Jangan Ada Sengkuni Diantara Kita
Kerajaan
Gandara ketakutan bukan main, dari jarak sejauh mata memandang terlihat seperti
buih dilautan. Sudah tidak karuan jumlahnya, mengira mereka akan diserang, para
prajurit dipenuhi rasa gelisah. Panglima menghadap kepada sang Raja untuk
mendengarkan keputusan, antara menyerang atau
menyerah. Tidak lama berselang, seorang utusan dari pihak lawan, yang
mana adalah pucuk pimpinannya sendiri, mendatangi istana untuk mengadakan kesepakatan.
Dia adalah Bisma Dewabrata putra Dewi Gangga dengan Prabu Sentanu. Raja Gandara
mengira Bisma akan mengajukan tawaran, seandainya ditolak perang pasti terjadi.
Ternyata perkiraannya salah, Bisma justru datang hendak melamar Putri Gandari
anak dari Raja Gandara untuk dipersunting oleh Pangeran Astina, yaitu
Destrarastra. Sebenarnya Raja Gandara bingung untuk mengatakan “iya” tetapi
dikarenakan melihat pasukan yang begitu terpaksa ia menyetujuinya. Kebingungan
itu terjadi dikarenakan, Raja Gandara mengetahui kalau Pangeran Destrarastra adalah
seorang yang mempunyai kebutaan sejak lahir. Lagi-lagi mengingat pasukan yang
begitu besar ia terpaksa mengatakan “iya”.
Berita
tersebut didengar oleh sang kakak dari Dewi Gandari, yaitu Sengkuni yang pada
waktu itu ia sedang berburu. Serta merta ia menolak dan marah begitu saja
kepada ayahandanya sang raja. Kemarahan Sengkuni berasal dari ketidak
setujuannya apabila adiknya dijodohkan dengan Pangeran Destrarastra. Persis
sama seperti ayahnya yang ragu dan bingung,
hanya saja Sengkuni lebih menunjukkan secara langsung dengan kemarahan, tanpa
mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila menolak.
Dewi Gandari yang awalnya bersuka cita karena sebentar lagi ia akan menjadi
seorang ratu astina mengetahui bahwa sang Pangeran adalah seorang yang buta, ia
selanjutnya memutuskan untuk menutup matanya dalam bentuk sumpah untuk tidak
akan membuka penutup itu.
Setelah
pernikahan antara Destarastra dan Dewi Gandari, akan dilanjutkan penobatan
sebagai raja Astina. Tetapi
ditengah-tengah acara pelantikan , perdana menteri Widura tiba-tiba menolak
apabila Destrarastra yang menjadi raja. Alasannya didasarkan pada kebutaan
yang dimiliki oleh sang pangeran sejak
lahir sehingga menghasilkan pertimbangan ini dan itu. Sontak terjadi kehebohan
dan selesai dengan kesimpulan bahwa Pandu lah yang dinobatkan sebagai raja.
Meradang dan marah sekali Sengkuni karena adiknya gagal menjadi ratu sekaligus
penghinaan yang berat bagi bangsanya akibat kejadian tersebut, karena keluarga
dari kerajaan Gandara telah dipermalukan oleh kerajaan Astina. Sakit hati yang
berulang-ulang seolah api yang telah berubah menjadi batu dan bersemayam dihati
Sengkuni terus hidup tak kunjung padam.
Pribadi
Sengkuni adalah seorang yang cerdik, pandai mengatur siasat untuk menjebak lawan,
seorang Raja Gandara sekaligus menjadi raja tega. Tetapi pekerjaannya hanya
menjadi seorang ahli hasut, pakar tipu-menipu, provokator yang ulung, seorang
yang membisik-bisikan suatu inisiatif jahat didalam dada manusia (yuwaswisu
fi sudhurinnas). Sayangnya hanya itu pekerjaan Sengkuni. Ia bukan pembunuh
atau penjahat yang bengis. Sekalipun didalam hatinya terdapat dendam dan sakit
hati yang dalam , ia tidak berusaha untuk melampiaskannya dengan cara yang
licik, padahal dalam hal tersebut ia sangatlah berpotensi. Sengkuni sendiri
juga tidak ada ambisi untuk menguasai kerajaan Astina, menjadi seorang Raja.
Bahkan ia hanya memperjuangkan keponakannya yang bernama Duryudana untuk
menjadi Raja selanjutnya dan menghalau kemungkinan apabila kerajaan Astina akan
diduduki oleh Pandawa, para anak-anak Pandu. Seandainya Duryudana menjadi Raja
barangkali ia hanya akan diangkat menjadi seorang perdana menteri.
Sosok
Sengkuni digambarkan sebagai tokoh antagonis. Ia berbicara dan bergerak sehari
semalam untuk menghasut para Kurawa.
Nama Sengkuni adalah nama dari satu
tokoh yang hidup pada cerita Mahabharata dan berakhir nama dari orang pada
perang Bharatayudha. Ia senantiasa mengakumulasi kekuatan dari berbagai cara
untuk menghasilkan kebenaran. Seandainya pada perang tersebut pihaknya lah yang
menang maka sejarah akan berbicara lain. Seperti kaidah yang berbunyi “sejarah
adalah milik pemenang”. Seluruh narasi sejarah akan ditulis demi kepentingan
dari pemenang. Kondisi apapun yang dikenang adalah kebaikan dari pemenang.
Seandainya Sengkuni yang menang maka namanya akan terdengar harum sepanjang
sejarah.
Setelah
perang Bharatayudha nama Sengkuni tidaklah berakhir. Yang berakhir adalah tubuh
fisiknya. Sedangkan namanya menjadi
abadi dan menyejarah sebagai suatu identitas dari bisik-bisik akan hasrat untuk
menang dan berkuasa dengan berbagai cara. Ia adalah bagian dari yuwaswisu fi
shudurinnas yang golongan manusia. Nama Sengkuni akan dilekatkan pada
mereka entah golongan atau perseorangan yang selalu memprovokasi untuk meraih
tujuan dengan secara benar atau dibenar-benarkan dengan mencari kebenaran
alternatif dari berbagai sudut pandang. Bisik-bisik itu disampaikan ke telinga dan akan didengarkan sendiri oleh
nafsu untuk bergerak. Maka ada pentingnya seseorang untuk mengekang nafsu
supaya ketika Sengkuni datang ia tidak berfaidah untuk menimbulkan gejolak.
Selain itu atas nama persahabatan agar tetap terjalin dengan erat maka
berhati-hatilah dengan para Sengkuni, bisa jadi ia berada disekitar kita.
Waspadalah. Apalagi yang sengkuni adalah kita sendiri atau salah satu bagian
dari diri kita.
Tegalwangi, 02-12-2020

Post a Comment for "Jangan Ada Sengkuni Diantara Kita"