Budaya Anak
Milenial: Bakar Sate Harus Difoto
Beberapa hari yang lalu pada bulan Juli tahun 2021 ini, kita mengalami kondisi alam yang sangat dingin. Seluruh benda dan barang yang ada pun menghantarkan rasa dingin yang hebat. Tubuh manusia yang memproduksi panas tidak kuat mendapatkan serangan dingin yang mencekam.
Syukur dalam kondisi yang sangat
dingin seperti sekarang ini, berdekatan dengan hari raya idul adha, dalam
suasana semacam ini kita sama-sama tahu banyak orang yang ber-qurban. Daging sembelihan
dari sapi dan kambing dibagikan ke masyarakat. Hampir seluruh orang memasak
daging di dapur mereka. Daging disamping mempunyai gizi yang dibutuhkan oleh
tubuh seperti protein, juga mempunyai potensi untuk memberikan rasa hangat pada
tubuh. Ini sangat penting bagi seseorang untuk mengkonsumsi banyak daging di
tengah-tengah fenomena bumi yang kedinginan dengan hebatnya.
Ada banyak cara memasak yang
telah dipraktekkan oleh masyarakat mulai dari dibuat gule, rawon, eseng-eseng,
goreng, campur kecap dan yang tak kalah pentingnya dan harus disebutkan adalah
sate. Daging ditusuk-tusuk direndam dengan bumbu favorit dengan beragam cara
yang asing dan asik, bisa lihat di you tube atau google, tutorial membuat bumbu
sate (masukkan saja key word itu). Lanjut dengan dibakar di atas arang
yang sedang menyala-nyala, dikipas agar apinya tidak mati dan bau semerbaknya
bisa dinikmati terlebih dahulu sambil menanti matangnya daging. Kalau biasanya
bau harum yang sering kita cium adalah bawang goreng. Hari ini kita bisa
mencium daging dan bumbu yang dibakar.
Lanjut diatas pembakaran, anak
milenial akan melakukan aksinya dengan jeprat-jepret dan cekrak-cekrek. Foto sana
dan sini cari angel yang terbaik, seolah kenikmatan sate dapat dirasakan dari
fotonya saja tanpa harus mencicipi. Sudah menjadi keharusan dengan adanya foto.
Di unggah ke beragam media sosial, gak boleh ada yang terlewat. Itu wajib
hukumnya, menurut anak milenial.
Dengan berbagai macam foto sate,
mulai dari ketika masih di cincang kecil-kecil. Ditusuk satu persatu potongan
itu. Dilumuri dengan bumbu tersedap yang diketahui. Dipanggang yang bunyinya nyes
ketika menempel dibesi panas. Sampai ketika telah siap saji untuk disantap
dengan olahan bumbu.
Semua sesi pemotretan mempunyai caption
nya tersendiri, seperti ketika dipanggang diberi lah caption, buh mantap
(sambil diberi emoticon muka dengan air liur yang tumpah), ketika telah
disantap dengan muka belepotan anatara arang, asap dan bumbu susah dibedakan
diberilah caption, jos (emoticonnya jempol beberapa kali) ada
juga yang ketika sate telah siap untuk dibakar kemudian tumpah diatas tanah,
seluruh usahanya mulai dari potong-potong, tusuk-tusuk sia-sia belaka, itu pun
tidak luput dari pemotretan. Dengan gambar sate tumpah di atas tanah diberinya caption,
sakit tapi tidak berdarah.
Pokoknya ada saja dan nemu saja
cara untuk mengabadikan kenangan ber-sate ria dengan bermacam-macam caption yang
unik-unik dan menarik. Yang menjadi pikiran kenapa kalau bakar sate harus difoto.
Semisal bakar sampah, kenapa tidak difoto, hal tersebut kan juga tidak kalah
menariknya dengan bakar daging. Demi kelestarian lingkunga, sampai sekarang
belum ada yang dengan sengaja mengupload hasil bakar sampah dengan caption,
tertib, bersih, indah. Kenapa harus bakar sate yang difoto?
Tegalwangi, 21-07-2021

Post a Comment for "Budaya Anak Milenial: Bakar Sate Harus Difoto"