Suatu hari nasib Karna bertemu
dengan kemalangannya untuk yang ke sekian kalinya lagi dan lagi. Bukan
satu-satunya tetapi salah satunya. Putra Sulung dari Kunti ini ditolak
keinginannya oleh Guru Drona untuk menjadi muridnya, hanya karena ia adalah
seorang putra kusir kuda, Adirata, sebelum jati dirinya terungkap. Alasan guru
Drona menolaknya adalah karena hendak mengajar dari kasta ksatria saja.
Mengetahui bahwa ia ditolak,
sejurus kemudian dengan penuh amarah dan rasa kekecewaan, Karna menunjukkan
kemampuannya. Ia lepaskan sang anak panah hingga membakar media latihan Pandawa
dan Kurawa.
Tidak patah harapan, keinginannya
untuk menjadi terhebat dari kasta anak kusir membawanya untuk mengembara
mencari guru yang lain. Hingga tiba pada Begawan Parasurama. Sayang sekali ia
hanya mengajar dari kalangan Brahma. Tidak habis akal, untuk mengelabui guru
dan mewujudkan keinginannya, Karna pun berbohong. "Iya aku dari kalangan
Brahma".
Cerita Karna menyesakkan dunia
pendidikan. Hari-hari itu dan hari kita saat ini. Bahwa seorang yang kurang
cakap secara sosial tidak boleh memperoleh hak-haknya sebagai seorang manusia,
yaitu melatih dan merawat akal pikirannya. Begitu pula dalam konteks hari ini,
hanya gelintir dari mereka yang mampu untuk membayar biaya, bisa mengenyam
nutrisi pikiran.
Tidak terelakkan lagi, kalau
ingin sejahtera dan terpandang sebagai seorang manusia dalam bentuknya yang
sejati, yaitu hewan yang berpikir. Maka harus ber-uang dulu baru bisa
bersekolah. Dan mendapat pengakuan dengan diterbitnya ijazah. Hal semacam ini
telah maklum diketahui oleh siapapun, mulai dari presiden, dirjen, hingga ketua
RT. Apalagi wali siswa yang sering sambat dan mengelus dada setelah terngiang
di kepalanya angka-angka tagihan spp.
Hanya saja konsep macam itu
mendapat pengecualian dari kenyataan hidup bahwa yang ber-uang hanya untuk yang
ingin bersekolah, bukan yang ingin berpengetahuan. Tidak jarang, mereka yang
pendidikannya rendahan tetapi pengetahuannya lebih daripada yang bersekolah
Karna sendiri sebagai contoh yang
memberi bukti, sekalipun ia tidak berguru pada Drona, ia mampu menyaingi atau
melebihi kemampuan Arjuna, murid kesayangannya. Dan satu-satunya orang sebelum
perang Bharatayuda berkecamuk berani menantang Bisma yang agung, sebagai sesama
murid begawan Parasurama.
Dilain sisi, Ekalaya ingin agar
mendapatkan pengakuan sebagai murid Drona, ia menyetujui untuk memotong
jemponya. Padahal dengan itu, ia tidak lagi sehandal dulu lagi untuk menarik
anak panahnya. Tapi apa boleh buat, sebut saja agar ia bisa bersekolah, maka
harus ada yang ditumbalkan. Mahal sekali, yang harus dibayar demi bersekolah,
tidak sekedar berpengetahuan, dan ini yang masih entahlah.
Dalam kondisi biaya pendidikan
yang masih saja mahal. Semakin mahal seolah semakin keren, maka nasib seorang
calon pelajar biasa diantara sekian kemungkinan, dan salah satu adalah memilih
sebagai Karna atau Ekalaya. Terhinakan dulu atau nekat memberikan tumbal.
Tidak semua orang memiliki takdir
seperti para Pandawa dan Kurawa. Bukankah kebanyakan anak-anak manusia
berorangtua Sudra. Dan anak tidak hanya mewarisi harta bendawinya melainkan
juga takdirnya. Jika bapaknya pemulung maka anaknya akan mengais-ngais barang
bekas ditambah. Jika bapaknya petani maka cangkul dan sabit akan diwariskan
padanya.
Jika menyetujui pendapat yang
mengatakan manusia terdidik dan tercerahkan adalah mereka yang mampu berpikir
dan berani bertindak sesuai keyakinan dan pikirannya, tidak terkait profesi.
Maka bukankah biaya sekolah mahal sama dengan menutup kemungkinan orang menjadi
pintar.
Pada akhirnya orang yang kurang
berpengalaman dan berpengetahuan akan memiliki pendapat bahwa takdir seorang
anak akan mengikuti letak takdir bapaknya. Bukan kemampuannya lagi.
Arif Prastyo Huzaeri
04-03-2022
Post a Comment for "Melihat Kemalangan Dunia Pendidikan Lewat Sosok Karna dan Ekalaya"