Keinginan Rene Descartes dari Filsafat Garapannya

 

bincang-bincang.com

Sejarah pemikiran adalah jejak rekam perkelahian ide. Dimana satu ide akan bermaksud untuk membantah dan menaklukkan ide yang lain atau setidaknya akan berupaya untuk sedikit memoles dan memodifikasi beberapa bentuk dari wujud gagasan yang dianggapnya keliru. Justru dari pertentangan ide satu dengan ide yang lainnya melahirkan khazanah keilmuan yang beragam. Ketika Al-Ghazali menunjuk kesalahan para filsuf, seperti Ibn Sina dan Al-Farabi, hingga dikarangnya sebuah buku berjudul Tahafut Falasifah. Tidak berselang lama dari itu, sekitar belasan tahunan setelah ia wafat, lahirlah seorang filsuf terkenal yang nantinya akan mengarang sebuah buku untuk membantah pikiran Al-Ghazali, yaitu Ibn Rusyd dengan bukunya Tahafut Tahafut. Masih banyak lagi pertentangan-pertentangan dalam ide dan pikiran yang populer, contoh tersebut hanya satu dari sekian ribu atau juta apa yang dikenal dengan ghazw al-fikr.

Dari sekian tema dan periode pemikiran yang mengundang saling bantah antara satu dengan yang lain, sezaman atau bukan ini menunjukkan sebuah indikator bahwa terjadinya perkelahian disebabkan oleh kerapuhan dari sistem pemikiran itu sendiri. pasti ada yang tidak benar dan membutuhkan sebuah perbaikan, entah dari mana lebih dulu dan apa yang mesti diperbaiki?

Disinilah kepedulian Rene Descartes yang hadir dikancah pemikiran abad ke 17. Ia ingin mengatasi kerapuhan dan kerentanan yang terjadi di masa-masa sebelumnya. Bagaimana suatu pemikiran itu dibangun diatas sebuah sistem filsafat yang kepastiannya tidak bisa lagi diragukan. Motivasi ini berdasarkan pengalaman sewaktu masih menjalani pendidikan, ia menemukan bahwa setiap teori pasti akan mendapatkan bantahan dari teori yang lain. Berarti teori yang mempunyai celah dan peluang untuk dirusak masih tidak dapat dijadikan patokan kebenaran yang memang paripurna. Semakin terbuka perbedaan-perbedaan antara pemikir-pemikir jenius sekalipun menunjukkan kalau sistem berpikir mereka sebenarnya rapuh dan salah. Karena setiap kebenaran tidak mungkin membuka peluang untuk diperdebatkan dan diselisihi.

Atas dasar kondisi yang memprihatinkan seperti ini, Rene Descartes meluapkan kesalahan pada filsafat. Ia mesti mengkambing hitamkan filsafat karena konsepsi yang ia miliki tentang filsafat itu sendiri. Dimana, menurutnya, filsafat itu adalah induk dari semua ilmu. Berbeda dengan pemahaman kita hari ini bahwa filsafat sebagai salah satu cabang ilmu diantara ilmu-ilmu yang lain. Jika diberi sebuah perumpamaan bahwa filsafat adalah induk dari ilmu-ilmu yang lain, maka akan seperti sebuah pohon dalam kesatuan organisnya. Dimana akarnya adalah metafisika, sedangkan batang, dahan, ranting dan daun akan bergantung pada akar. Satu dengan yang lainnya akan saling terkait. Tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.

Sedikit mirip dengan perumpamaan yang diberikan oleh A.Whitehead, bahwa filsafat adalah sebuah kapal yang berlayar di lautan lepas. didalamnya berisi pasukan yang siap untuk mencaplok wilayah yang ditemukan. Setiap kali menemukan sebuah pulau maka pasukan pejalan kaki akan turun untuk menganeksasi dan menguasai sebagai tanah miliknya. Sedangkan kapal induk sendiri setelahh mengetahui bahwa telah menguasai sebuah pulau, ia akan berlayar terus di lautan lepas untuk berefleksi. Tanpa adanya kapal induk atau filsafat yang berisi pasukan maka tidak akan ditemukan sebuah pulau atau ilmu pengetahun, untuk dikuasai. Jadi setiap kali kapal induk menganeksasi sebuah pulau berarti telah lahir sebuah ilmu pengetahuan, dan itu berkat filsafat.

Kembali kepada Rene Descartes, sebagaimana sebuah pohon yang fungsinya terletak di ranting yang menumbuhkan buah dan daun. Maka saling keterkaitan antara satu organ dengan organ yang lain, akan ditemukan masalahnya pada akar atau metafisika. Untuk itu Descartes menyimpulkan bahwa sebab dasariah yang menjadikan perbedaan-perbedaan dari berbagai pikiran serta kelemahannya dikarenakan sistem filsafatnya yang rapuh. Untuk itu kehadiran Descartes berupaya untuk menemukan sebuah sistem filsafat yang berdasarkan sistem absolut, tidak bisa diganggu-gugat kebenarannya.  Karena hanya dengan itu akan memperbaiki apa yang dihasilkan ranting.

Keinginan Descartes untuk membangun sistem filsafat yang absolut mendapatkan sambutan dari Imanuel kant, dalam bukunya “Kritik Akal Budi Murni”, bagi Kant perdebatan dalam lingkup metafisika adalah sesuatu yang tidak pernah bisa berhenti. Dan memang apa yang dikatakan oleh Kant terbukti kebenarannyadari dulu hingga sekarang. dunia pemikiran selalu diisi dengan sebuah tesis dan seketika akan terlahhir anti tesisnya.

Seolah cita-cita Descartes, dengan melihat realita yang sebenarnya, telah kandas. Dan memang benar-benar kandas. Dengan hadirnya Descartes yang menjadi awal dari babak baru filsafat yang disebut modern, sebagaiman kata Hegel “setelah terombang-ambing seribu tahun dilautan ganas, berkat Descartes kita bisa berteriak daratan”.

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 14-03-2022      

Post a Comment for "Keinginan Rene Descartes dari Filsafat Garapannya"