Sokrates Mau Minum Racun jika Hidup di Indonesia?

 

sokrates minum racun


Benar sekali dengan apa yang dikatakan oleh Plato, dalam kalimat terakhirnya di Phaedo. “begitulah, Echecrates, akhir dari kawan kita, yang aku menyebutnya sebagai orang yang paling bijaksana, paling adil, dan terbaik dari semua orang yang pernah aku kenal”. Plato jelas dan sangat berhutang banyak kebijaksanaan pada Sokrates. Sebagaimana kita hari ini berhutang pada Plato, karena tanpa tulisannya kita tidak akan mengenal nama besar Sokrates.

Dalam Symposium, kebijaksanaan Sokrates pun sangat diharapkan oleh kawan-kawannya. Sekalipun ia menyendiri di sebuah serambi, dengan entah apa yang ia lakukan, ketiadaan itulah yang sedang dilaksanakan. Setelah tiba waktunya menyelesaikan kesendiriannya, ia baru berkumpul dengan para kawan-kawannya. Tidak diragukan, seorang kawan langsung menagih sebuah kebijaksanaan dalam kesendirian itu.

Betrand Russel menceritakan bahwa Sokrates mempunyai istri yang cerewet. Barangkali ini asbabun nuzul, kenapa ia menganjurkan untuk menikah. Jika tidak baik, akan menjadi filsuf. Mirip Sokrates. Istrinya mempunyai kontribusi dalam membuat ia semakin bijaksana. Tanpa kemudian disadari.

Pekerjaannya hanya berkeliling pasar tanpa mengenakan sandal, hidung yang pesek, dahi yang lebar. Secara penampilan tidak akan membuat orang tertarik. Tetapi karena dialektikanya yang menggoda. Merubah pikiran orang. Siapapun yang diajaknya bicara akan tercuci dan tercerahkan, lewat argumen-argumen bantuan dari Sokrates ini. Karena sebenarnya, Sokrates tidak pernah melakukan apa-apa, ia hanya layaknya bidan. Perubahan berasal dari orang itu sendiri.

Kematiannya tragis. Kierkegaard, menjadikan kematian sang maha filsuf ini sebagai sebuah contoh tahapan eksistensial etis. Sokrates mendapat gelar “pahlawan tragis. Seseorang yang menyangkal dirinya sendiri demi nilai-nilai universal. Tanpa harus ragu sedikitpun. Dengan penuh keyakinan, ketenangan dan kedewasaan kematian ia tatap secara berani.

Keberaniannya menghadapi kematian dengan lapang dada tidak memadamkan kebaikan kecil dunia. Ia memberikan pesannya yang terakhir kepada Crito, sesaat setelah menenggak racun. Saat kakinya mulai dingin, tetapi sebelum racun itu sampai ke jantungnya ia cepat-cepat berwasiat untuk melunasi hutang ayam kepada Asclepius. Sungguh amanah orang ini.

Nyawanya meregang karena kalah dalam voting. Mendapatkan dua tuduhan, pertama, karena Sokrates menolak para dewa resmi Negara dan menciptakan dewa baru. Kedua, dianggap meracuni pikiran kaum muda. Untuk tuduhan yang pertama, dapat dilihat bahwa ia telah menemukan bentuk imannya sendiri dan menolak politeisme yang dirawat dalam hati dan pikiran orang Yunani.

Tuduhan kedua, mengarah kepada maksud dari Sokrates tentang adanya nilai universal, berbeda dengan kaum sofis yang lebih memilih relativitas nilai. Sebuah kebenaran, menurutnya, bisa hadir untuk di konsumsi orang banyak. Baru Nietzsche yang menolak hal ini. Sebelumnya atau sesudah Sokrates, tradisi filsafat selalu mencoba untuk menemukan bentuk baku dari sistem nilai yang tidak berubah-ubah dan dapat digunakan sebagai pegangan dari orang banyak.

Nilai universal adalah keniscayaan. Sampai hari ini. Kita tidak akan mengerti rasa dan esensi kebenaran tanpa kematian Sokrates. Mungkin saja bisa mengerti tetapi rasanya tidak akan seperti sekarang. Bagaimana sebuah kebenaran lebih berharga, sehingga harus dibela dengan mengorbankan nyawa. Menjadi pertanyaan, apakah Sokrates rela untuk mati lagi meminum racun bila ia sendiri hidup di Indonesia hari ini?

Dapat dibayangkan, jika Sokrates hidup di masa sekarang, akan banyak-banyak berdialektika lewat sosial media, tidak perlu jalan-jalan ke pasar. Pengaruhnya jelas akan membuat dia meraup follower yang banyak. Memberikan pandangan dan arahan mana yang benar dan mana yang batil di dinding-dinding Facebook. Banyak berkicau mengeluarkan statement di Twitter. Menjadi selebgram handal. Tidak lain untuk membela nilai universal itu sendiri.

Jika suatu kali kebenaran yang ia anut nyatanya bersimpang jalan dengan pemerintah. Pendapatnya dianggap subversi atau mengganggu stabilitas kekuasaan. Orang seperti dirinya akan senantiasa tetap berjalan dengan apa yang diyakini, karena dari sanalah kehidupannya terasa berguna.

Nilai universal sejak pertama kali mentari merekah hingga pada nantinya meredup dan sirna, akan tetap sama saja. Tidak ada perubahan sedikitpun. Mungkin bisa jadi di sebuah era, bisa saja akan tampak samar-samar, sehingga tidak seluruh mata mempunyai akses untuk menggapainya. Mata seorang Sokrates cukup jeli untuk hal itu. Ia mampu mendeteksi dalam proporsinya yang seimbang, sekalipun diselubungi oleh hasrat dan ketamakan penguasa.

Jika suatu kali ia dijerat dengan menggunakan UU ITE atau sebagainya yang sejenis. Sebab ada potensi dirinya mengganggu stabilitas kekuasaan atau menghalangi tersalurkannya kehendak dari seorang penguasa. Dan pada akhirnya, ia harus kalah untuk kedua kalinya dalam membela nilai universal. Maka jika hukumannya adalah meminum racun untuk yang kesekian kalinya lagi dan lagi, maka menghadapai kematian bukanlah ketakutan. Seandainya ada celah dirinya untuk lari meninggalkan hukuman yang tidak adil tersebut. Tetapi dengan konsekuensi bahwa larinya Sokrates akan membuat keraguan orang banyak tentang abadinya nilai universal, maka dapat kita tebak Sokrates akan lebih rela mati untuk itu, “pahlawan tragis”.

Konskuensi bagi seorang yang dirinya disinggahi ilmu dan kebijaksanaan maka jalan kesunyian tidak lagi menjadi halang-rintang untuk tetap istiqomah menapakinya, termasuk kematian. Sebagaimana menurut Sokrates “Orang lain tampaknya tidak menyadari, bahwa orang yang mengikuti jalan filsafat dengan cara yang benar sesungguhnya tengah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi maut dan menjalani kematian”.

Kematian tubuh adalah salah satu jalan dan cara untuk menemukan kehidupan dan kebebasan jiwa yang sebenarnya, Sokrates sadar akan hal itu. Lebih-lebih jika kematian akan menjadi sebab orang lain percaya dengan adanya nilai universal, maka tidak ada keraguan sedikitpun untuk menjalaninya dengan senang dan gembira bahkan sampai kapanpun waktunya.

Tegalwangi, 18-11-2021

Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Sokrates Mau Minum Racun jika Hidup di Indonesia?"