“aku sekarang mau tidur dulu
Tidur dengan mengambil separuh kesenangan
Dari yang kau biasa punyai. Keranjang di kiriku
Dan aku sendiri lalu onggokan kaleng-kaleng tua
Yang kosong disebelah kananku”
Mahbub Djunaedi, 1952.
Pada acara-acara resmi, mulai dari pelatihan, diklat, pelantikan dan pengajian yang diadakan oleh GP Ansor dimulai dengan rentetan-rentetan lagu-lagu yang harus dan wajib untuk dinyanyikan. Sebagai seorang warga negara indonesia yang baik maka dinyanyikan lagu Indonesia raya, GP Ansor sendiri sebagai badan otonom NU artinya termasuk warga Nahdliyin dalam golongan kepemudaan, maka dinyanyikanlah lagu mars syubbanul wathon, sebagai lagu yang dimiliki banom, terdapat dua lagu yang mesti dinyanyikan pertama mars GP Ansor kedua mars Banser. Seluruh dari lagu tersebut dilaksanakan dengan berdiri. Tidak boleh tidak harus berdiri dalam waktu yang cukup lama. Sebagaimana kita ketahui empat lagu dalam satu acara, jelas durasi yang dibutuhkan untuk menyanyi cukup menyita.
Kita sudah sangat akrab dengan lagu Indonesia raya. Karena tidak hanya waktu acara-acara kenegaraan saja lagu itu disenandungkan, melainkan juga acara yang dilaksanakan oleh komunitas-komunitas yang ada diseluruh negara, dalam bentuk apapun bisa jadi komunitas keagamaan, seni-budaya, olahraga, hobi dan sebagainya. Sudah tidak asing lagi siapa pengarang dari lagu Indonesia raya, karena sudah sejak dari sekolah dasar menjadi pertanyaan yang mengisi pada ujian semester atau ulangan harian, siapa pengarang lagu indonesia raya? Para murid tahu betul bahwa pengarang lagu tersebut adalah WR. Supratman.
Untuk lagu mars Syubbanul Wathon, mars GP Ansor dan mars Banser. Sudah sangat jelas lagu tersebut hanya masyhur dikalangan Nahdliyin saja. Mungkin warga NU tidak seluruhnya faham betul siapakah pengarangnya. Untuk kali ini akan dibahas tentang satu sosok intelektual pengarang dibalik mars GP Ansor yang tidak atau kurang diketahui publik Nahdliyin, lebih-lebih dikalangan pemuda Ansor sendiri. Sebelumnya kita nyanyikan dulu mars GP Ansor:
Darah dan nyawa telah kuberikan
Syuhada’ rebah Allah Akbar
Kini bebas rantai ikatan
Negara jaya islam yang benar
Berkibar tinggi panji gerakan
Iman didada patriot perkasa
Ansor maju satu barisan
Seribu rintangan patah semua
Tegakkan yang adil hancurkan yang dzalim
Makmur semua lenyap yang nista
Allahu Akbar-Allahu Akbar
Pagar baja gerakan kita
Bangkitlah bangkit putra pertiwi
Tiada gentar dada ke muka
Bela agama bangsa negeri
Syair tersebut adalah karangan dari H.Mahbub Djunaidi, lahir setahun sebelum GP Ansor didirikan, tepatnya 27 Juli 1933. Belaiu adalah anak dari pasangan H.Djunaidi dan Muchsinati. Ayahnya pernah menjabat sebagai anggota DPR hasil pemilu tahun 1955. Mahbub adalah sosok yang banyak terjun didunia tulis-menulis sehingga ia mendapat gelar sebagai “Pendekar Pena”. Atas usul KH Syaifudin Zuhri diawal karirnya, ia masuk untuk ikut membantu Harian Duta Masyarakat. Dua tahun berselang Mahbub Djunaidi diangkat untuk menjadi Direktur Harian Duta Masyarakat selama 10 tahun. Didunia organisasi sejarah mencatat ia pernah terlibat aktif di IPNU, HMI dan selanjutnya beralih ke PMII. Dimana ia menjadi ketua PB PMII selama dua periode 1960-1963 dan 1963-1966. Lewat bakatnya dalam mengola kata dan makna, Mahbub juga mengarang mars PMII.
Setelah karir organisasinya di PMII selesai, Mahbub diminta berjuang disayap kepemudaan NU, yaitu GP Ansor. Dari kepiawaiannya dan keseriusannya didalam keorganisasian, mengantarkan beliau untuk menduduki pucuk pimpinan. Salah satu kontribusinya adalah mengarang syair mars GP Ansor sebagaimana tersebut diatas dan juga Mars PMII. Karirnya setelah di banom NU beralih ke NU, ia pernah menjabat sebagai sekjen PBNU dan wakil ketua umum PBNU ketika KH. Abdurrahman Wahid menjabat sebagai ketua tanfidziyah pada tahun 1984 dalam muktamar NU di Situbondo.
Hal yang cukup dikenal dari pribadi Mahbub adalah kegiatannya dalam dunia tulis menulis. Pribadinya sebagai politisi, aktivis, tidak lebih tenar daripada sebagai seorang kolumnis. Tidak sedikit karya yang dihasilkannya diantaranya kumpulan-kumpulan tulisannya yang pernah diterbitkan di media cetak dan karya terjemahannya. Antara lain: asal-usul, kolom demi kolom, dari hari ke hari, angin musim, cakar-cakar irving, humor jurnalistik, kolom demi kolom, 100 tokoh berpengaruh, binatangisme, dikaki langit gurun sinai, politik tingkat tinggi kampus.
Selain itu tulisan khas Mahbub Djunaidi sangat menarik, karena mampu menyihir para pembacanya untuk dapat tertawa dalam keadaan serius. Goenawan Muhammad pernah berkomentar mengenai kriteria yang dimiliki oleh Mahbub Djunaidi, dengan mengatakan:
“saya punya kecemburuan pada Mahbub, bagaimana dia bisa menulis hingga orang tertaw, padahal isinya cukup serius? Kelebihan Mahbub pada kolom-kolomnya, yang belum tertandingi oleh siapapun, ialah bahwa ia bisa mengatasi mempergunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime yang setingkat Marcel Marcau. Kata-kata, kalimat-kalimat, ia gerakkan dalam pelbagai perumpamaan yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga”.
Tidak hanya itu, Bung Karno pun terkesima dengan tulisan Mahbub Djunaidi yang tidak hanya sekedar jenaka, penuh satire dan kritik, tetapi juga mempunyai bobot dan mutu yang didasarkan pada pengetahuan dan wawasan yang dalam. Dalam suatu tulisan di harian Duta Masyarakat, Mahbub mengemukakan pendapatnya bahwa Pancasila mempunyai kedudukan lebih sublim dibanding Declaration of Independence susunan Thomas Jefferson yang menjadi pernyataan kemerdekaan Amerika Serikat tanggal 4 Juli 1776, maupun dengan Manifesto Komunis yang disusun oleh Karl Marx dan Friedriech Engel tahun 1847. Tulisan ini dibaca oleh Bung Karno, kemudian meminta kepada KH Saifuddin Zuhri untuk membawanya ke Istana.
Sejak tanggal 23 September 1984, Rubrik Asal usul awal kali digagas oleh Kompas untuk sekedar memberikan komentar pada keadaan sosial yang luput pada pemberitaan. Rubrik ini dimaksudkan untuk asal mengusulkan dengan memberikan penekanan pada sisi humorrnya. Sebelum Mahbub Djunaedi terdapat beberapa wartawan yang mengisi tetapi dinilai kurang pas sampai kemudian pada tanggal 23 November 1986 tulisan Mahbub Djunaedi mengisi tiap minggunya, yang nantinya akan dibukukan dengan nama sesuai rubrik tersebut. Kenapa Mahbub? Karena terdapat tiga ciri menonjol yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh rubrik Asal Usul, yaitu: politikus, wartawan, humoris.
Kepiawaiannya dalam menggunakan kata serta mengarahkannya kepada suatu keunikan, menjadikan tulisan-tulisannya tidak bosan dan menjemukan, sehingga menarik pembaca tanpa merasa kecapekan dalam mmengarungi suatu pemikiran yang ingin ia sampaikan. Ini merupakan suatu bentuk kecerdasan tingkat tinggi yang pernah dimiliki oleh NU. Sangat jarang, susah atau bahkan sulit untuk ditemukan kembali seorang jurnalis seperti Mahbub Djunaedi, oleh karenanya sangat pas ketika ia mendapat julukan sebagai “pendekar pena” dari seorang Mahbub Djunaedi melahirkan kesadaran tentang suatu gaya tulisan yang benar-benar unik, banyak dari kader-kader NU yang berupaya untuk mengikuti gaya tulisannya tetapi dapat dikatakan bahwa mereka selalu merasa gagal, seolah-olah seorang Mahbub Djunaedi dengan semua atributnya hidup dan berkibar hanya sekali saja.
Tegalwangi, 15-05-2021

Post a Comment for " Mengenal Lebih Dekat H.Mahbub Djunaedi Sosok Pengarang Mars GP Ansor"