Saya senang sekali mengkaji David
Hume, disamping karena ia mampu membangunkan Immanuel Kant dari tidur
dogmatisnya, juga karena penolakannya pada kausalitas ditengah-tengah terang
benderangnya masa pencerahan. Ia mengingatkan kepada salah seorang teolog Sunni
Imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al-Asy'ari yang juga menolak kausalitas, dengan
sebab cerahnya iman. Berbeda dengan Hume yang lebih melepaskan diri pada
perangkat iman.
Yang menjadi kurang menarik untuk
melihat Hume, adalah wajahnya. Rambutnya yang kriwul, bergelombang hebat
layaknya ombak yang segera disusul dengan gulungan selanjutnya, menjadikan saya
kurang minat melihat wajahnya. Seandainya rambutnya itu seperti Aril Noah
berkarisma dan auranya kuat. Memang kebanyakan filosof dan para pemikir keras
bila kita amati lamat-lamat hampir seluruhnya mempunyai postur dan paras yang
kurang menarik, membosankan untuk dipandang. Lebih-lebih ketika pikirannya
njlimet, tidak salah kalau para akademisi universitas mengenalnya karena tugas
kuliah saja, bukan inisiatif dari kehausan intelektualnya.
Kalau saja David Hume gemar
melatih fisiknya, semisal lari jauh, berenang atau nge-gym paras dan fisiknya
pasti lebih menarik. Sayangnya yang ia gemari adalah berfilsafat setelah bosan
main bilyard, ketika semangat filsafatnya kembali ia tinggalkan stick
bilyardnya begitu saja. Permainan yang hari ini ditujukan oleh anak muda
milenial bukan karena hobi, tetapi lebih cenderung karena agar terlihat keren.
Mudah bosannya dalam berfilsafat
lantas mencari kegembiraan dengan bola bilyard dijadikan sebuah tesis, bahwa
filsafat tidak menghadirkan kepastian tetapi kemungkinan. Dengan begitu
kesadaran akan nihilnya kepastian dalam filsafat jelas sekali akan melelahkan,
bukankah orang pada umumnya ketika berada ditengah laut ingin segera menemukan
tepian dan menyudahi tantangan yang penuh keseimbangan dan ancaman ditengah
laut. Sedangkan filsafat tidak mengenal tepian, ia senantiasa berspekulasi
dalam pelukan badai.
Hume mengakui penampilan dirinya,
sebagai seorang yang terlalu tua, terlalu gemuk dan terlalu kaya. Atas dasar
itu, ia enggan untuk jerih payah melanjutkan bukunya yang berjudul History of
England. Sekalipun penampilan yang kurang menarik, diantara para filsuf yang
lain sebenarnya Hume tidak terlalu jelek, standar wajah pemikir jangan
dibandingkan dengan para atlet dan artis. Toh, dalam sejarah filsafat orang
yang paling populer dengan rupanya yang tidak menarik dan kebijaksanaannya
dalam satu paket adalah Sokrates, bukan David Hume. Jadi dia lumayan lah.
Dari kegemarannya bermain
bilyard, sampai-sampai ia memberi contoh terhadap pikiran filosofisnya tentang
penolakan terhadap kausalitas dengan bola bilyard, sebagaimana yang ia
sampaikan, "bila aku melihat, misalnya, sebuah bola bilyard yang bergerak
lurus ke bola bilyard lainnya, aku mengandaikan gerakan kebetulan bola kedua
itu sebagai akibat kontak atau dorongan keduanya. Bolehkah aku memahami bahwa seratus peristiwa
yang berbeda-beda juga sebagai akibat dari penyebab itu? Mungkinkah bola
pertama balik atau lompat ke arah lain? Semua asumsi ini dapat dimengerti.
Lalu, mengapa kita lebih memilih yang satu yang tidak lebih konsisten atau tak
lebih dapat dipahami daripada yang lain?".
Ia ingin menyampaikan berbagai
kemungkinan yang bisa terjadi, tetapi dalam hukum kausalitas selalu dimaksudkan
satu peristiwa dengan pasti memberi dampak secara pasti pula pada peristiwa
lain. Bola yang satu memberi akibat kepada bola lainnya, padahal bisa saja
terjadi berbagai kemungkinan yang tidak kita sadari secara aposteriori. Tetapi
nalar Apriori kita keburu untuk memberi kesimpulan dari hal yang biasa terjadi.
Tidak salah dan tidak aneh kalau
David Hume mengambil contoh dalam dilsafatnya dari sesuatu yang menjadi kegemarannya,
bilyard. Sebab kerumitan dan kebuntuan dalam berfilsafat mendapatkan titik
terang setelah pikiran mulai tenang dan stabil kembali. Tiba-tiba apa yang
dilihat, sekalipun orang lain tidak memahaminya, menjadi pemecahan masalah atau
minimal sekedar pelunakan dan refresh dari syaraf-syaraf yang menegang. Seandainya David Hume suka
bermain sepak bola, semisal, jelas sekali dapat dimungkinkan ia akan mengambil
contoh dari bola sepak dan lapangan atau stadion.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 21-03-2022

Post a Comment for "David Hume, Bilyard dan Filsafat"