Imajinasi dan Film

 


Imajinasi dan Film

Sedikit saja orang yang sering menonton film, tetapi sangat banyak yang menyukainya. Tidak hanya karena sebagai hiburan ditengah-tengah sesak dan himpitan berbagai kesibukan bagi pegawai, pekerja dan karyawan atau rutinitas seperti emak-emak ketika tengah bersantai ria atau bisa juga memang hobi berat seperti dikalangan siswa dan mahasiswa.

Tidak lain karena menonton film juga menjadi wahana mengembarakan imajinasi, selain merilekskan syaraf-syaraf yang tegang. Seseorang yang menonton sebuah film akan dimanjakan dengan hal-hal yang ingin sebenarnya dicapai didunia nyata, tetapi tidak tergapai karena sebab yang terlalu banyak dari kemampuan atau bisa juga karena memang didunia nyata tidak pernah tersedia hal-hal yang dibayangkan. Melalui film imajinasi seseorang akan diperbanyak, diperluas dan dibiarkan liar. Bertambah banyak film yang ditonton akan semakin liar pula.

Dari sekian banyak genre, seseorang dari beragam status akan cenderung mempunyai pilihannya sendiri-sendiri, tergantung tema yang diinginkan. Ini berarti, ia akan berimajinasi berdasarkan apa yang disukai lantas menjadi apa yang dinginkan untuk terkabul. Ambil saja contoh generasi milenial sekarang, mayoritas yang nampak dipermukaan tiada lain adalah mereka yang menyukai film drama korea, jelas saja genrenya adalah romance.

Pikir-pikir beredarnya film korea sebagai kegemaran ternyata mendukung keberadaan skincare dan krim-krim pemutih, saya tidak bisa menyebutkan merk dan macam-macamnya dikarenakan memang bukan pakar dalam hal tersebut, mengingat pemeran aktor dan aktris dari film korea orangnya putih-putih sejak dalam kandungan.

Perawakan aktornya tinggi, putih, tegap, dada bidang, tidak menonjolkan otot, ramping, rambut lurus hitam terkadang ada juga yang diberi pewarna, wajah cerah dan friendly. Sedangkan untuk aktrisnya tinggi, putih, rambut menjuntai panjang sebagian bergelombang,  langsing, hidung dan bibir tampak mungil dan mata menawan. Yang harus diberi garis bawah adalah kepada putihnya.

Tanpa harus usut-mengusut apakah sebenarnya film adalah strategi dagang alat kosmetik atau tidak? Entahlah, tetapi kebenarannya adalah bahwa alat kosmetik yang kita kenal hari-hari ini ternyata berkontribusi kepada mereka yang gemar menonton drama korea untuk mewujudkan imajinasinya menjadi putih dan kinclong. Sebenarnya sudah dari dulu kalau orang ganteng salah satu syaratnya, meskipun bukan mutlak, adalah harus putih. Sekarang diperbarui lagi konsep ganteng dan cantik, yaitu harus putih seperti aktor atau aktris korea. Ini salah satu kondisi jajaran penggemar film dimasa sekarang yang mempunyai anggota terbanyak. Dan, perlu ditekankan mereka yang tergolong penikmat film korea sesungguhnya menyukai drama tersebut bukan sebab alur cerita dan pesan yang terkandung melainkan suka dengan pemainnya.

Lain lagi, apabila kegemaran seseorang adalah film bertemakan keadilan, nilai moral, cinta tanah air dan persoalan pemerintahan. Beberapa golongan yang menyukai terbilang dalam hitungan jari, sedikit sekali. Kalau ada orang yang menontonnya itu bisa dikarenakan ketidak sengajaan atau iseng saja, dari pada tidak ada yang ditonton. Khusus bagi yang menekuni hanya sekitar satu dari sepuluh orang. Karena biasanya terdapat percakapan yang panjang-panjang dan menguras pikiran, menjadikan syaraf otak menegang. Ini salah satu alasan yang menjadikan bosan. Menunjukkan kalau sedikit orang yang suka berfikir.

Bekas yang menempel dalam ingatan kemudian menjadi bahan imajinasi sangatlah berguna dalam keberlangsungan proses sebagai manusia, sebab film semacam itu biasanya direka dari kenyataan, entah mendapat sedikit atau banyak sentuhan dalam spekulasi, yang pasti ada katerlibatan sebuah peristiwa. Film sejenis ini akan mengajarkan kepada penontonnya untuk berpihak ke satu sudut, pastinya pihak Pandawa bukan Kurawa, pihak Rama bukan Rahwana, sekalipun tokoh utamanya adalah antagonis. Penonton setelah menyelesaikan film akan merasa mendapatkan kekuatan yang tidak pernah dirasakan pernah menghimpunnya. Salah satu kelebihan saja sebetulnya, yang lainnya bisa rasakan sendiri.

Dari sekian banyak film yang telah diproduksi di Indonesia yang tidak pernah mengecewakan penonton adalah film dalam genre komedi yang benar-benar diniatkan sebagai bahan tertawaan, bukan setengah-setengah, seperti horor kemudian diselipkan beberapa adegan lucu. Tidak seperti itu, tetapi seperti film-film yang dibintangi oleh alumni stand up comedy. Jadi memang benar-benar sesuai harapan, yaitu tertawa.

Kalau dibandingkan dengan Mr. Bean, memang sama-sama membuat tertawa, tetapi film tersebut lebih cenderung bersikap bodoh agar ditertawai, mengada-adakannya berlebihan, orang yang menonton lantas ketawa, seolah ia sebelum menonton memang telah menyiapkan tertawanya. Kelucuan jelas bukan berasal dari cara seperti itu, melainkan berwujud dari sesuatu yang direspon oleh pikiran seketika sebagai hal yang menggugah rasa ingin tertawa.

Secara tidak langsung film komedi garapan Indonesia mengajarkan kepada penontonnya juga untuk bersikap cerdas dalam candaannya dengan logika dan alur berpikir, bukan dengan cara menertawakan diri sendiri. Disinilah sepertinya kelebihan film Indonesia. Ada pada genre komedi, untuk yang lainnya sepertinya lewat masih. Apalagi yang berbau sains fiksi.

Untuk sains fiksi, genre ini menarik karena menempatkan posisinya sebagai masa depan umat manusia dengan cara keterlaluan. Bahkan kadang terlalu terdepan dimana manusia sepertinya tidak akan mencapai masa itu atau karena memang akal manusia tidak akan bisa menggarapanya dalam dunia nyata. Jadi genre seperti ini terbentuk memang dari imajinasi atas bahan-bahan hari ini yang kemudian dikembangkan ke masa depan sangat terdepan. Kalau mereka yang ingi melihat sainsnya saja supaya tidak ngelantur dengan fiksinya, bisa saja menonton film biografi Albert Einstein dan Stephen Hawkinng, dan siap-siap untuk bosan.

Penonton yang tidak terlalu banyak terlibat dalam dunia nyata tetapi dalam ruang megah imajinasinya akan sangat suka dengan film genre sains fiksi ini. Tetapi bagi mereka yang tidak demikian, akan menganggapnya tidak berguna, itu karena dunia nyata akan menghancurkan dunia fiksi. Orang yang tahu bahwa akan hancur imajinasinya, menganggap sesuatu yang bisa dihancurkan tidaklah berguna.

Hal yang perlu diperhatikan adalah ternyata seluruh imajinasi kita yang didapat dalam film bergenre apapun sebenarnya akan mendapatkan banyak kehancuran setelah dihadapkan ke dunia nyata dan hanya menyisakan beberapa puing saja yang tertinggal. Tetapi masih ada gunanya imajinasi yang tidak berguna di dunia nyata itu, yaitu untuk berspekulasi akan sesuatu yang belum terjadi, semacam prediksi. Jika benar kan untung, jika salah sebenarnya ia telah hancur lebih dulu, karena tidak diterima oleh kenyataan. Hal yang tidak pernah dianggap ada berarti tidak mempunyai hak untuk dipersalahkan.

Tegalwangi, 29-08-2021  

Post a Comment for "Imajinasi dan Film"