BERBICARA SEPUTAR COVID-19
Hari-hari
ditahun 2020 resmi menjadi ruang dan waktu dari penyebaran covid 19, berbeda dengan tahun sebelum nya atau bahkan
beberapa tahun jauh dari tahun ini. sekalipun informasi yang beredar sejak dari
tahun 2019 akhir yang datang dari Wuhan, China. Tetapi tahun ini lah sebagai
zaman corona, begitu disebut oleh masyarakat dalam perbincangan nya
sehari-hari. Untuk membedakan tahun sebelum nya sebagai tahun politik. Gemuruh
yang dihasilkan pun sepertinya tidak jauh beda. Hanya saja jika tahun politik
mengerucut kepada perebutan massa yang disimbolkan dengan 01 dan 02, maka untuk
zaman corona gemuruh itu beredar lewat kanal-kanal tenaga ahli medis atau
mereka yang menggunakan nama tersebut. Mulai dari yang dapat dinalar seperti:
cuci tangan, pakai masker atau yang salah nalar semisal: membawa bawang puting.
sampai ke sesuatu yang transenden semisal adanya tahun kembar prediksi jayabaya
dan sebagainya. Memang sejarah akan menemukan rasionalitas nya tetapi perlu
dicermati pula untuk sampai ke tujuan tertentu harus melewati
sandungan-sandungan dan kelokan-kelokan irrasionalitas. Sehingga yang hendak
kita pertanyakan atau gugat lewat jalur mana agar dapat dengan segera sampai
pada rasionalitas yang dimaksud.
Beberapa
bulan ini bagi pengguna sosmed akan merasa alergi, dengan beberapa unggahan
dalam bentuk artikel dan video yang hanya memberitakan tentang Covid-19. Seolah
media tidak menemukan berita lain lagi yang dapat menarik perhatian publik.
Antara yang hoax dan yang nyata telah bercampur-baur rumit untuk dibedakan mana
yang hitam dan mana yang putih. Untuk itu kita perlu membuka kesadaran, tentang
Covid-19 sebagai wujud dari bentukan ide manusia dan wujud yang memang virus
dalam tinjauan medis. Untuk yang pertama adalah sebuah wajah abstrak dari
pikiran manusia yang telah diramu menjadi satu oleh emosi, bisa dalam bentuk
kecemasan, ketakutan, kegeraman, keangkuhan dan lain sebagainya. Terkadang pula
dibubuhi oleh ingatan serupa dengan seolah adanya keterulangan kembali secara
abadi dalam cakupan sejarah. Sehingga tiga unsur tersebut, yaitu: realita yang
berkaitan dengan Covid-19, emosi, dan ingatan masa lalu menjelma menjadi satu
kesatuan, sehingga manusia telah berhasil menciptakan Covid-19 sebagai sebuah
pikiran. Sedangkan yang kedua, adalah memang benar-benar virus mematikan
menurut pakar medis dan masih murni tidak tercampur oleh persepsi manusia.
Hal
yang kita sayangkan adalah ketidakmampuan manusia untuk memberi tempat kepada
Covid-19 tanpa melibatkan persepsi. Masalah nya dari persepsi tersebut
ditampilkan sebagai sesuatu yang murni dan seluruh wacana sebagai aktivitas
tutur masyarakat dan bentuk kebijakan publik akan berdasarkan bukan dari
Covid-19 yang ada pada dirinya sendiri melainkan yang ada pada ke ikut sertaan
diluar dirinya sendiri. Sebagaimana kita ketahui masalah ini dikategorikan pada
wilayah kesehatan maka hanya mereka yang bergelar atau menyandang identitas
kesehatan lah yang dapat mempengaruhi covid-19 sebagai dirinya sendiri menjadi
kombinasi dengan diluar dirinya. Para petugas medis dengan paradigma nya akan
memberikan arahan agar tidak terjangkit oleh virus ini. Mereka mempunyai
wewenang untuk melakukan hal tersebut setelah menyandang suatu identitas sebagai
dimaksud.
Identitas
secara rumit adalah ukiran dari peradaban manusia untuk mengatasi segala
problematika manusia dan segala atribut nya. Keberadaan nya sebagai identitas
bukan lah suatu keterlemparan begitu saja melainkan aktivitas kesengajaan untuk
mempunyai keterampilan tertentu sehingga terdapat panduan khusus dalam bentuk
konsep yang disesuaikan dengan bidang dari identitas yang hendak digapai.
Semisal kesehatan, sebagaimana yang kita bahas, maka ia akan mengikuti beberapa
penataran dalam persoalan kesehatan, ringkas nya begitu. Kembali kepada tugas
nya adalah mengatasi manusia sebagai atau bentuk murni sebelum berevolusi untuk
menjadi identitas, yang selanjutnya kita sebut sebagai entitas. Saat identitas
telah disiapkan dengan seperangkat konsep untuk menyelesaikan kesengsaraan
entitas, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dari pihak identitas telah mampu
melakukan adaptasi sehingga dapat menggunakan perangkat lunak nya sebagaimana
mestinya, adalah diwaktu yang tepat dan dengan ukuran yang tepat pula secara
kuantitatif dan kualitatif tergantung person yang hendak dihadapi.
Dapat
langsung diambil contoh, seluruh kendali kebijakan publik berkaitan dengan
covid-19, mulai dari protokol kesehatan, gaya bicara yang digunakan, wacana
yang hendak dikembangkan dan sikap dimata publik. Apakah telah dan dapat
diterima sebagai upaya untuk menangani persoalan? Pertanyaan tersebut dapat
dijawab dengan tepat setelah melakukan pengandaian adanya cara adaptasi yang
sesuai dengan prilaku masyarakat. Sebab apabila tidak, maka petugas yang
menggunakan identitas kesehatan akan menjalankan tugas nya, bahkan dengan
berucap atas nama kemanusiaan, dengan ukuran konsep yang ada di kepala nya. Ini
berarti menjalankan suatu orientasi berdasarkan ukuran nya sendiri adalah
tindakan yang bersifat totaliter, dimana dalam hal ini identitas mentotalisasi
sepenuh nya terhaap entitas, yaitu manusia.
Untuk
yang terakhir, sudah dengan jelas dan dapat dipastikan bahwa tujuan akhir
adalah manusia sendiri sebagai entitas murni, sangat pantang kiranya
menjalankan tugas kemanusiaan dengan mengorbankan kemanusiaan itu sendiri,
dengan ukuran sekecil apapun termasuk apabila mengganggu rasionalitas dari
lokalitas tertentu karena dari satu wilayah dengan wilayah lain dapat
dipastikan berbeda.betapa penting nya entitas daripada identitas dapat kita
lihat dari sepotong ungkapan Remy Silado dalam novel nya “ Ca Bau Kan”,
“Meskipun raja hutan singa berjalan menjelajah hutan dengan kawanan nya,
sedangkan harimau meskipun bukan raja hutan ia berjalan menyusuri hutan dengan
sendirian”.
Arif Prasetyo Huzaeri
Tegalwangi, 2020

Post a Comment for " BERBICARA SEPUTAR COVID-19 "