BANSER: TENTARA SWASTA NU

 


BANSER: TENTARA SWASTA NU

Kita senantiasa haruslah memanjatkan syukur, hingga sekarang masih dan tetap diajarkan untuk menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah mendahului kita. Itu bukanlah perkara remeh. Penjajah sendiri datang tidak diundang tetapi pulangnya harus di persilahkan untuk pergi dan jangan sampai kembali. Mengusir penjajah dari bumi tercinta bukanlah perkara remeh, tidak hanya sekedar mengkode tamu yang telah lama berbincang-bincang dirumah kita. Tetapi harus dengan seluruh kekuatan yang dipunyai, bahkan harus rela untuk meninggalkan pekerjaan, kesibukan rumah tangga dan hobi demi mengusir penjajah. Tidak ada celah kesalahan apabila setiap hari senin anak-anak didik di ajak oleh kepala sekolah untuk mengheningkan cipta, dengan mengirimkan bacaan al-fatihah kepada para pahlawan yang telah gugur mendahului.

Apabila kita teliti lebih lanjut, jelasnnya dari seluruh pahlawan yang telah berjuang merebut kembali kemerdekaan ke pangkuan, tidaklah seluruhnya beragama islam. Tetapi seluruhnya tanpa pengecualian, kepala sekolah menyebutnya sebagai para syuhada’, secara global tanpa ada keterkaitan dengan kepercayaan yang mereka anut lantas dikirimkanlah do’a al-fatikhah. Ini luar biasa, karena setelah dihadapkan kepada Indonesia hari ini, kiriman do’a tersebut menunjukkan akan persatuan bangsa tidak lagi memandang aliran atau kepercayaan tertentu dari para pahlawan. Tidak ada kepala sekolah yang mengajak murid-muridnya untuk mengheningkan cipta dengan mengirimkan al-fatikhah terkhusus bagi yang islam saja.

Momen kepahlawanan ini memberikan makna mendalam kepada kita semua yang hadir pada era nya masing-masing. Bagaimana tidak, kita sama-sama diberi pengetahuan lewat pendidikan sekolah akan perjuangan yang maha hebat untuk mempertahankan kemerdekaan dan kemandirian bangsa sendiri. Seluruh pahlawan itu seluruhnya tidak ada yang bayar, mereka berjuang secara sukarela. Ambil contoh, pada perang Diponegoro yang berlangsung mulai dari tahun 1825-1830. Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, Sentot Basya Prawirodirjo dan nama-nama yang lain dari para kyai dan rakyat jelata yang andil dalam perang tersebut, tidak ada satupun yang menerima bayaran dengan perjuangan yang telah mereka lakukan. Dimana pada hari ini dikenang sebagai peristiwa yang maha dahsyat ditulis dalam sejarah bangsa dengan menggunakan tinta abadi. Akibat dari perang tersebut mengakibatkan Belanda rugi besar-besaran.

Begitu pula pada pejuangan di sekitar 1945 setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi. Kondisi negara sudah berdiri sedangkan masih tarik ulur didepan mata dunia untuk mendapat pengakuan. Terjadi beberapa perjuangan yang kemudian menjadi sebutan untuk dikenal sampai hari inidan hari-hari esok seperti Bandung lautan api, Surabaya sebagai kota pahlawan. Karena memang pada waktu setalah sekutu menang dalam perang dunia kedua. Mereka mencoba untuk menduduki kembali tanah jajahannya. Belanda datang dengan dibonceng oleh sekutu. Tidak bisa dihindari aksi massa untuk mempertahankan kota Surabaya oleh sekawanan penduduk sekitar, lebih-lebih dimotivasi dengan adanya resolusi jihad yang dikeluarkan oleh PBNU, bahwa hukum mempertahankan negara adalah wajib. Prinsip yang terpatri dalam sanubari itu sudah cukup menggerakkan massa aksi tanpa adanya komandan dan dikoordinir oleh tenaga ahli perang semisal tentara.

Melihat kepada kondisi tentara indonesia sendiri baru dibentuk pada 5 Oktober 1945 dengan sebutan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada tanggal 10 Oktober 1945 komposisi tentara di Jawa mempunyai 10 divisi 3 resimen dan 15 batalyon. 1 divisi berjumlah 10.000 prajurit. Dari beberapa pos kepemimpinan militer terdapat beberapa kyai yang menjadi pimpinan. Semisal komandan divisi pertama adalah kolonel KH Syam’un pengasuh PP di Banten pensiun sebagai brigadir jendral. Divisi ketiga kolonel KH Aruji kartawinata. Resimen 17 kolonel KH Iskandar Idris. Resimen 8 Kolonel KH Yunus Anis. Komandan batalyon TKR KH Iskandar Sulaiman Rois syuriyah Kab. Malang. Pada waktu itu Indonesia baru merdeka sehingga para tentara berjuang tanpa bayaran. Baru menerima bayaran pada  1950.

Peperangan tersebut terjadi karena motivasi pribadi bukan intruksi dari atasan atau karena iming-iming bayaran. Bagaimana mungkin dibayar negara baru dibentuk dan belum mendapatkan pengakuan dari negara-negara lain. Kebanyakan dari pejuang di Surabaya adalah dari kalangan pesantren atau nahdliyin kultural. Sehingga sampai hari ini NU mempunyai tentara yang tidak dibayar dan digunakan secara sukarela yaitu BANSER. Sebagai suatu kelahiran semangat perjuangan kembali para syuhada’ dan pejuang yang merebutkan kemerdekaan pada perang tanggal 26-29 Oktober dan perang 10 November 1945. Mereka inilah oleh alm  KH. Ngabehi Agus Sunyoto, M.Pd dalam sebuah acara seminar di pondok pesantren Lirboyo disebut sebagai tentara swasta.

Tetapi hari ini sudah tidak zamannya untuk berperang dengan mengangkat senjata, melainkan perang dengan menunjukkan cinta akan tanah air dengan berbagai cara dan perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu mari kita kirimkan bacaan surat al-fatihah sekali lagi untuk para syuhada’ yang telah mendahului kita. Al-fatihah.........

 

Tegalwangi, 15-12-2020

Arif Prasetyo Huzaeri   

 

Post a Comment for "BANSER: TENTARA SWASTA NU"