Jean Jacques Rosseau, ia lahir di
tanah Jenewa, Swiss. Namanya tenar di udara Prancis. Atmosfer di sana
memberikan bentuk pada pemikirannya, ia sendiri juga memberi bentuk pada masa
depan negara tersebut. Sejak kecil hidup dalam kondisi dramatis, mengundang air
mata penuh gejolak dan duka-lara yang akhirnya melahirkan pribadi dalam
dirinya.
Ayahnya adalah seorang tukang
arloji, suatu ketika J.J.Rosseau pernah kehilangan Arlojinya, “ah, untunglah,”
katanya,”sekarang aku tak perlu melihat jam lagi hingga juga tak perlu
menghitung waktu”. Sedangkan Immanuel Kant, selalu melihat jam. Ia lebih tepat
dari jam itu sendiri, tidak pernah pergi dalam jarak jauh. J.J.Rosseau adalah
seorang kelana. Nasib yang mendorongnya untuk bolak balik ke Prancis setelah dari
Venesia ke Prancis lagi ke Jenewa lari ke Berlin dan London.
Barangkali dari derita yang
dialami, ia cicipi sedemikian rupa sehingga menciptakan karakter dirinya yang
tidak stabil. Senantiasa menaruh curiga, termasuk kepada David Hume yang telah
memberinya rasa aman. Menuduhnya sedang bersekongkol dengan musuh-musuhnya.
Tidak hanya itu dengan Diderot ia juga bermusuhan. Seluruhnya terjadi dan
berasal dari pribadinnya sendiri yang terlalu memberi nilai lebih pada emosi.
Ia adalah seorang introvet tetapi
juga seorang narsis. Dua sifat yang semestiya bertentangan, menjadi satu pada
tubuhnya. Seringkali ia mengisahkan derita hidup yang telah lalu, disamping
juga senang sekali menangis. Dominasi emosional dari dirinya, barangkali yang
menyebabkan Rosseau menjalin banyak cerita asmara. Karena sering kali dan
gampangan untuk melabuhkan hatinya. Salah satunya kepada De Wahren wanita yang
lebih tua darinya dan Therese La Vesseur, wanita yang kurang cantik dan bodoh.
Sekalipun Rosseau adalah seorang
brilian yang lahir terus dirawat oleh penderitaan dan kemalangan. Ternyata ia
tidak berlaku sebaliknya, untuk memberikan pendidikan yang baik kepada
anak-anaknya. Apa barangkali, ia menginginkan anak-anaknya untuk menapaki jalan
seperti yang ia lalui, Entahlah. Hanya dia yang tahu persisnya. Sekalipun
derita sebagai busana tetapi akal tetap terpelihara. Apapun keinginannya, ia
bukan bapak yang baik.
Tetapi anehnya, ia mempunyai
kontribusi dalam dunia pendidikan, bukunya Emile, ou L’Education adalah
sebuah sorotan yang memancar dari pikirannya dalam dunia pendidikan. Lewat buku
tersebut, ia mengajak anak-anak dunia untuk mengembangkan cinta diri dan naluri
alamiah. “orang harus mengajarkan kepada anak-anak satu-satunya ilmu, yaitu
ilmu tentang kewajiban manusia”. Rosseau sedang mengkhutbahi orang lain agar
anak-anak mereka sejahtera dan membiarkan anaknya sendiri terlantar, yatim dan
piatu dalam perawatan pikirannya.
Upayanya untuk kembali melahirkan
definisi “bebas dari” mesti berhadapan dengan definisi pola pencerahan yang
sedang bangga-bangganya untuk “berani berpikir sendiri” dengan akal sendiri.
Rosseau menganggap yang membelenggu umat manusia tidak lain adalah kebudayaan
yang dihasilkan oleh rasio itu lah. Sedangkan pencerahan, mencoba untuk
membebaskan dari mitos-mitos dan emosi subjektif. Bersimpang jalan dengan
pencerahan, itulah romantisisme yang ia rawat dan garap.
Tidak ayal, wilayah pendidikan
yang menjadi salah satu garapannya adalah upaya membebaskan. Secara etimologi,
edukasi berarti membimbing keluar. Anak yang telah diberi edukasi artinya telah
dibimbing keluar oleh sang guru untuk terbebas dari belenggu-belenggu, dengan
segala jenisnya. Rosseau sangat mengerti akan hal itu.
Tetapi pengertian yang ia miliki
terlihat anomali setelah melihat anak-anaknya sendiri. Cukup alasan untuk
dikatakan bapak yang durhaka. Dalam tradisi hidup orang Jawa, kita akan melihat
penyesalan orang tua dilakukan dengan cara menasihati anaknya akan kebaikan.
”nak, jangan lupa sholat, jangan kayak bapakmu ini, bapak sudah terlewat”, tidak
perlu memberikan penghakiman pada narasi tersebut. Bisa kita lihat, bapak yang
nakal tetap memberikan petuah dan harapan yang baik kepada anaknya, sekalipun
ia sadar dirinya telah melakukan kesalahan dengan tidak sholat. Sebuah derita
masa lalu, tidak akan menggores kesempatan atau penilaian baik hari ini,
begitulah bapak yang berbakti seharusnya dan semestinya.
Pemandangan seperti yang terjadi
dalam keluarga J.J Rosseau menurut sorot mata orang Jawa akan diberi
pernyataan, “wong gak bisa ngurus pendidikan anak sendiri, tetapi mau memberi
ajaran tentang pendidikan”. Sederhananya seperti itu, bisa diperpanjang,
dipertajam dan diperdalam sendiri tergantung versinya masing-masing, emak-emak
arisan, bapak-bapak ronda, orang-orang tua dan atau bahkan anak-anak. Bisa jadi
pikiran Rosseau sekalipun brilian bila melihat tingkah laku pengarangnya, kalau
di Jawa tidak akan laku dan tidak akan bebas dari gunjingan.
Post a Comment for "Jean Jacques Rosseau: Bapak yang Durhaka"