Musik dan Ideologi
Sepertinya kita tidak asing
lagi mendengar cerita tentang Sufi besar Jalalluddin Ar-Rumi, tatkala mengalami
ekstase setelah mendengar pukulan-pukulan secara berulang dari tukang besi.
Dalam penyerapan indrawinya, seolah bunyi yang didapati dari benturan antara
dua benda padat tersebut hanyalah dentingan akibat dari dua benda keras, tetapi
bagi Rumi yang terdengar melalui jiwanya
adalah nama Allah. Seraya itu pula, ia kehilangan suatu kesadaran dan kendali
atas kehidupan duniawi, hingga ia merasuk kedalam dirinya sendiri yang terdalam
menikmati sensasi ketuhanan. Dalam pandangan mata kepala manusia pada umumnya
Rumi sedang berputar-putar, selebihnya pasti terdapat sesuatu yang sangat
mendalam dari sekedar putaran saja dan memang bukan hanya putaran saja tetai
pengalaman batiniah yang hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan saja.
Lain dari pada itu, masih
berkaitan dengan bunyi atau musik, dalam penelitian ilmiah mengenai
perkembangan tumbuhan, pernah terdapat suatu penemuan mengenai gerak cepat dalam
proses kehidupan dari tumbuhan ketika didekatnya terdapat bunyi-bunyian.
Hasilnya pun berbeda tatkala dalam kondisi kesunyian. Lebih jauh lagi,
perkembangan tumbuhan itu mengalami perbedaan manakala disajikan suatu genre
bunyian yang berbeda, mulai dari pop, rock, dangdut dan juga lantunan ayat-ayat
suci. Mungkin perlu untuk mencermati analisisnya tetapi akan terlalu panjang
dan bukan ditulisan ini di lain kesempatan saja. Akhirnya disudahi saja dengan
suatu kesimpulan yang pernah diutarakan oleh Nietzsche dulu bahwa “hidup tanpa
musik adalah suatu kesalahan”.
Dalam sejarah pemikiran, musik
yang juga menempati ruang pikir tersebut tidak hanya difungsikan untuk
memberikan suatu relaksasi atas pikiran yang sedang kalut. Musik menempati
hidup manusia sebagai bentuk keindahan. Tetapi yang perlu diperhatikan bahwa
seni tidak identik dengan estetika, begitu juga musik. Karena seni hendak
mendambakan suatu kompleksitas dan ambiguitas tentang kebermaknaan suatu
pengalaman hidup yang dengannya ingin tidak di anggap hal yang remeh atau
sederhana, tetapi mencoba untuk dimungkinkan secara luar biasa. Tidak penting,
barangkali untuk memberikan definisi musik secara teoritis, tetapi kita tahu
dengan sadar bahwa musik yang baik mencoba membunyikan suatu yang tak
terbunyikan. Sebagaimana puisi yang hendak memperkatakan suatu yang tak
terkatakan, atau pelukis dan pemahat hendak menggambarkan suatu yang tak
tergambarkan, yaitu membedah dalam kedalamannya suatu yang transenden.
Seorang Pesimis lawan G.W.F
Hegel, Arthur Schopenhauer memberikan apresiasi yang tinggi terhadap musik
melebihi karya seni lainnya. Ia adalah orang barat yang terpengaruh dalam
pikiran Budhisme. Sebagaimana dalam paparannya (budhisme) hidup adalah
penderitaan dan ilusi. Manusia mempunyai suatu kehendak atau keinginan ini dan
itu yang tak pernah mengenal tepi, penjajahan pertama selalu terjadi dalam diri
sendiri. Hal tersebut sangat lah natural, tidak mungkin untuk mengeluarkan
kehendak dalam diri. Schopenhauer pun mengiyakan pendapat itu. Untuk mengatasinya
Schopenhauer memberikan beberapa solusi demi mengatasi derita yang ia rasakan
bersama umat manusia pula. Secara berurut dimulai dengan jalan estetis, jalan
etis, dan asketis. Kita cukupkan berbicara pada jalan pertama saja, yaitu
estetis dan lebih spesifik lagi berbicara pada senik musik tidak untuk yang
lain. Menurut Schopenhauer musik berbeda dengan seni lain, karena musik sendiri
adalah gambaran utuh kehendak manusia, bukan salinan gagasan, tapi wujud
gagasan itu sendiri, berpotensi untuk untuk mewujudkan emosi (perasaan).
Schopenhauer adalah salah satu
orang yang terpengaruh pada Immanuel Kant, yang mempunyai pikiran tentang
realitas sebagai suatu yang dualistis. Sebagai sesuatu yang apa adanya (nomena) dan sesuatu yang nampak pada
diri kita setelah diakses sesuai persepsi (fenomena). Schopenhauer meracik nomena menjadi kehendak, dalam prosesnya
terjadi pelimpahan subjek terhadap objek. Jadi ketika kita diganggu oleh anjing
sedangkan didekat terdapat handphone, kita melempar anjing tersebut dengan
anjing. Maka kondisi melempar adalah menghendaki handphone untuk menjadi
instrumen lemparan, tidak berbeda dengan batu kala itu. Sehingga segala
fenomena yang terjadi (dunia dan isi nya) merupakan manifestasi kehendak.
Karena hidup sama dengan kehendak maka hidup adalah penderitaan. Soal nya kehendak
selalu buta dan tiada habisnya. Kehendak itu sendiri lah yang akan
mengatur-atur manusia dan merubah kebebasan menjadi belenggu dihadapan
kehendak.
Antara musik, kehendak, nomena
dan fenomena. Dapat diambil kesimpulan bahwa musik terletak pada tataran nomena
yang menjelma menjadi kehendak berwujud secara indrawi pada wilayah fenomena.
Ideologi-ideologi dunia merupakan perjalanan panjang dari kehendak untuk
menjustifikasi manusia didorong oleh apa yang mereka rasakan, yaitu naluri yang
keberadaan nya tidak mereka sadari (unconsiousness
Freud). Ala Schopenhauerian ontologi
dari ideologi dunia adalah kehendak metafisis yang cukup rumit dan pelik pada
diri individual berlanjut menjadi komunal.
Dalam kacamata musik yang
menghendaki suatu ideologi terucap dalam tiap-tiap bait dan percampuran emosi
yang saling ingin mengutarakan perihal tertentu, sebagai asumsi-asumsi awal
dari ideologi, terkadang mengalami perbedaan yang luar biasa ketika dengan
sengaja harus mengambil sikap terhadap satu pilihan. Hal itu seperti nya tidak
bisa menjadi keniscayaan. Karena sekalipun dalam waktu yang sama tetapi tempat
berbeda, bisa dibalik, adalah sejarah yang berbeda. Ketika Soekarno mengatakan
musik pop adalah musik ngak-ngik-ngok
sebab jengkel dengan bangsa Inggris dan Amerika, negara kelahiran musik pop,
ternyata di negara tersebut musik tersebut dinyanyikan oleh para pekerja.
Bahkan bisa dipersamakan untuk memberikan definisi sederhana dinyanyikan oleh
para senasib marhaen.
Dalam sejarah permusikan
indonesia, kita mengenal nama band legendaris Koes Plus. Ia adalah kiblat dari
musik pop dan rock’n roll Indonesia era orde lama. Lagunya ‘andai engkau datang
kembali’ yang dinyanyikan oleh Ruth Sahananya, ‘bunga di tepi jalan’ yang
dinyanyikan Sheila On 7, sekedar contoh. Adalah bentuk dari pengalaman
batiniyahnya yang cukup rumit. Asumsi-asumsi kehendaknya dibentuk lewat
ketertarikannya pada band The Beatles. Hal tersebut dibuktikan dengan banyak
lagu-lagunya yang ia nyanyikan. Menurut pemerintah orde lama, dengan
menyanyikannya akan meracuni kaum muda indonesia. Menurut pemerintah orde lama
dibawah bendera revolusi Soekarno yang mempunyai pengalaman tragis terhadap
penjajahan lebih-lebih terhadap negara penjajah, dengan segala atributnya yang
nantinya merasuk kedalam alam bawah sadar tanpa disadari menjadi kehendak
metafisisnya berwujud pada kebijakan-kebijakan politik nya. Salah satu nya membrantas hal yang
berbau barat, karena Koes Plus gandrung menyanyikan lagu The Beatles yang
identik imperialis. Maka sejarah mencatat Band tersebut pernah dijebloskan ke
dalam jeruji besi, alasan nya sebenarnya kurang konstitusional yaitu
sebagaimana tadi yang diutarakan.
Sampai disini ketertarikan Koes
Plus untuk menyanyikan lagu the Beatles didorong oleh suatu kehendak metafisis
pula yang tersusun secara rapi dalam alam bawah sadarnya yang tanpa disadari
telah mendikte dirinya, dengan sedikit tergesa-gesa untuk menyebut ideologi
Koes Plus cenderung Liberalisme. Ideologi khas negara-negara penjajah.
Sedangkan sikap Soekarno sendiri terhadap Koes Plus menunjukkan bahwa ia
cenderung berideologi kiri, tetapi bukan komunis atau kalau memang hendak
dipaksa untuk menunjuk satu ideologi ia adalah seorang nasionalis, marxis, dan islamis
sekaligus totalitarianisme-otoriterianisme khas ideologi Fasisme karena
sikapnya terhadap Band Koes Plus tanpa pernah menggunakan jalur konstitusional.
Untuk terakhir kalinya, dalam telaah arkeologi-genealogi memberikan kesimpulan
bahwa ideologi dari genre atau lirik musik harus diidentik kan dengan ideologi
tertentu merupakan sikap ketergesa-gesaan dalam mengambil titik akhir.
Lagi-lagi disesuaikan dengan asumsi dasar yang membentuk kehendak metafisis
individual atau komunal lewat kompleksitas pengalaman yang dilewati.
Seandainya Koes Plus, sekedar
imajinasi, sebelum menyukai untuk menyanyikan lagu The Beatles, ia mengikuti
alur pergerakan Soekarno, termasuk membaca buku-buku yang dilahap merasakan
pedihnya dibuang. Kemudian menjumpai premis-premis yang menggerakkan kehendaknya
untuk mengambil sikap di kemudian hari, Barangkali ia sependapat dengan
Soekarno untuk mengatakan “tidak” kepada bau barat.
Sample diatas hanya merupakan
sekedar tilikan terhadap satu tragedi anak manusia dalam lilitan sejarah,
dengan tempo yang singkat pula akan berubah dengan berubahnya asumsi-asumsi
pemikiran yang mendasari itu semua.
Tegalwangi, 2019

Post a Comment for "Musik dan Ideologi"