Bisma Yang Agung: Hatinya Luas Tak Bertepi, Cintanya Dalam Tak Terajuk

 

Judul film         : Mahabharata

Episode            : Episode 1 (40 menit pertama)

Tahun rilis        : 16 September 2013

Sutradara          : Siddharth Anand Kumar, Amarprith G, S Chawda, Kamal Monga dan Loknath Pandey

Produser           : Siddharth Kumar Tewary

Berdasarkan    : Mahabharata

Genre               : Drama Mitologi 

Bisma Yang Agung: Hatinya Luas Tak Bertepi, Cintanya Dalam Tak Terajuk

Cerita dimulai dengan perjalanan perahu sang raja Astinapura yang mulia Sentanu bersama kekasihnya Satyawati di atas aliran sebuah sungai panjang, bening dan tenang. Getaran diatas sepertinya tidak kentara, karena ada lebih bergetar, yaitu percakapan dari keduanya membahas tentang dua tema sederhana dengan cara bahasa yang rumit, kedamaian dan keinginan.

Terdapat sebuah tempat yang menguji bentuk keinginan. Dalam hal ini diperlihatkan langsung oleh Satyawati. melihat ikan besar di sungai, jiwanya sebagai anak nelayan memanggil. Bukan profesinya mencari ikan, melainkan daya tahannya dalam mewujudkan keinginan itulah yang ia tampilkan di hadapan sang raja. Tampak dari watak Satyawati bahwa ia menerima tujuan dari pengetahuan, yaitu gembelengan mental agar tetap kokoh seperti bebatuan yang mengelilingi sekeliling sungai, tak tergoyah jika hanya sekadar ragam bentuk arus.

Tangannya bersimbah darah memegang tambang, sekali merasa tidak kuat ia lilitkan disekitar perut sedangkan didalam dadanya masih membara seonggok api abadi yang berkobar tiada henti. Beberapa kali Sentanu merasa cemas kepada Satyawati yang ia sendiri merasa percaya diri. Dan, akhirnya seekor ikan besar pun berhasil tertangkap. Sebagai wujud keras keinginan Satyawati.

Dilain segmen, Iblis Hida menyerang dengan ganasnya pemukiman warga yang menjadi wilayah kekuasaan Sentanu. Sampai muncul seorang ksatria mandraguna, dengan sebilah busur besar digenggamannya, satu dua anak panah terlepas dari tangannya merengsek menembus pekat pagi hingga menancap ke tubuh sasarannya, beberapa iblis mati bergelimpangan. Seorang anak kecil yang lari dari kejaran kapak berhasil ia selamatkan, dengan mengadu anak panahnya. Namanya Dewabrata dengan sendirinya mampu menghalau kekejaman tersebut.

Raja Sentanu sendiri datang terlalu lambat, seluruh masalah telah selesai. Sentanu dan Dewabrata bercakap-cakap dengan nada yg cukup runcing, sampai kemudian Dewabrata menampilkan kemampuan dari ilmu kependekarannya, menghentikan aliran sungai Gangga dengan anak panah yang ia gunakan untuk memukul mundur si Iblis.

Sentanu terpesona, ia pun mulai bertanya tentang jati dirinya. Tiba-tiba seorang wanita muncul dari air sungai Gangga yg berhenti mengalir, ia adalah Dewi Gangga, ibu dari Dewabrata dan istri dari Sentanu. Percakapan keluarga pun dimulai.

Pada alur 40 menit pertama ini, cerita menuai konflik setelah Dewabrata dinobatkan sebagai pangeran pewaris tahta kerajaan Astinapura. Satyawati yg menjadi calon ratu tidak terima dengan dalih penerus tahta kerajaan akan berasal dari darah Dewabrata bukan dari anak-anak nya. Ia mengajukan pilihan kepada Sentanu, antara hidup bersamanya sebagai nelayan dikampung atau di istana yang mana anak-anak nya harus jadi pewaris tahta.

Sentanu mengalami dilema besar antara cintanya dan anaknya, Dewabrata. Akhirnya Dewabrata mengetahui persoalan yang menimpa ayahnya sehingga ia mengambil satu keputusan berat dengan mengikrarkan sebuah sumpah. Yang berisi, ringkasnya, bahwa ia akan menjadi pelayan kerajaan Astinapura, termasuk kepada pewarisnya yang bukan dirinya melainkan dari anak-anak Satyawati. Ia juga tidak akan menikah agar tidak ada perebutan kekuasaan antara sesama sepupu.

Kita pernah dengar, orang bilang cinta itu menguatkan. Sepertinya itu bukan kata-kata, tetapi hanya siulan angin. Melihat kondisi Sentanu raja Astinapura yang perkasa mengalami dilema antara keinginan Satyawati dan penobatan  Dewabrata sebagai raja. Dimana ia harus memilih salah satunya saja, karena menjadi persyaratan yang diajukan oleh putri nelayan itu. Harusnya Sentanu segera mengambil sikap, ia lambat dalam hal tersebut. Sehingga anaknya dari Dewi Gangga lebih dahulu memutuskan takdir ayahnya. Seorang raja padahal haram baginya untuk bersikap sebagai peragu dan bimbang di segala wujud kondisi, ternyata setelah ia dihantam badai cinta justru tampak terkoyak bagai pelampung yang tak berarah dan bertuju. Sentanu hatinya yang rapuh, tidak dapat beregerak lebih cepat sedangkan dalam hatinya tiap detik adalah satu sayatan pedang.

Dilain sisi kita melihat egoisme dari seorang wanita bernama Satyawati, keinginan kuat agar harga dirinya dan anak keturunannya berada diatas singgasana, agar seluruh orang ketika melihhatnya akan senantiasa mendongakkan kepala,  sebagaimana kuatnya keinginan untuk memperoleh ikan besar disungai hingga tangannya berdarah-darah hari keinginannya pula mengalirkan darah didalam hati Sentanu.

Kalau boleh bertanya, cinta macam apa itu? Yang semestinya menguatkan justru mengkoyak-koyak. Yang semestinya melengkapi justru berpikir untuk dirinya sendiri. Kita boleh berpikir bahwa sebenarnya diantara keduanya tidak pernah ada rasa cinta dalam bentuknya paling awam dan dangkal sekalipun, apalagi dalam bentuknya yang sejati. Akhirnya Dewabrata lah sebenarnya korban dari kepalsuan cinta tersebut atau lebih tepatnya ia menumbalkan dirinya demi kebahagiaan sang ayah tercinta. Bukan main pengorbanan yang ia berikan, sepanjang hidupnya, yang oleh Satyawati ditolak dengan keras karena dalih kehormatan anak turunnya justru diambil dengan ikhlas oleh putra Dewi Gangga, yaitu sebagai pelayan pewaris istana, bukan sebagai raja.

Untuk menyebut moral Dewabrata saya ingin meminjam sepenggal dari puisi Buya Hamka yang berjudul "Hanya" bahwa dia Dewabrata memiliki "hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk". Akibat tindakan nya tersebut ia mendapat anugrah dari ayahnya, berupa kemampuan untuk dapat mati jika ia sendiri yang menginginkannya. Setelah itu namanya berubah menjadi Bisma dan nama itu pula yang lebih populer dari nama sebelumnya

Tidak sekedar namanya saja, ketrampilan, kebijaksanaan dan kependekarannya menggema tidak hanya di wilayah kekuasaan Astinapura melainkan diseluruh pelosok negeri-negeri. Tidak ada pendekar atau ksatria yang tidak mengenal murid dari Begawan Parasurama, Bisma yang agung. ia lebih agung ketimbang Alexander yang agung, yang hanya melakukan ekspansi negeri-negeri bukan jiwa.

Tegalwangi, 01-09-2021

Post a Comment for "Bisma Yang Agung: Hatinya Luas Tak Bertepi, Cintanya Dalam Tak Terajuk"