Revolusi

revolusi

Revolusi

        Ia senantiasa terlihat keren dalam momen-momennya. Tanpa harus mencari definisi yang baku, HOS Cokroaminoto pernah memberikan suatu penjelasan tentangnya, dalam kategori otak-atik matok atau lebih ilmiahnya cocokologi, bahwa revolusi berbeda dengan evolusi, terletak pada huruf pertama yang disisipkan, yaitu “R” yang berarti rakyat. Artinya jika rakyat telah mengambil kendali dalam urusan publik untuk mengambil sendiri atas haknya berupa kesejahteraan dan keadilan, segala bentuk kepercayaan kepada kekuasaan telah pupus maka revolusi sedang berlangsung. 

        Terjadi huru-hara dimana-mana, amarah terhadap dusta yang sedang bertahta menjadi bahan bakar untuk mengobarkan api perjuangan. Jelas berbeda sekali apabila ditempuh melalui jalan evolusioner, para wakil rakyat dan pemegang kuasa masih dipercaya untuk menjalankan mekanisme pemerintahan demi tercapainya baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Dari sinilah panglima revolusi disetiap era nya akan tampak keren secara permanen. Kecuali kalau ia setelah menerima tanggung jawab kekuasaan kemudian menyelewengkannya, sejak saat itu ke-keren-annya akan dicabut dalam ingatan rakyat.

        Kata revolusi akan banyak merujuk kepada satu tokoh di abad ke 19, tidak asing lagi namanya Karl Marx. Ayahnya adalah seorang pengacara, otomatis anaknya pun hendak diarahkan kesana. Entah harus menyebut apa? Apakah bandel atau tidak, apabila tidak menuruti keinginan orang tuanya karena ia memilih jalan sendiri untuk berpikir dibawah pengaruh ide-ide Hegel, ia mewakili sebagai golongan Hegelian sayap kiri. Ia menikah dengan seorang wanita yang bernama Jenny Von Wostphalen dan dihidupinya sang istri itu dengan memberi sepiring cinta, karena jelas sebagai aktivis ia hidup dalam kekurangan. Tetapi untungnya ketika di Prancis Marx berkenalan dengan Fredrick Engel darinya kebutuhan hidup keluarganya dipenuhi.

        Bersama orang ini, Marx mengarang sebuah pamflet yang indah berjudul manifest communis yang terbit pada tahun 1848 Januari, kemudian meletuslah apa yang disebut sebagai revolusi 48, awalnya di Prancis kemudian berlanjut ke Prussia dan Austria. Terdapat kisah menarik yang dituturkan oleh Isaiah Berlin, ia salah seorang pangarang Biografi Karl Marx, bahwa suatu kali ketika ada buruh industri di akhir-akhir menjelang kematiannya, keinginan terakhirnya bukanlah hendak didampingi oleh seorang rohaniawan melainkan ia menginginkan nanti ketika meninggal membawa manifest communis. Begitu dramatis, seolah-olah catatan tersebut telah  merepresentasi perasaan para buruh di kala hidupnya yang terus diperas keringatnya demi menyambung hidup.

           Saat ini apa kabar dengan para revolusioner? Andai saja waktu itu setelah terbesit dalam pikiran Marx tentang kerja-kerja revolusi. Tidak serta merta ia lantas tergesa-gesa meletuskan kejadian di 1848, tetapi lebih dulu bekerja sama dengan Engel dalam arti sungguhan, yaitu menata ekonomi keluarganya. Jelas menderita Jenny, sebagai istrinya dimana dulu ia adalah putri bangsawan semenjak mengucapkan janji suci dengan Marx berubah 360 derajat. Entah apa yang menjadikannya bertahan, rumus psikologi yang telah digunakan dimana ketenangan jiwa mampu menyihir tubuh biologis nya untuk juga tetap tenang. Sebaiknya Marx bekerja lebih dulu dan menyimpan ide revolusi disaku belakangnya. Setelah ia mempunyai sebuah perusahaan raksasa dengan beribu-ribu buruh yang bekerja. Dana yang hendak digelontorkan untuk biaya revolusi sudah cukup maka baru lah diletuskan.

Tetapi sangat disayangkan, ternyata teori Marx bukanlah seperti itu, ia meramalkan bahwa kapitalisme akan runtuh dengan sendirinya tanpa ada pengorganisiran terhadap buruh yang dilakukan dengan cara kesengajaan. Ternyata sampai Marx meninggal dalam kondisi miskin ditandai pelayat hanya berjumlah delapan orang, kapitalisme ternyata tidak runtuh-runtuh. Jadi menyayangkan Marx untuk bekerja supaya ia bisa membiayai revolusi bukanlah jalan ninja yang ia lalui. Itu adalah garis yang ditempuh oleh Lenin, karena ternyata ramalan Marx gagal.

Tindakan Lenin sebenarnya adalah kenyataan yang telah gagal diramalkan oleh Marx, lagi-lagi seandainya Marx tidak perlu membuat ramalan segala. Ia mendahului Lenin untuk mengorganisir buruh tetapi dengan mempunyai biaya yang cukup sampai sukses, apakah komunisme dapat terjadi? Jika memang terjadi apakah berbeda kekejaman di era Lenin lanjut Stalin dan era Marx. Jawaban tersebut terletak pada ideologi komunisme masuk akal atau tidak? Jelas disitu jawabannya. Apabila tidak masuk akal, kemudian terjadi pemaksaan yang cukup hebat agar manusia adalah untuk sistem bukan sistem untuk manusia. Maka tidak ada bedanya antara Marx dan Lenin.

Dalam siklus menuju masyarakat komunis, dimulai dengan komunisme purba, feodalisme, kapitalisme, sosialisme dan baru komunisme. Kalau meminjam jalan ninjanya Hegel, bahwa yang menang adalah yang masuk akal. Maka tidak bisa dipungkiri bahwa kapitalisme adalah pemenang dan ia masuk akal sedangkan dari kapitalisme tidak pernah berubah menjadi sosialisme, komunisme. Toh, negara seperti Rusia yang pernah mendirikan sistem semacam itu jika dibandingkan dengan negara-negara kapitalisme, kontradiksi yang terjadi lebih banyak mana? Jawabannya jelas dalam asas kemanusiaan. Meskipun tetap kita sadari negara yang menggunakan sistem kapitalisme juga mengandung kontradiksi seperti yang telah diresahkan Marx, tetapi seperti yang diutarakan oleh seorang neo-marxis yang bernama Paul Suizi bahwa Marx tidak ada konsep pembangunan. Sesaat sesudah terjadi revolusi bagaimana dengan rencana pembangunan lima tahun, maka tidak ada jawaban.

Dari sistem kapitalisme perlu adanya penahan supaya tidak terlalu nge-gas sampai menimbulkan ketimpangan sosial. Maka tetap dibutuhkan para pejuang revolusioner baru jalanan dengan berbagai kostum sebagai pengendali aktivitas gabungan antara kekuasaan dan korporat. Karena ramalan Marx gagal, sehingga jelas ia tidak mungkin bekerja dan menabung untuk mendanai revolusi. Kejadian tersebut menjadi refleksi bagi para revolusioner muda supaya pekerjaan jalanannya sukses, maka dibutuhkan dana dan ia harus bekerja terlebih dahulu. Pertanyaannya seandainya sudah dalam kondisi ekonomi yang mapan, apakah mereka akan melakukan perjuangan kelas seperti dulu, jelas pertama-tama yang dilawan adalah diri sendiri? Mungkinkah karena enggan untuk melawan diri sendiri kemudian mencari kebenaran alternatif.

Tegalwangi, 08-01-2021      


Post a Comment for "Revolusi"