman Friedrick Nietzsche disebut. Orang yang pernah menjalani sakit gila di dekade terakhir hidupnya mempunyai andil untuk kali ini, sekalipun jasadnya telah sirna sudah hampir setengah abad yang lalu. Seseorang yang berfilsafat dengan maxim-maxim yang sukar diinterpretasi dan sebagaimana tuturannya bahwa ia lebih suka untuk disalah pahami menjadi kekhasan dari seorang pemikir ini, seperti berikut salah satu aforismanya.

Gaya dan bahasa ku merayumu? Apa? Kamu mau mengikuti aku langkah demi langkah? Lebih baik perhatikan lah dirimu sendiri. Dan dengan cara begitu kamu akan mengikuti ku dengan pelan-pelan”. Ujaran Nietzsche tersebut yang terdapat dalam Gay Scienca mengindikasikan pertentangan terhadap kebanyakan pemikir yang pernah ada. Untuk jangan pernah sekali-kali mengikuti dirinya sekaligus memperingatkan orang lain untuk mencari “ke-akuan” dalam diri sendiri. Dari maxim-maxim semacam itu dan lainnya di kemudian hari menjadi propaganda Nazi dalam bertindak dan berfikir. Karena pada dasarnya ia hanya sekedar seorang yang terkesima dengan pemikiran Schopenhaur tentang kehendak begitu pula dengan pesimisme terus beralih ke nihilisme.

Suatu ketika nazi memang pernah berkunjung ke kediamannya, disambut dengan hangat oleh sang adik Elisabeth Foster Nietzsche. Entah sekedar safari intelektual mencari pegangan yang pas diantara keping-keping alenia, mengingat nietzsche penulis yang produktif gay scienca, the birth of tragedy, beyond good and evil, also spoke zarathustra adalah buah pena kemalangannya, ataukah hanya konsolidasi gelap mengingat Elisabeth bersuami seorang politisi anti-semit. Itu artinya beraliran darah sama. manakah yang benar ataukah ada alasan lain dari kehendak sang fasis? Tanpa menjawab supaya berpuspa ragam asumsi yang muncul ini lebih keren. Karena asumsi prilaku politik seperti mencari arah letak pulau di tengah samudra. Maka biarkan perahu berlabuh dahulu.

Falsifikasi keterlaluan sempat membuat si pemikir sinting Nietzsche terkontaminasi sebagai provokator terjadinya keributan di dunia setelah kematiannya. Memang benar tulisannya sangat provokatif. Tetapi tidak akan pernah benar hasil falsifikasi sang adik perempuannya dinisbatkan kepadanya. Tetapi tetap lah namanya sudah disebut di meja hijau dunia.

Ideologi perang milik para fasis mengambil catatan kaki darinya. adanya ras unggul yang oleh Nietzsche di proyeksikan dengan seorang si mata biru berambut pirang, tiada bukan adalah ras Arya. Bukunya yang berjudul “kehendak akan berkuasa” seolah menjadi kitab suci secara fungsional batu bara untuk kereta super sonic dalam memanifestasikan kehendak ditengah lapangan tanpa wasit dan segala aturan.

Melihat Niezsche sebagai paradigma berkelahi, lebih-lebih bagi seorang yang berada dalam anatomi struktural dengan kemewahan bukan terdapat pada harta melainkan pada kekuatan alam pikir. Untuk kali ini ia sudah, sedang dan akan terus berbakat sebagai motivator metafisis umat manusia. Ia memberikan pengajaran untuk suatu kemungkinan-kemungkinan dari pikiran memandang realitas sedangkan ia sendiri harus membebaskan suatu rasa dalam diri. Entah karena kecemasan terhadap waktu atau barangkali pesimisme yang ditafsiri dengan menyerah terhadap realitas. Psikologi tersebut dicirikan dengan defisit inisiatif serta berpihak pada logika kawanan. Yaitu komando minor terhadap mayor yang tidak memperhatikan seberapa signifikan konten tersebut.   

Kehilangan hasrat yang disertai dengan arah yang  jelas sepertinya ini yang dibutuhkan generasi milenial. Arah dalam arti kemampuan berfikir, mencacah dan memilih. Karena tanpa potensi keberfikiran kehendak tersebut dapat di ilustrasikan dengan sketsa platonik seperti kuda hitam dan putih tanpa sais. Karena itu lah sifat natural manusia yang harus dicari dalam “ke-aku-annya” oleh masng-masing pemilik sifat.

Mengambil contoh, kita bisa melihat beberapa aktor fiksi seperti terilustrasikan, misalnya, oleh Maxim Gorky dengan sangat indah dalam buah karyanya ‘Pecundang’. Tokoh Yefsey si pemurung yang dimaksud, hidup hanya menjadi ekor padahal berkesempatan jadi tanduk. Seluruh kejadian yang terjadi dalam hidupnya adalah suatu yang tidak ia inginkan tetapi sengaja tidak mengambil atau menggunakan kesempatan untuk menolak, sehingga ia tenggelam dalam disiplin dari logika kawanan yang ada pada zamannya, tidak aneh lantas disebut sebagai pecundang.

Bandingkan dengan aktor fiksinya Kho Ping Ho, Sin liong, seorang yang dituntun oleh jati dirinya sendiri tidak terpengaruh oleh apapun dari luar. Pembunuhan orang tuanya tidak menjadikannya kalut dan berantakan dan berpotensi untuk mengubah tabiatnya. Bahkan cinta Swat Hong tidak sedikitpun membuat hatinya bergetar, tetapi rasa kasih sayangnya yang terwujud sulit untuk dicari bandingan cerita cinta yang lain. Sin Liong telah mengubur ketakutan dan rasa yang berlandaskan pada asas ketidak nyamanan, ia bergerak atas dasar dirinya sendiri. Sedangkan Yefsey telah memupuk dan mensejahterakannya, menjadikan dirinya sendiri sirna.

Selama ‘kehendak berkuasa’, sekalipun tidak seperti harapan Nietzsche yaitu tanpa arah, dibungkam atau dibonsaikan. Maka apa jawaban yang tepat jika sang realitas mengajukan pertanyaan untuk memilih antara pecundang dan pemenang. Setidaknya Betrand Russel berjasa karena ia pernah mempunyai perkataan yang bersahaja,”akar dari permasalahan dunia adalah orang-orang baik dan berwawasan luas ragu dengan dirinya, sedangkan orang-orang cupet dan bodoh begitu yakin dengan dirinya”.

Maka katakan lah “iya” untuk dunia termasuk kepada diri sendiri. Sebenarnya apabila melihat Niezsche dari segi motivator untuk membangun keyakinan diri, tidak lah salah. Karena tiap individu mempunyai kehendak yang dimulai dengan garis start kesadaran masing-masing supaya ia tidak melihat identitas yang hendak disematkan orang apakah baik atau kah tidak (beyond good and evil) melainkan berjalan terus menyuarakan suara hati untuk didengar. Sebab memang masalah kita sebagai individu atau bangsa adalah mental yang telah diperbudak oleh sebuah keinginan menjadi orang lain.

Tegalwangi, 2019

 

Post a Comment for "Menjadi Diri Sendiri Bersama Nietzsche"