Judul buku :
Sayap-Sayap Patah
Pengarang : Kahlil Gibran
Penerjemah :
Sapardi Djoko Damono
Penerbit :
PT Bentang Pustaka
Tebal halaman :
125 hlm
Isbn :
978-602-291-787-8
Genre :
Romance
Sinopsis Singkat Buku
Buku
ringkas yang ditulis oleh Kahlil Gibran, seorang pujangga kenamaan Lebanon yang
kemudian hijrah ke Amerika ini memaparkan kisah cinta layaknya Tenggelamnya
Kapal Vanderwijck, Romeo Juliet, Dibawah Lindungan Ka’bah yaitu kandas.
Sepasang karakter yang menjadi fokus perhatian bagaimana cinta bersemi kemudian
harus gugur dan sia-sia. Orang pertama dalam novel ini yang tidak dijelaskan
namanya, selalu menggunakan kata ganti “aku” bisa jadi adalah penulis sendiri,
Gibran. Oleh karenanya gaya tulis bisa jadi berasal dari pengalaman batin
penulis. Tetapi tidak bisa kemudian tergesa-gesa mengambil kesimpulan, sebagai
suatu gaya tulisan sangat mungkin terdapat rekaan-rekaan untuk menambah
dramatis isi cerita.
Lebih-lebih
dengan anugrah sensitivitas Gibran dalam menggoreskan kata untuk menarik makna
ke suatu suasana hening dalam jagat batin penulis, agar pembaca seolah
merasakan apa yang sedang dirasakan penulis merupakan sebuah kelebihan dalam
karya sastra ini. Oleh karenanya sudut pandang dan cuaca terdalam dari pembaca
menjadi faktor utama darimana makna tampil. Sedangkan makna yang dikehendaki
Gibran sudah diluar kendali keinginannya. Oleh karena itu tetap saja seandainya
terdapat rekaan sedikit atau banyak, atau memang benar asli kisah tragisnya
setelah menjadi karya sastra yang dibaca, maka seluruhnya menjadi fiksi bagi
pembaca.
Buku
ini pertama kali terbit pada tahun 1922 dengan berbahasa Arab, Al-Ajnihah
Al-Mutakassirah, sayap-sayap patah. Lebih dulu daripada Al-Mustafa dan
Yesus Anak Manusia. Gaya bahasa yang digunakan cenderung cengeng penuh metafor,
cenderung kalau menggunakan istilah sekarang adalah alay. Semisal
perumpamaan yang digunakan oleh si “Aku” untuk mendeskripsikan sang kekasih,
Selma, bahwa ketika tangan gadis pujaannya diletakkan diatas kepala lebih indah
daripada mahkota, ketika Selma mengenakan gaun putih disebutnya selaksa
sekelebat cahaya bulan.
Cerita
mulai mengenaskan setelah Selma dijodohkan oleh seorang kemenakan Uskup, yang
tidak bisa tidak untuk menolak. Meskipun begitu jalinan asmara tetap berlanjut,
beberapa kali Selma mengendap-endap untuk keluar meninggalkan rumah suami yang
tidak pernah ia cintai untuk bertemu dengan si “Aku”. Akhir tragis cerita
adalah ketika setelah sekian tahun Selma tidak bisa hamil akhirnya mengandung
anak dari pernikahannya, tetapi usia bayinya tidak lebih lama daripada dirinya.
Kemudian Selma meninggal dalam kondisi menggendong bayi yang baru ia lahirkan
dirumah sakit. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh si “aku” selain meratap dan
berkata kepada penggali kubur,”dilubang ini anda juga sudah menguburkan
hatiku”.
Komentar dan Hal-Hal Menarik.
Tidak
diragukan lagi Kahlil Gibran dengan kemampuannya untuk menyihir pembaca
sekalipun dengan sedikit halaman yang tertuang dalam tulisannya. Pertama kali
dapat terlihat dari bab-bab pembuka, bagaimana kelihaiannya untuk menyajikan
diksi sehingga memikat. Sebagaimana sepotong kata persembahan untuk
seseorang yang menurutnya spesial.
“untuk dia yang
memandang Matahari dengan mata berbinar, merengkuh bara api dengan jemari yang
tak bergetar dan mendengar nada spiritual dari keabadian dibalik pekik ribut si
buta”
Setelah buku ini diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia, sangat memungkinkan akan mengalami reduksi, dikarenakan
bahasa Indonesia yang miskin. Tetapi sisi negatif tersebut sepertinya tertolong
berkat terjemahan seorang sastrawan besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Hal
tersebut tampak dari bagaimana ia menerjemahkan kata persembahan dari Gibran.
Gibran
kali ini, lewat novel sayap-sayap patah memberi arti cinta dalam kadar yang
sukar dan rumit untuk difahami berdasarkan budaya dewasa ini. Karena cinta
dalam perspektif kekinian senantiasa dimulai dari indrawi lantas menjadi bahan
pelajaran berhari-hari bagaimana seseorang mampu dengan dewasa dan akal sehat
melewati pahit dan getirnya kehidupan baru setelah menuntaskan masa ujian bisa
dikatakan cinta. Semisal seorang laki-laki karena mencintai seorang perempuan
ia mesti rela mengorbankan apapun demi sang terkasih. Jadi cinta adalah proses,
sebagaimana halnya perjodohan setelah akad dalam pernikahan maka kedua mempelai
akan mencoba dan belajar untuk mencintai satu sama lain dalam mengarungi
bahtera kehidupan.
Erich
Fromm dalam bukunya the art of loving menginisiasi cinta dengan menitik
beratkan kepada subjek, yaitu bagaimana seseorang harus bertindak aktif dalam
mencintai tanpa memperdulikan kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Model mencintai
tersebut tampak dewasa daripada cinta dalam skala yang menitik beratkan pada
objek, seperti menuntut perhatian kepaa pasangan karena dirinya sudah perhatian
ini dan itu. Tetapi dua model cinta semacam itu sudah lumrah terjadi, sekalipun
kebanyakan adalah model kedua, yang kekanak-kanakan.
Gibran mengenalkan cinta sebagai sesuatu entitas abadi, karena merupakan kualitas jiwa. Selma tidak perlu menunggu kode dari si “Aku” untuk memulai percakapan, bahkan isi dari pembicaraan seolah sudah lama sekali mengenal, bukan benda asing lagi. Hal ini menunjukkan bahwa cinta sebagai kualitas jiwa sama abadinya dengan jiwa tersebut. ketika takdir memilih untuk turun ke bumi dan bersemayam dalam sebuah tubuh, maka tidak perlu adanya perkenalan lagi. Karena pada intinya, seperti yang diucapkan oleh Aristoteles,”cinta adalah satu jiwa dalam dua tubuh”. Cinta juga tidak harus menuntut pernikahan didunia, bahkan kebanyakan mereka yang menikah tidak dikarenakan cinta tetapi status sosial. Oleh karena itu keterpisahan si “Aku” yang ditinggal menikah oleh Selma, akibat perjodohan tidak menjadikannya murung. Karena ia tetap bisa mencintai meski dalam dekapan orang lain. Sayangnya jika Gibran konsisten dengan konsep cinta seperti ini, seharusnya ending dari cerita harus tidak menampilkan kerapuhan dari si “Aku” manakala ditinggal mati. Karena kesedihan tersebut mengindikasikan kalau cintanya hanya berdimensi tubuh saja, padahal sejak awal ia berbicara tentang cinta dalam nuansa jiwa yang abadi.
Arif Prastyo Huzaeri
08-07-2022

Post a Comment for "Bedah Buku: Sayap-Sayap Patah"