Sejarah pemikiran adalah jejak
rekam perkelahian ide. Dimana satu ide akan bermaksud untuk membantah dan
menaklukkan ide yang lain atau setidaknya akan berupaya untuk sedikit memoles
dan memodifikasi beberapa bentuk dari wujud gagasan yang dianggapnya keliru.
Justru dari pertentangan ide satu dengan ide yang lainnya melahirkan khazanah
keilmuan yang beragam. Ketika Al-Ghazali menunjuk kesalahan para filsuf,
seperti Ibn Sina dan Al-Farabi, hingga dikarangnya sebuah buku berjudul Tahafut
Falasifah. Tidak berselang lama dari itu, sekitar belasan tahunan setelah
ia wafat, lahirlah seorang filsuf terkenal yang nantinya akan mengarang sebuah
buku untuk membantah pikiran Al-Ghazali, yaitu Ibn Rusyd dengan bukunya Tahafut
Tahafut. Masih banyak lagi pertentangan-pertentangan dalam ide dan pikiran
yang populer, contoh tersebut hanya satu dari sekian ribu atau juta apa yang
dikenal dengan ghazw al-fikr.
Dari sekian tema dan periode
pemikiran yang mengundang saling bantah antara satu dengan yang lain, sezaman
atau bukan ini menunjukkan sebuah indikator bahwa terjadinya perkelahian
disebabkan oleh kerapuhan dari sistem pemikiran itu sendiri. pasti ada yang
tidak benar dan membutuhkan sebuah perbaikan, entah dari mana lebih dulu dan
apa yang mesti diperbaiki?
Disinilah kepedulian Rene
Descartes yang hadir dikancah pemikiran abad ke 17. Ia ingin mengatasi
kerapuhan dan kerentanan yang terjadi di masa-masa sebelumnya. Bagaimana suatu
pemikiran itu dibangun diatas sebuah sistem filsafat yang kepastiannya tidak
bisa lagi diragukan. Motivasi ini berdasarkan pengalaman sewaktu masih
menjalani pendidikan, ia menemukan bahwa setiap teori pasti akan mendapatkan
bantahan dari teori yang lain. Berarti teori yang mempunyai celah dan peluang
untuk dirusak masih tidak dapat dijadikan patokan kebenaran yang memang
paripurna. Semakin terbuka perbedaan-perbedaan antara pemikir-pemikir jenius
sekalipun menunjukkan kalau sistem berpikir mereka sebenarnya rapuh dan salah.
Karena setiap kebenaran tidak mungkin membuka peluang untuk diperdebatkan dan
diselisihi.
Atas dasar kondisi yang
memprihatinkan seperti ini, Rene Descartes meluapkan kesalahan pada filsafat.
Ia mesti mengkambing hitamkan filsafat karena konsepsi yang ia miliki tentang
filsafat itu sendiri. Dimana, menurutnya, filsafat itu adalah induk dari semua
ilmu. Berbeda dengan pemahaman kita hari ini bahwa filsafat sebagai salah satu
cabang ilmu diantara ilmu-ilmu yang lain. Jika diberi sebuah perumpamaan bahwa
filsafat adalah induk dari ilmu-ilmu yang lain, maka akan seperti sebuah pohon
dalam kesatuan organisnya. Dimana akarnya adalah metafisika, sedangkan batang,
dahan, ranting dan daun akan bergantung pada akar. Satu dengan yang lainnya
akan saling terkait. Tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.
Sedikit mirip dengan perumpamaan
yang diberikan oleh A.Whitehead, bahwa filsafat adalah sebuah kapal yang
berlayar di lautan lepas. didalamnya berisi pasukan yang siap untuk mencaplok
wilayah yang ditemukan. Setiap kali menemukan sebuah pulau maka pasukan pejalan
kaki akan turun untuk menganeksasi dan menguasai sebagai tanah miliknya.
Sedangkan kapal induk sendiri setelahh mengetahui bahwa telah menguasai sebuah
pulau, ia akan berlayar terus di lautan lepas untuk berefleksi. Tanpa adanya
kapal induk atau filsafat yang berisi pasukan maka tidak akan ditemukan sebuah
pulau atau ilmu pengetahun, untuk dikuasai. Jadi setiap kali kapal induk
menganeksasi sebuah pulau berarti telah lahir sebuah ilmu pengetahuan, dan itu
berkat filsafat.
Kembali kepada Rene Descartes,
sebagaimana sebuah pohon yang fungsinya terletak di ranting yang menumbuhkan
buah dan daun. Maka saling keterkaitan antara satu organ dengan organ yang
lain, akan ditemukan masalahnya pada akar atau metafisika. Untuk itu Descartes
menyimpulkan bahwa sebab dasariah yang menjadikan perbedaan-perbedaan dari
berbagai pikiran serta kelemahannya dikarenakan sistem filsafatnya yang rapuh.
Untuk itu kehadiran Descartes berupaya untuk menemukan sebuah sistem filsafat
yang berdasarkan sistem absolut, tidak bisa diganggu-gugat kebenarannya. Karena hanya dengan itu akan memperbaiki apa
yang dihasilkan ranting.
Keinginan Descartes untuk
membangun sistem filsafat yang absolut mendapatkan sambutan dari Imanuel kant,
dalam bukunya “Kritik Akal Budi Murni”, bagi Kant perdebatan dalam lingkup
metafisika adalah sesuatu yang tidak pernah bisa berhenti. Dan memang apa yang
dikatakan oleh Kant terbukti kebenarannyadari dulu hingga sekarang. dunia
pemikiran selalu diisi dengan sebuah tesis dan seketika akan terlahhir anti
tesisnya.
Seolah cita-cita Descartes,
dengan melihat realita yang sebenarnya, telah kandas. Dan memang benar-benar
kandas. Dengan hadirnya Descartes yang menjadi awal dari babak baru filsafat
yang disebut modern, sebagaiman kata Hegel “setelah terombang-ambing seribu
tahun dilautan ganas, berkat Descartes kita bisa berteriak daratan”.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 14-03-2022
Post a Comment for "Keinginan Rene Descartes dari Filsafat Garapannya"