Cerpen: Pak Tua

 

cerpen pak tua

Pak Tua

Musim hujan tiba ia tetap mengira musim kemarau dengan terik yang menyala-nyala layaknya tungku perapian. Musim kemarau tiba ia menjalaninya seolah dalam musim hujan dengan angin ganas bersiul-siul menyejukkan. Kakinya sekuat baja melangkahi nasib demi nasib untuk mencapai nasib terbaik dihari tuanya. Menyusuri tanah panas dan becek tidak terasa seperti kasur empuk. Terus bergerak menghampiri takdir yang telah disiapkan diujung. Sebagai upaya dan ikhtiyar mengocok dadu.

Orang-orang mengenalnya dengan sebutan pak tua, tidak jelas namanya. Tidak seorangpun yang bertanya sekian waktu ini dan sekian kilo meter yang telah ia tempuh. Entahlah, orang-orang seolah tidak peduli dengannya, untuk namanya saja tidak diketahui apalagi hari-harinya. Orang sekarang memang agak pelit perhatian, apalagi isi kantong. Mereka genggam sendiri, sekalipun hatinya berbisik suatu kebaikan. Nyatanya ego telah mengalahkannya, setan pun tidak perlu kerja keras menggoda orang-orang jenis itu, ia bisa pensiun dini.

Ketika siang menjelma panas luar biasa, matahari berdiri dengan gagahnya persis diatas ubun-ubun kepala. Warna kulitnya berubah nyaris persis seperti tanah, keringat yang bercucuran ditambah sorotan sinar panas tengah hari, menambah silau warna kulit yang telah menyamai warna tanah. Ia tetap saja berjalan menyusuri tanah jalanan yang berdampingan dengan aspal. Dari satu tikungan ke tikungan lain terkadang belok atau bisa jalan lurus, tanpa satu orang pun yang mengenalnya.

Ia mulai pekerjaannnya dengan membawa anyaman bambu yang telah berusia empat puluh lima tahun. Sepertiga usia yang telah dimilikinya sendiri. Sedangkan usia semangatnya adalah dua puluh lima tahun. Semangat muda yang dikaruniakan tuhan kepadanya. Padahal seandainya ia berhenti bekerja dan tinggal di rumah sambil menimang-nimang cucu itu bisa jadi lebih baik untuk dirinya dan hati orang-orang yang melihatnya penuh iba tanpa ada tindakan simpatik.

Pak Tua memilih kerja bersama keahliannya menganyam, berjalan dan menerima hujan atau panas dengan senang tanpa keluh kesah sedikit pun yang keluar dari mulutnya. Sesekali ia berhenti untuk sekedar merebahkan penat bukan resah atau cemas. Dengan merogoh disaku celananya yang telah compang-camping dimakan usia tetapi tidak pernah mengancam semangatnya dalam menjalani hidup dengan suka cita.

Mengambil bungkusan plastik, yang didalamnya telah disiapkan tembakau, cengkeh, kertas dan korek api.  Ia atur sendiri, gulung sendiri dan membakarnya. Asap keluar bersama dengan penat yang telah dihimpun sejauh dan selama perjalanan yang telah ditempuh. Hilang seketika bersama hembusan asap. Seperti asap itu pula lah penat yang ia miliki hancur di udara bersatu dan menghilang.

Selesai dengan penat yang dimiliki ia lantas kembali menjalani hari dengan bambu dipundaknya dan anyaman bambu yang telah digulung rapi di kedua ujungnya. Tidak berkata sedikitpun, karena orang-orang akan langsung mengerti kalau pak tua adalah orang yang menjemput takdir dengan menjual anyaman bambu. Ia tidak meninggalkan jejak, karena namanya pun tidak diketahui, kecuali cucuran keringat yang membanjiri sepanjang jalan.

Orang-orang akan mengetahui ketika musim kemarau, apabila emperan rumah mereka yang menyambung dengan aspal telah basah, seola ada pipa air yang bocor. Itu adalah tetesan keringat dari pak tua pembawa anyaman bambu yang sedang mengajarkan arti semangat hidup tidak dengan kata-kata lagi, melainkan dengan perbuatan. Tidak dengan bahasa manusia dalam berbicara melainkan dengan tindakan yang bisa dipikirkan oleh mereka yang mau menggunakan akal pikirannya. Bahwa semangat adalah milik kita sebagai manusia dan takdir adalah milik Tuhan.

Kala hari telah beranjak gelap, cucuran keringatnya telah hampir habis diterima bumi dengan ikhlas. Pak Tua terus saja bergerak tidak sekedar asal capek, kecuali kalau memang benar-benar kecapekan mendera tubuhnya tidak semangatnya. Sekali lagi ia akan meneguk air dalam kemasan yang diambil dari sumur belakang rumahnya. Menghembuskan asap berkali-kali dari rokong yang ia gulung sendiri. Hanya itu tidak ada kata-kata kecuali menjawab orang yang menyapa.

Orang-orang yang tadi siang melihatnya dipinggiran jalan, ketika malam tiba mereka pun masih melihatnya dengan kegagahan yang sama. Membawa anyaman bambu yang telah di anyam sendiri. Beberapa orang pedagang kaki lima mmenaruh iba, sebagai sesama pejuang jalanannya mereka memahami betul betapa kerasnya hiidup lebih keras dari aspal yang dibangun oleh pemerintah. Maka mereka memberikan barang dagangannya, mulai dari nasi, es teh, jajanan dan sebagainya meramaikan bambu pak tua.

Ia menerima tetapi tidak meminta. Bahkan untuk belas kasih pun ia tidak mengharap apalagi hanya makanan. Perutnya telah di ikat sekencang-kencangnya ketika lapar menghampiri dan bekal dari rumah telah habis berubah mencajadi tenaga dan cucuran keringat. Sampai malam pun ketika pedagang kaki lima mulai mengangkuti barang dagangannya untuk pulang, Pak Tua sendiri juga hendak pulang memang tujuan perjalanannya adalah dari rumah dan pergi ke rumah. Untung-untung kalau malam gelap menyelimuti ada satu atau dua lembar anyaman bambunya telah terbeli. Jika tidak maka ia akan mengulangi langkahnya esok ketika matahari mengawali sinarnya pada suatu hari.

Di suatu malam di sekian harinya pak tua memikul barang dagangannya dengan tenaga yang berasal dari semangat yang dimiliki. Seseorang yang memakai jaket dan berkendara sepedah motor tiba-tiba berhenti dan berkata “Pak ini sedekah saya”, “oh iya terimakasih nak”, jawab pak tua. “nama bapak siapa dan rumahnya dimana?”, tanggap anak tersebut, “nama saya Misjo, rumah saya di depan sana” sambil menunjuk ke arah gelap dimana rumahnya terletak, “perempatan belok kanan, sudah dekat dari sini”, “oh iya pak, mari saya duluan” orang tersebut pamit dan pergi.

Ah orang itu, apa ia pikir telah membantu pak tua dengan memberinya sedekah. Ditakutkan ia telah menggores hati pak tua dengan cara mengasihaninya. Sekalipun ia telah tua dan layak menerimanya, bisa dimungkinkan harga dirinya lebih tinggi, sedangkan hal itu tidak akan pernah dilihat oleh siapapun orang didunia ini. Bahkan orang yang paling berharga dengan baju kebesarannya pun belum tentu mempunyai harga diri yang lebih tinggi dan besar daripada gunung, bisa jadi pak tua ini memilikinya. Orang kurang pikir membantu dengan sedekah tetapi tidak berpikir dengan cara lain seperti membeli barang dagangannya.

 

Tegalwangi, 18-07-2021

Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Cerpen: Pak Tua"