Resensi Buku: Jokowi, Sangkuni, Machiavelli

 

jokowi sangkuni machiavelli

Judul buku                              : Jokowi, Sangkuni, Machiavelli

Pengarang                               : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit                                   : Mizan

Tahun terbit pertama               : 2016

Tebal halaman                         : 214

Isbn                                         : 978-979-433-977-0

Genre                                      : Esai Politik

 

Buku yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma (SGA) merupakan kumpulan dari tulisan-tulisannya yang pernah diterbitkan oleh koran Tempo, dimana ia mendapatkan tawaran untuk mengisi sebuah kolom politik. Merentang dari tahun 2014-2016 dengan segala konteks yang membahas pertunjukan politik di Indonesia dan telaah terhadap persoalan politik lainnya.

Tidak hanya bersumber dari koran Tempo saja buku ini berisi, tetapi ada pula beberapa tulisan SGA yang diambil dari media lain termasuk teks orasi ia turut sertakan untuk menambah isi buku ini yang mana sama-sama mempunyai tema politik, seluruhnya terhimpun berjumlah 47 tulisan

Melihat judulnya, Jokowi,  Sangkuni, Machiavelli, membikin hasrat para pembaca akan tertarik untuk membelinya, sebab memang nama-nama tersebut benar-benar menggoda. Pasti dalam benak pembaca judul tiba-tiba akan muncul sebuah kalimat tanya yang berbunyi, ada apa dengan Jokowi? Apa Jokowi dipersamakan dengan dua nama dibelakangnya itu? Dan bukan titik tekannya terletak pada Sangkuni dan Machiavelli. Karena dua nama yang menyejarah itu telah sirna personalitasnya dan yang abadi adalah nama sebagai gagasan untuk menyebut kepada suatu kategori negatif. Akhirnya karena bersanding dengan Jokowi maka, presiden kita itulah yang jadi sorotan. Tetapi itu hanya sekedar gaya pembuatan tajuk judul atau mungkin juga bisa dikatakan strategi agar orang lebih tertarik untuk membelinya. Pada umumnya, kumpulan tulisan dalam wujud bungai rampai akan mengambil judul dari salah satu tulisan yang ada didalamnya, seperti tulisan Cak Nun yang berjudul “lockdown 309” tahun atau apabila tulisan tersebut mempunyai rutinitas untuk dimuat di suatu media, maka akan dibikinkan judul dari nama rubrik media tersebut seperti “Asal-usul” kumpulan tulisan karya H.Mahbub Djunaedi. Ternyata dua model atau cara penamaan dari sebuah kumpulan tulisan itu tidak digunakan dalam kasus ini, tetapi hanya sekedar ambil nama-nama tokoh yang mempunyai peran dan disebutkan dalam beberapa tulisan didalam buku.

Nama Jokowi lebih banyak disebut dalam beberapa adegan, Sangkuni dan Machiavelli hanya beberapa saja. Selain ketiga nama itu sebenarnya juga ada nama lain, seperti Sun Tzu, Petruk, Gandari, Arjuna, Thomas More, Foucault, Nazi, Totaliter sampai Komodo hewan berbentuk kadal raksasa itu pun juga disebutkan. Seluruhnya merupakan nama atau identitas yang kemudian dibawa kepada tema-tema politik. Seperti itu, jadi tidak akan membahas Komodo dengan sudut pandang zoologi atau melihat presiden Jokowi dengan gaya atau model memakai baju dengan cara melipat beberapa lipatan kemeja lengan panjangnya sebagai seorang bapak dari Kaesang dan Gibran tetapi sebagai seorang yang menduduki posisi penting di Indonesia dan menjadi nahkoda penentu arah kebijakan pemerintahan.

Setiap tulisan yang SGA tulis bisa dikatakan tidak mempunyai alur yang panjang-panjang, seperti ia sendiri sebutkan rata-rata sekitar 5.000 karakter (with space). Secara struktural isi dari tulisannya berupa komentar-komentar atas peristiwa politik yang terjadi secara kronologis dari tahun 2014-2016. Sebelum berkomentar tentang suatu hal atau kejadian, pertama kali senantiasa ia sertakan suatu pengantar untuk menuju ke suatu konteks, baru kemudian ia berkomentar, dan diakhir setiap tulisan ia beri tanggal pemuatan tiap-tiap tulisannya. Begitu, sebagaimana pengakuannya sendiri.

Dalam suatu pengantar bukunya ini, SGA Membuat tajuk dengan kalimat "Bukan Murid Miriam". Yang ia maksud adalah Miriam Budiardjo, seorang penulis buku “Dasar-Dasar Ilmu Politik”, yang mana buku tersebut telah dicetak berulang-ulang sejak cetakan pertamanya pada tahun 1977 sampai catatan ini ditulis, bukunya Miriam itu, bila dihitung, telah cetak ulang sebanyak 41 kali. Dahsyat dan menarik pasti ada faktor yang membuatnya bertahan di rak toko buku. Kembali pada SGA, ia mengaku apa yg dipelajari nya dari buku best seller tersebut susah masuk dikepalanya. Bahkan ia menggunakan kata "bodoh" untuk mensifati dirinya itu.

Jika kita baca dan fahami 47 esai yang terhimpun, sejenak kita akan langsung menarik kesimpulan bahwa dugaan SGA kepada dirinya sendiri adalah salah besar, karena nyatanya SGA menulis dalam tema politik dengan cukup rapi, sistematis, analisis ketat dan logika yang tajam. Bahkan dibeberapa tempat pembaca akan merasakan ada yang sulit dipahami bukan karena terdapat konsep politik yang rumit, melainkan logika SGA sendiri yang terasa njlimet, dalam arti caranya menyampaikan pesan menggunakan suatu jalan berpikir yang rumit. Kemampuan ini jelas didapat dari pemahamannya yang baik.

Kita kenal SGA secara umum sebagai cerpenis dengan gaya bahasa yang meliuk-liuk, membuat seluruh imajinasi yang ada di kepala ikut berdansa menikmati makna yang begitu renyah, seolah pembaca berada di aliran sungai yang tak pernah terbendung oleh bebatuan dan sampah apapun bergerak lurus dan cepat hingga sampai ke laut. Begitulah kesan yang diambil ketika membaca tulisannya dalam bentuk fiksi. Ketika ia harus menulis dalam soal yang cukup serius, penuh data, analisis dan gaya bahasa. Ternyata ia mampu merubah gaya tulisannya, seolah bukan SGA yang biasa dikenal. Silahkan bandingkan sendiri, semisal antara buku ini dengan kumpulan cerpennya di “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, jelas terasa perbedaannya.

Tegalwangi, 02-09-2021

 

Post a Comment for "Resensi Buku: Jokowi, Sangkuni, Machiavelli"