Pilih Bos atau Pegawai

 

BOS ATAU PEGAWAI

Seperti halnya seorang petani, ia akan berbuat dan bekerja untuk mengupayakan bagaimana hasil tanamannya berhasil dengan panen yang sempurna. Oleh karena itu, terdapat beberapa pertimbangan untuk memenuhi syarat dari kesempurnaan tersebut. Semisal, bunga tidak kering lantas rontok, batang tampak sehat, dedaunan terlihat hijau royo-royo, buah sehat, besar dan segar. Tetapi selain dari pekerjaan yang menghasilkan itu semua, pertimbangan yang perlu dilakukan oleh seorang petani adalah bagaimana supaya tanamannya tidak terserang hama penyakit. Maka ia perlu membasminya dengan berbagai cara tergantung keruwetan dan keparahannya. Tidak mungkin tanaman tumbuh dengan sehat dan tampak segar sedangkan membiarkan ulat-ulat melahap dedaunannya dan serangga menggugurkan bunga serta menghambat pertumbuhan buah.

Begitu juga seorang pejabat publik, lebih-lebih seorang dengan jabatan politik bukan dengan jabatan kepegawaian, yang mana ia mempunyai wewenang lebih dalam tugas-tugasnya. Kebijakan yang dilakukan tidak hanya sebatas menghasilkan tanaman yang sehat tetapi juga bebas dari hama penyakit. Berbeda dengan pegawai, yang berada dibawah wewenangnya, ia hanya bertugas dalam garis besarnya yang penting tanaman sempurna. Berkaitan dengan hama dan pertumbuhan dari tanaman menunggu perintah dari pejabat politik. Metode apa yang hendak diterapkan untuk mencapai tingkatan terbaik dari panen. Dengan begitu jabatan politik sebagaimana halnya seorang petani dan jabatan pegawai adalah buruh tani.

Seorang buruh tani harus mempunyai keistimewaan dari segi kemampuan mengolah pertanian dan perkebunan, pengetahuan yang cukup untuk bekerja, tenaga yang mumpuni, kedisiplinan dan kecepatan. Seorang pegawai harus mempunyai karakter itu semua ditambah ijazah dari sekolah sebagai bukti bahwa ia telah mengkonsumsi pengetahuan yang cukup. Berbeda dengan petani, seandainya ia anak hartawan dengan tanah yang cukup luas, orang tuanya hanya perlu memberikannya kepada si anak, maka jadilah ia seorang petani. Nasib baik berada dipihaknya, meskipun juga terdapat petani yang memang berangkat dari zero to hero

Bahkan ia tidak perlu dilengkapi dengan perangkat khusus sebagaimana buruh tani. Begitu pula perbedaan antara pejabat politik dan pejabat kepegawaian, analoginya seperti halnya buruh tani dan petani. Seorang yang terdidik dengan keahlian khusus akan bernasib sebagai pesuruh atau kacung dari seorang yang bernasib baik atau karena ia mengambil komitmen untuk merdeka tidak terikat oleh siapapun dan apapun, hanya dirinya sendiri. Seperti itulah kualifikasi dari keduanya terdapat kekurangan dan kelebihan yang dinasibkan karena perbuatan yang dipilih oleh masing-masing.

Kembali kepada pertanian, setelah mendapat isyarat dari petani tentang metode yang hendak diterapkan maka buruh tani akan menjalankannya. Dilapangan apabila terdapat masalah yang sifatnya prinsip maka yang harus memutuskan adalah petaninya sendiri, bukan  si buruh. Berbeda halnya dengan sesuatu yang sifatnya teknis, semisal tangki mogok apa harus teriak-teriak memanggil petani untuk diservis, jelasnya tidak. Dengan demikian buruh harus dilengkapi pengetahuan khusus termasuk dalam hal servis tangki.

Apabila suatu ketika terdapat kejadian yang membuat buruh tani memprotes kepada juragannya si petani. Karena kesalahan memilih pupuk yang benar, dengan ketidak tahuannya petani lantas menolak pendapat dari buruh yang berpengalaman tersebut. Sehingga mau atau tidak mau buruh harus tetap menyemprotkan pupuk yang tidak cocok menurutnya ketanaman. Meskipun gejolak batinnya membantah tetapi perbuatannya harus seiya dan sekata dengan si petani. Begitulah kondisi sosiologi anatara si petani dan buruhnya.

Termasuk hubungan antara pejabat politik dan pejabat kepegawaian. Pegawai harus bekerja seperti buruh, meskipun tampilan pakaiannya sama modisnya dengan pimpinannya yang memangku wilayah politik. Apabila suatu ketika ia menolak, sebagaimana buruh tidak menerima pendapat petani, maka nasib sial pertama kali akan mengancam untuk dipecat. Tetapi apabila pegawai merasa kemungkinan untuk dipecat adalah sesuatu yang mustahil dikarenakan ada hukum yang sedang melindunginya, maka langkah terbaik ia harus berhati-hati karena pimpinannya setelah memangku jabatan politik bisa melakukan segala hal untuk membuatnya hengkang dari pekerjaannya.

Hal tersebut terjadi karena politik adalah sesuatu yang sakti dan tidak sakral. Setelah meraihnya maka beberapa “aji-ajian” telah berada ditelunjuknya, tinggal hendak ditunjuk kemana maka perubahan akan terjadi. Segalanya yang bertentangan dengan hukum maka akan dicarikan akal bagaimana sekiranya bisa atau bahkan hukum akan mendukungnya.

Menjadi pilihan tersendiri bagi seseorang untuk menentukan nasibnya secara utuh atau ditentukan oleh orang lain. Apabila ingin menentukan nasibnya maka seseorang perlu melewati jalan terjal dan berkabut dengan tetap dan terus komitmen tanpa peduli dengan olok-olok dari kiri kanan dalam waktu yang tidak diketahui bisa cepat atau lambat.

 Arif Prasetyo Huzaeri  

 Tegalwangi, 12-12-2020


                              

 

Post a Comment for "Pilih Bos atau Pegawai"