Manusia

 

AKU INI

Manusia

Beberapa tempo yang telah lalu, saya bermain dibelakang rumah sekedar melihat kondisi hewan peliharaan, yaitu ayam, apakah mereka masih dalam keadaan baik-baik saja atau entah bagaimana. Soalnya apabila ditinjau dari segi bisnis, beternak dengan memelihara hewan, dengan apapun jenisnya adalah hal yang rumit dan tidak mendapat kepastian apa pun tentang nasibnya di masa yang akan datang. Dikarenakan hanya satu alasan ialah masalah nyawa. Sehingga beternak artinya mengupayakan agar nyawa-nyawa dari hewan tersebut tetap berada dalam tubuh biologisnya sampai dewasa dapat dipanen.

Masalahnya saya sendiri sebagai manusia, dan selain saya sebagai manusia, juga mempunyai kesamaan dengan hewan yang terletak pada genusnya selanjut nya yang menjadikan berbeda, semisal perbedaan saya dengan sapi, kambing, serigala, ikan dan sebagainya adalah terletak pada anugrah yang diberikan Tuhan yaitu akal yang digunakan untuk berpikir. Semakin menggunakan pikiran secara maksimal itu berarti semakin menjauhi titik kesamaan dari hewan dan menuju kepada bentuk manusia yang benar-benar manusia. Oleh karena itu manusia didefinisikan sebagai hewan yang berfikir. Definisi yang sangat kuno sekali dan diulang-ulang berkali-kali.

Sebenarnya bukan perbedaan ini yang hendak dikemukakan. Toh, persoalan semacam ini sudah teramat klise sebagai pengetahuan tentang perbedaan antara manusia dan hewan. Sekalipun aktualisasinya terkadang mengalami pasang surut atau bahkan mengalami degradasi, jadi secara esensi manusia terlihat berbeda dengan hewan tetapi juga terkadang menampilkan kesamaan. Rasa syukur karena saya tidak diciptakan oleh Tuhan sebagai ayam atau kadal, biawak dan hewan-hewan lain. Seandainya Tuhan menghendaki saya dulu sebagai hewan, maka apalah daya untuk menolak dan seandainya hal tersebut berlangsung maka sebagai ayam (dengan kemampuan tanpa pikiran untuk melakukan pertimbangan), saya akan mengalami ketergantungan setiap pagi untuk menunggu diberikan pakan. Bahkan konsep “menunggu” pun hewan tidak akan pernah faham, sehingga ia tidak akan bisa mengira kapan makanan yang ia butuhkan akan datang dan bagaimana untuk persediaan esok hari, karena yang dirasakan dengan menggunakan daya peka nya adalah sekedar untuk hari ini saja.

Tetapi tidak untuk manusia, ia berfikir hari ini merencanakan dihari ini untuk jangka waktu beberapa tahun mendatang. Bekerja hari ini untuk persediaan makanan beberapa hari lagi. Belum tentang persoalan rumit yang lain mulai dari kedit sepedah, rumah hingga investasi dari kekayaannya. Sebagai makhluk yang kompleks dengan dengan kemampuan untuk memberikan pertimbangan atas segala problematika kehidupan, menakar untung rugi dari setiap kejadian, menyimpulkan suatu solusi terbaik atas setiap masalah. Hal ini lah yang tidak dimiliki oleh hewan. Meskipun begitu, ternyata manusia tidak bisa mengendalikan takdir yang terjadi terhadap dirinya. Semisal contoh, tatkala saya bersyukur karena telah menjadi manusia daripada menjadi ayam, dengan resiko akan disembelih apabila jadi ayam. Sebenarnya saya sendiri juga tidak bisa menolak untuk menjadi manusia atau bahkan jadi manusia yang seperti apa. Oleh karena itu manusia sedang mengalami keterlemparan secara berulang dan abadi dalam kehidupan di dunia ini atau dalam eksistensinya dalam tubuh atau pun dalam jiwa.

Apabila dikaji secara mendasar, sepertinya akan meruncing kepada masalah teologi, yaitu membawa kepada pertanyaan apakah manusia adalah subjek bebas atau tidak dan apakah Tuhan mengendalikan manusia layaknya boneka atau apakah manusia setelah diciptakan dianugrahi kebebasan tanpa adanya intervensi Tuhan sebagai kosekuensi logis dari adanya akal yang menyertainya. Mengenai permasalahan ini sudah dapat kita ketahui dan telah tuntas perdebatan nya dalam ilmu kalam atau teologi islam. Mulai dari sekte Jabbariyah, Qadariyah, Muktazilah dan Ahlussunnah wal Jamaah yang tercermin dalam pikiran nya Al-Asy’ary dan Al-Maturidi. Pikiran-pikiran tersebut masih eksis dalam tiap-tiap individu yang sangat sulit untuk diidentifikasi karena masalah tersebut adalah sangat pribadi sebagai tingkahnya hati.

Keluar dari perdebatan dalam kajian ilmu kalam atau teologi tentang kehendak manusia dan kehendak tuhan serta relasi dari keduanya. Seperti yang telah disebut bahwa manusia mengalami keterlemparan didunia ini tetapi juga manusia adalah keterbatasan dihadapan keterbatasan. Segala perencanaan yang dilakukan oleh manusia bisa menjadi sia-sia sekalipun sudah dalam penanganan yang matang, sehingga tidak ada sedikitpun keberpihakan keadaan terhadap manusia itu sendiri. Juga sebaliknya, sesuatu yang tidak direncanakan bisa jadi keadaan menunjukkan keberpikan kepada si manusia itu.

Manusia akan dan semestinya berupaya mengutuhkan dirinya dengan sesuatu yang tidak utuh didalam dirinya. Dengan begitu ia akan menjadi subjek yang sadar. Maksudnya begini, ketika ia lahir dalam keadaan hampa seluruhnya. Kemudian sedikit demi sedikit belajar yang berarti meniru selanjutnya mengembangkan hasil pembelajarannya, yaitu dari apa pun yang diketahui selama itu. Setelah dianggap sanggup mengepakkan sayap bisa jadi ia akan terbang menukik ke langit, tetapi bisa jadi pula ia akan senantiasa meminta dan menerima bantuan untuk terbang padahal selama ini telah mengikuti proses pembelajaran. Entah apa sebab yang menjadikan nya kurang yakin dengan apa yang telah diterima, karena tidak mungkin selamanya untuk terus membebek. Bagi yang telah mampu mengepak kan sayap ia dapat bertanya, semisal aku ini?, aku berada di...?, aku harus....? terus dengan aktifitas mengidentifikasi diri sampai merasa sadar dengan dirinya dan tujuan atau langkah nya harus menuju kemana. Minimal mampu mendengarkan hati nurani, semisal saat ada PEMILU atau pemilihan yang lain, guna nya untuk memilih mana calon yang paling berintegirtas dengan referensi nurani tadi.

Sesudah menjadi Subjek sadar didalam dirinya kemudian suatu waktu akan bertemu dengan subjek sadar diluar dirinya. Tinggal memilih apakah hendak mengeksploitasi yang lain atau kah berkolaborasi. Menjadikan yang lain semata-mata sebagai objek atau membiarkan nya untuk tetap menjadi subjek. Setidak nya saya tidak menjadi seperti ayam  dipekarangan belakang rumah atau hewan lain nya yang senantiasa selalu menjadi objek.

Tegalwangi, 2019

 

 

Post a Comment for "Manusia"