Metode merupakan suatu prinsip
penting yang dimiliki oleh seorang pemikir atau peneliti. Sebagai sebuah upaya
untuk mencapai tujuan, maka langkah dan tahapan dari sebuah proses akan
menentukan hasil yang ingin dicapai. Tidak sekedar sebagai arah yang memberikan
petunjuk dalam melangkah tetapi juga menentukan wujud hasil yang hendak dicapai
itu sendiri. Perbedaan dalam sebuah metode akan mempengaruhi apa yang akan
diperoleh nantinya. Setiap pemikir atau peneliti pasti sudah mempunyai gambaran
atau kerangka jawaban dari maksud pikiran mereka, oleh karena itu setelah
mengetahui bentuk yang ingin digapai, baru mereka akan mempersiapkan jalan atau
metode yang hendak ditempuh. Agar tujuan tersebut mmemang benar-benar bisa ditemukan.
Disinilah metode mendapatkan perhitungan besar, apakah berhasil atau tidaknya
tergantung metode yang digunakan.
Di tengah-tengah belantara
pemikiran yang beraneka ragamnya, maka beraneka ragam pula metode yang
dimiliki. Didalam sejarah filsafat modern dikenal dua kutub besar atau isme
yang saling berhadap-hadapan dan diperhadapkan oleh para pembaca setelahnya
sebagai sesuatu yang mempunyai pertentangan secara abadi, yaitu rasionalisme
dan empirisisme. Sebagai suatu aliran dalam epistemologi keduanya mmembangun
argumentasinya sama-sama sangat kuat, tidak tergoyahkan dan tidak ada ceritanya
semisal pemikir dari kubu empirisisme mengalami keinsyafan kemudian bertolak
menjadi pengikut Rene Descartes ataupun sebaliknya. Keduannya mempunyai metode
tersendiri dalam merumuskan pikiran-pikirannya, tentang bagaimana proses
manusia mengetahui sebuah pengetahuan.
Terdapat dua terminologi yang digunakan
oleh dua tokoh besar, yang apabila dilihat dari segi kebahasaan mempunyai makna
denotatif yang sama tetapi secara operasional terdapat perbedaan yang mendasar,
yaitu skeptisisme Rene Descartes yang berdiri dibawah bangunan rasionalisme
yang ia dirikan dan skeptisisme David Hume yang berdiri dibawah bangunan
empirisisme yang ia rawat, tetapi berbeda dengan Descartes yang bersifat
metodis. Menarik untuk dapat kita simak,
untuk kali ini mari kita urai secara pelan-pelan skeptisisme Rene Descartes.
Rene Descartes mempunya obsesi
dalam menggarap filsafatnya agar tidak terjatuh dalam ketidakpastian,
sebagaimana pusparagam pemikiran yang ia pelajari selalu terjadi perbedaan dan pertentangan,
seolah seluruh pikiran tersebut meletakkan pondasinya ditempat yang rapuh.
Untuk menemukan sebuah titik pijak yang benar-benar kokoh tak tergoyahkan
sebagai suatu kebenaran. Sebagai seorang ahli matematika ia ingin mendapatkan
fundamen yang pasti layaknya aksioma dalam matematika., Descartes menggunakan
sebuah metode yang ia beri judul dengan metode kesangsian (skeptisisme
cartesian).
Pertama kali yang ingin dilakukan
oleh Descartes dengan metodenya adalah menyangsikan segal hal yang diketahui,
termasukkesangsian paling radikal, yaitu
tidak meyakini adanya tubuh yang dimiliki dan lihat. Karena bisa jadi mata yang
ia gunkan untuk mengakses pengetahuan tentang diri sendiri dan lingkungan
sebenarnya sedang menipu. Descartes membuat sebuah istilah “iblis yang cerdik”
bisa jadi mengalihkan segalanya yang ingin kita ketahui, sehingga apa yang
sedang tampak sebenarnya adalah ilusi. Kita tidak mengerti apakah sesuatu yang
kita persepsi secara indrawi mempunyai perbedaan dengan mimpi-mimpi yang kita
jumpai pada waktu tidur. Bisa jadi waktu bangun ini merupakan mimpi atau waktu
mimpi adalah bangun itu sendiri.
Sebegitu radikalnya Descartes
dalam menyangsikan, sampai akhirnya ia menemukan dari metodenya tersebut, bahwa
ada satu hal yang tidak bisa disangkal keberadaannya sebagai sesuatu yang
benar-benar ada, yaitu ketika aku
menyangsikan eksistensi tubuhku sendiri, semisal, bisa jadi tubuhku
memang benar tidak ada dan aku tidak bisa mmemastikan secara pasti ada atau
tidaknya, tetapi “aku yang menyangsikan” itu sendiri tidak bisa ditolak
keberadaannya. Kesangsian itu sendiri disebut dengan berpikir, maka muncul lah
sebuah adagium terkenal, “aku berpikir maka aku ada”.
Dari “aku yang berpikir” atau
cogito ini didapatkan sebuah kesadaran diri. Perlu diperhatikan bahwa cogito
ini didapati tidak dengan menggunakan deduksi atau intuisi. Karena kedua metode
tradisional tersebut bisa digunakan untuk membenarkan wahyu, sedangkan cogito
sendiri tidak bisa menerima dari sumber lain yang mempunyai potensi untuk
disangsikan, sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa hanya “aku yang sedang
menyangsikan itulah yang tidak dapat disangkal keberadaannya” sehingga cogito
hanya hendak mendasarkan asas kepastiannya dari dalam diri sendiri. sedangkan
selain aku yang berpikir tidak mempunyai kepastian untuk tidak diragukan, oleh
karena itu hal tersebut dalam konteks filsafat Descartes ditolak.
Arif Prastyo Huzaeri
Tegalwangi, 15-03-2022
Post a Comment for "Metode Skeptisisme Rene Descartes"