Bedah Film: Aku Benci dan Cinta

 


Cerita ini bertitik tolak dari rasa tidak suka, nyinyir dan kompetitif antara dua figur utama film. Alvaro, cowok terkeren di sekolah yang menjabat sebagai ketua OSIS. Ia digemari oleh banyak perempuan tercatat sudah belasan yang pernah berlabuh dan ditaklukannya. Karena keren, ia dengan begitu mudah mendapatkan dan melepaskan hubungannya dengan riang gembira. Sedangkan para perempuan tersebut selalu menyisakan luka, sedu, sedan, tangis dan duka.

Kompetitor dan rival dari Alvaro tidak lain adalah wakil ketua OSIS, Anggia. Ia kalah jauh dalam hal popularitas dengan Alvaro. Tidak hanya dihadapan perempuan, di depan anggota OSIS yang berjenis kelamin laki-laki pun, selalu pendapat Alvaro yang dinilai lebih menarik.

Keduanya bersitegang secara serius, sampai akhirnya nasib sial nilai sekolah mengharuskan keduanya bertemu di ruang musik. Anggia harus memperbaiki nilainya dengan cara belajar gitar kepada Alvaro, sedangkan Alvaro yang menjadi tutor Anggia adalah jalannya untuk memperbaiki nilainya. Dari sini, komunikasi terjalin, kedekatan terjadi dengan beberapa segmen. Mulai dari terkesimanya Anggia manakala Alvaro melantunkan syairnya diiringi dengan denting piano dan pembelaan Alvaro kepada Anggia setelah dipecundangi oleh teman lelakinya.

Rasa antara Alvaro dan Anggia berkelindan dengan cerita masa lalu. Berawal dari munculnya orang ketiga, Alex teman kakak Anggia dan teman karib Alvaro. Secara sadar dan berani mengucapkan rasa sukanya kepada Anggia. Hal tersebut adalah yang kedua kalinya, sebelumnya Alex juga mengucapkan rasa sukanya kepada Atala. Seorang perempuan yang terbaring koma di rumah sakit. Mereka bertiga, Alvaro, Alex dan Atala adalah teman akrab sejak kecil. Hubungan mereka bertiga mulai renggang setelah Alex menyukai Atala tetapi ditolak karena Atala menyukai Alvaro, sedangkan Alvaro sendiri lebih cenderung pengecut, karena tidak berani menyatakannya dan mengecewakan Atala. Cinta yang muter-muter.

Cinta yang Menyisakan Problem Eksistensial

Film ini sebenarnya tidak sekedar menampilkan pergeseran kualitatif, dari benci menjadi cinta. Sebagaimana yang terjadi dalam hubungan antara Alvaro dan Anggia. Bahkan bisa jadi tidak pernah terjadi pergeseran kualitatif apapun, karena sejak awal Alvaro sudah suka tanpa ada rasa benci. Sedangkan rasa benci dan kompetitif yang ia tampakkan dihadapan Anggia merupakan bentuk lain dari kepengecutan dan tidak percaya dirinya untuk sejenak mengucapkan rasa yang terpendam dalam hatinya.

Sekalipun film berakhir dengan happy ending, Alvaro jadian dengan Anggia. Sebenarnya masih menyisakan problem eksistensial, yaitu keinginan dari Alvaro tidak tercapai berdasarkan dirinya sendiri sebagai subjek yang bebas. Ia memilih Anggia karena dorongan dari Atala saat ia baru bangun dari koma panjangnya dan setelah terjadi gejolak dengan Alex yang sama-sama suka, sehingga sedikit dan banyak memantik Alvaro untuk mengambil sikap.

Dihadapan belasan cewek di sekolahnya Alvaro seolah berkuasa merajai hati mereka. Tetapi dihadapan Anggia,  ia tampak bukan apa-apa tak berdaya dan tak berguna. Entahlah problem krusial apa sebenarnya yang menghambat pertumbuhan eksistensial seorang Alvaro. Mungkin terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan kalau disebabkan cinta. Tetapi alternatif kebenaran paling benar sebagai jawaban sepertinya hanya satu kata itu sebagai jawaban. Meski agak sedikit paradok, bukankah cinta justru menguatkan dan membebaskan.

20-07-2022

Post a Comment for "Bedah Film: Aku Benci dan Cinta"