Revolusi
selalu menghasilkan sesuatu yang spektakuler dalam peradaban umat manusia. Ia
seolah laksana kuas dan cat yang berwarna-warni sekaligus sebagai satu paket.
Tergantung akan menyentuh barang apa, sehingga akan menjadi perwajahan baru. Tidak
sekedar sensasi yang terus dipublikasi untuk menjadi eksis, melainkan kerap
pula justru suatu esensi yang dipublikasi terus menjadi eksis. Tetapi dari
perbedaan keduanya mempunyai kesamaan yaitu dalam suatu pengaruh terhadap
kehidupan umat manusia dan lingkungannya. Pertama kali akan tampak dari cara
atau sistem berfikirnya dalam melihat suatu persoalan di sekitar. Bahkan akan
menunjukkan suatu yang khas dalam caranya bersikap terhadap masalah yang
dihadapi. Tetapi revolusi tidak terjadi secara gratisan melainkan juga meminta
tumbal kepada manusia dengan beragam bentuk.
Sudah
menjadi keharusan apabila segala sesuatu mesti ada timbal baliknya. tidak ada
tumbuhan yang tidak menghasilkan buah. Apabila tumbuhan tersebut memang bukan
jenis dari yang dapat berbuah, dapat dipastikan kalau bunganya akan memberikan
daya tarik. Apabila masih tidak terdapat bunga, maka dapat dipastikan di ambil
manfaatnya pada daun, batang atau akar. Sesuatu yang telah ditanam pasti akan
di panen. Begitu kodrat alam mengharuskan adanya sebab-akibat atas segala
sesuatu yang terjadi beruntun ke masa depan.
Revolusi ilmu pengetahuan menjadi ajang pergeseran peradaban dari teosentris menuju logosentris. Nama-nama seperti Copernicus, Galileo Galilei, Isac Newton lebih akrab didalam pendengaran. Menjadi point untuk siswa sekolah apabila mengetahui nama-nama para ilmuwan. Karena dalam pelajaran nama tersebut menjadi salah satu bab yang harus dimengerti dengan baik olehh mereka.
Di lingkungan
mahasiswa, dengan menyebut nama tersebut dalam lingkaran diskusi akan menambah
kewaspadaan terhadap lawan bicaranya. Mengaitkannya dalam story di media
sosial seolah akan menggambarkan figur dari orang yang mempunyai akun.
Se-begitu kuat pengaruhnya, sekalipun dalam perihal yang remeh-temeh. Belum
lagi apabila bersangkutan dengan persoalan yang luar biasa. Wajah dari
peradaban sekarang merupakan sumbangan dari hasil temuan para ilmuwan.
Para
ilmuwan saling bahu-membahu, seperti ungkapan dari Newton “jika saya melihat
lebih jauh, itu karena saya sedang berdiri di pundak para raksasa”. Yang
dimaksudnya raksasa jelas adalah seniornya dalam penngetahuan, dimana ia
kemudian bisa dengan mudah menjadi penemu setelah mengkonsumsi hasil riset
mereka. Memulai sesuatu tidak berasal dari nol melainkan sudah dari beberapa
ketinggian “pundak raksasa”. Seandainya Newton tidak mempunyai senior
atau tutor yang membimbingnya secara langsung atau lewat buku-buku karyanya dan
ia adalah satu-satunya sebagai pemula dari seorang ilmuwan, atau bisa dikatakan
orang seperti Copernicus dan Galileo adalah anak yang kurang rajin untuk
mengkaji suatu pengetahuan. Bisa digambarkan ia sering bolos sekolah atau
setelah sekolah ia lebih suka mancing, mengejar layangan yang tidak jelas,
bukan justru mengerjakan PR atau melakukan penelitian.
Maka
tidak hanya Newton tetapi juga para junior-juniornya akan terlambat dalam
membaca dunia. Mesin uap dan revolusi 1.0 akan tetap berlangsung tetapi mungkin
tidak ditemukan oleh James Watt, karena ia tidak mendapatkan sebuah “pundak
raksasa” yang dinaiki. Dunia barangkali akan terlambat sekitar satu abad atau
bisa lebih untuk menerima cahaya diwaktu malam, karena Thomas Alfa Edison dan
Nikola Tesla di waktu ia hidup tidak mempunyai panduan untuk merancang
temuannya tersebut. Begitu pula dengan nasib ilmuwan-ilmuwan selanjutnya,
seperti Darwin, Einstein, Hawking.
Setelah kejayaan ilmu pengetahuan ditandai dengan adanya suatu revolusi menghasilkan yang lain diluar itu, yaitu revolusi industri. Berlanjut ke arah kapitalisasi besar-besaran oleh para pemilik modal, maka dibutuhkanlah tenaga dari tangan manusia yang besar pula. Interaksi sosial antara pekerja dan majikan akan akur untuk selamanya apabila pekerjanya bersifat nerimo atas segala yang terjadi pada dirinya. Tetapi tatkala ia mencoba dan berani untuk berfikir terhadap status kehidupannya dengan semua yang ia terima, maka alur ceritapun akan lain terjadi.
Seterusnya menjadi penting untuk membahas persoalan yang abstrak
semisal tentang keadilan, kesetaraan, nilai lebih dan sebagainya. Setelah ia
mengetahui bahwa tenaganya sedang diperas habis-habisan dalam keadaan kurang
adil, maka bukankah ia ingin melawan. Jika terjadi, maka nyawa yang
bergelimpangan apakah sudah cukup untuk menerima keadilan?
Sampai disini yaitu dizaman kita bertengger, segala yang terjadi hari ini adalah bentuk dari akibat dari sebab yang lalu. Para ilmuwan apakah berfikir, selain tentang penemuan-penemuannya, juga tentang akibat yang akan terjadi dengan pengetahuan yang ia miliki beberapa tahun atau beberapa abad sesudahnya. Dengan ditemukannya nuklir wajah negara-negara yang menguasainya dirupakan untuk datar dan tegang, bersiap-siap untuk menekan tombol perkelahian.
Coba saja, ketika
penelitian tentang nuklir hampir selesai kemudian terdapat pikiran yang
menyelinap ke masa depan apabila nuklir tersebut benar-benar akan diketahui
umat manusia maka tidak ada yang terjadi selain bencana massal dan kekhawatiran
akan kematian. Tetapi juga bisa berfikir si ilmuwan tersebut, ketika
penelitiannya hampir selesai, tinggal mengambil keputusan untuk lanjut atau
berhenti. Lantas ia mengambil sikap untuk melanjutkan saja, dengan alasan
dikhawatirkan apabila bukan ia yang menemukan akan di temukan oleh ilmuwan
lain. Dimana akibat yang akan terjadi juga dapat dipastikan sama.
Jika
kita benar-benar dapat memilih untuk suatu sebab di masa lalu yang akan
memberikan akibat di masa kini. Maka apakah kita menginginkan para ilmuwan dan
penemu besar dahulu tidak usah terlalu rajin dalam melakukan penelitian supaya
tidak menemukan barang-barang yang bisa di ambil manfaatnya dan bisa berlebihan
sampai pada tingkat tidak bermanfaat bahkan berbahaya? Jadi Leibniz dan newton
jangan bertengakar masalah pengetahuan. Berkelahi saja karena persoalan asmara,
begitu juga dengan ilmuwan yang lain. Para pengusaha jangan berinvestasi dari
pengetahuannya Alfa Edison. Biarkan saja malam bercahaya lewat rembulan dan
bintang serta rumah-rumah bersinar dari tungku api. Untuk temuannya edison
supaya digunakan untuk lingkup keluarganya saja tetangganya hanya boleh
melihat.
Sepertinya jangan begitu juga, apa fungsi dari akal kalau ditahan. Sebagaimana buat apa beli harddisk dengan kapasitas satu tera, tetapi yang digunakan satu mb. Oleh karena itu semuanya harus dijalankan secara moderat, dalam arti untuk kasus ini, tidak melampaui batas atau kurang untuk mendekati perbatasan. Umat manusia akhirnya harus mempunyai kemampuan untuk ngerem dan ngegas dalam kondisi yang tepat supaya tidak kebablasan.
Untuk itu yang menjadi pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimana supaya mampu melakukan hal tersebut, silahkan
pikir sendiri karena kapasitas dan kepribadian setiap manusia berbeda-beda
untuk mengetahui dimana batas terletak. Menjadi perlu untuk diperhatikan kisi-kisi adalah jangan sampai revolusi menagih tumbal.
Tegalwangi,
26-12-2020
Arif Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "Keringat Masa Lalu Untuk Peradaban Hari Ini"