Singa, Unta dan Bayinya Nietzsche

 

ubermensch

Singa, Unta dan Bayinya Nietzsche

Kita harus segera sadar, bahwa hewan tidak sekedar makhluk yang tumbuh, bergerak dan berinsting. Karena sifat-sifat tersebut hanya berguna bagi dirinya si binatang untuk melangsungkan kehidupannya. Sedangkan bagi manusia sebagai “hayawan natiq” diberikan beberapa opsi mulai dari merawat, sebatas memelihara, mengambil manfaat, mengeksploitasi. Untuk perlakuan yang jarang dilakukan oleh manusia adalah bercermin dengan menggunakan sapi, singa, serigala, kelinci dan seterusnya bisa diperpanjang sendiri daftar nama-nama binatang. Bila wayang dijadikan sebagai gambaran dari perwujudan manusia di alam dunia dengan segala sifat dan wataknya. Maka sesungguhnya binatang pun juga demikian, adalah replika paling sejati dari beragam karakter manusia.

Tidak perlu berimajinasi terlalu jauh sampai kemudian seperti George Orwell mengarang novel animal farm, yang dengan sorot pikirannya melihat manusia bisa ia rangkai dalam cerita peternakan. Ada babi, anjing, ayam, sapi dan sebagainya sebagai representasi dari sikap manusia. Para binatang adalah sisi lain dari jiwa manusia, hanya saja secara naluriah mereka permanen. Tidak ada ceritanya kambing atau domba mempunyai inisiatif untuk menjadi karnivora, berubah agresif  begitu juga dengan panda ia menjadi rajin menghentikan kemalasannya dengan mengurangi waktu tidurnya, serigala insaf untuk tidak mencari domba yang kehilangan rombongannya bahkan justru mengawaninya sampai bertemu kembali dengan para rombongan.

Berbeda sekali dengan manusia, bisa jadi pagi ia adalah king cobra yang memangsa sesama jenisnya kemudian siang sudah menjadi semut yang suka bergotong royong. Bisa pula dalam urusan asmara, seorang manusia adalah layaknya buaya untuk laki-laki dan ular untuk perempuan tetapi juga bisa menjadi angsa yang menjadikan pasangannya sebagai satu-satunya, satu hati sampai mati. Dalam birokrasi kerap kita lihat, pimpinan kita bisa berwatak sebagai seekor lebah madu dengan kehadirannya memberikan manfaat, tikus dengan pencalonannya mampu membelokkan anggaran, atau bisa pula merak yang suka pamer-pamer keanggunan dalam retorika, penampilan dimedia sosial, tetapi kerjanya nol. Sebab yang dibutuhkan rakyat adalah gerak perubahan bukan gerakan lidah dan mode pakaian untuk di contoh. Bahkan sudah familiar ditelinga kita bahwa anggota legislatif adalah anjing pengawas (watchdog) untuk eksekutif, dimana tugasnya adalah menggonggongi. Hal itu sudah menjadi jelas kiranya bahwa didalam budaya binatang juga mengandung budaya manusia. Tinggal manusia memilih untuk menjadi apa?

Manusia mempunyai kendali untuk itu semua. Tidak serta merta ia adalah anjing, kuda, katak dan segala jenis reptil atau mamalia. Kembali ia diharapkan untuk memilih menggunakan kejiwaan hewan apa dalam sebuah kondisi dan kejadian. Kemampuan dasariah yang dimiliki dapat dipergunakan untuk memilih mana baik dan jahat. Tidak hanya itu kebaikan bisa saja berubah jahat bila tidak ditempatkan pada waktu dan lokasi yang sesuai. Dengan demikian jangan lama-lama menjadi sapi seolah ia baik karena tanpa agresifitas tetapi terkadang pula harus menjadi macan, karena hanya ia yang diberkati suatu anugrah untuk melindungi wilayahnya, kita tahu sapi tidak mampu.

Keniscayaan untuk mampu memilih menjadikan manusia memiliki suatu karakter kuat yang ada pada para binatang dengan cara mengambil seekor saja atau mengkombinasikannya. Salah satu teori tentang manusia super yang menggunakan perumpamaan watak binatang adalah dari Nietzsche. Ia mengambil jalan bahwa singa bukanlah hewan hebat sekalipun ia mendapat gelar sebagai raja hutan. Kewibawaannya menggema dari daratan dan lautan, ia tidak akan pernah didikte atau di interupsi oleh hewan lain, tetapi yang perlu disayangkan adalah kondisi batiniahnya terlalu mengambil hati atas perlakuan sekitarnya. Apabila ia melihat kijang buru-buru terbawa nafsu untuk memakan atau apabila bertemu dengan binatang sama kuatnya ia buru-buru seolah ingin menundukkan.

Selanjutnya sebagai perbandingan, Nietzsche mengambil contoh dari karakter Unta, ia berbeda sekali dengan singa, karena Unta sangat mudah di perintah kemampuannya mempunyai kantong persediaan makanan membuatnya seringkali disuruh-suruh oleh manusia untuk membawa segala jenis perlengkapan dan kebutuhan hidupnya menyeberangi padang pasir. Sampai pada batas lelah yang sempurna baru ia berhenti dan menurti kebutuhannya untuk istirahat. Seandainya ia berontak jelas kekuatannya melebihi manusia, tetapi tidak begitu, ia senantiasa menurut aja. Karena kepribadian semacam itu ia berjasa besar untuk umat manusia tidak untuk dirinya sendiri. Sebagai kendaraan, bahkan unta juga untuk mencerdaskan kehidupan karena dulu para ilmuwan menungganginya, selain kuda, untuk berkelana kemanapun berada pengetahuan. Sekali-kali manusia mencontoh karakter untuk yang penurut, maka ia adalah orang yang lemah.

Singa dan unta bagi Nietzsche bukan karakter yang kuat. Karena karakter kuat adalah tidak mudah terpengaruh oleh sekitar. Dalam arti memalingkannya terhadap diri sendiri. Singa menunjuk kepada metafor emosional dan unta adalah metafor dari sifat pasif. Seorang yang mudah ketika disanjung lantas bangga dan ketika di caci maki lantas menderita adalah seorang dengan karakter yang lemah. Hal tersebut bisa terjadi diakibatkan adanya faktor eksternal yang dapat mempengaruhinya, semestinya ia dipengaruhi oleh sesuatu yang ada dalam jati dirinya, bukan sesuatu diluar dirinya.

Kemudian bagaimana karakter kuat menurut Nietzsche? Ia menggunakan metafor dari karakter bayi lah, yang menurutnya adalah kuat, barangkali hewan tidak ada yang mewakili konsepnya. Bayi tidak dapat didikte oleh apapun juga tidak terlalu agresif terhadap sekitar. Seandainya ia terjatuh atau mainannya rusak spontan ia akan menangis tetapi tangisannya hanya sekedar diraut wajah, hatinya tidak menangis apalagi sampai berdarah. Dalam komposisi intelektualitas sosok kuat bagi Nietzsche adalah gabungan sintetik dari seniman dan kaisar atau komandan perang. Seperti Goethe dan Napoleon, Ronggowarsito dan Adolf  Hitler.

Jubung, 01 Januari 2021     

Post a Comment for "Singa, Unta dan Bayinya Nietzsche"