Mencermati Kepentingan Abadi dalam Film Kurulus Osman

 


Ayya Nikola musuh paling beruntung. Nasibnya tidak seperti Princess Sofia, pendeta Yanis, Balgay dan dukun Togay. Ia berumur paling panjang, menyertai pertentangan melawan Osman bey dalam banyak episode. Kali ini nyaris kepalanya terpenggal, tetapi hanya nyaris dan tidak terjadi.

Nikola tidak mengetahui bahwa dirinya hendak disergap oleh pasukan kiriman Geyhatu. Sesaat setelah dirinya berencana merebut kembali kastil Harmankaya. Dengan berkoalisi bersama beberapa Tekfur, sayang ketahuan, mata-mata Mongol mampu menembus tebalnya dinding kastil hingga ke niat hati terdalam

Beruntung Osman bey mengetahui akan hal itu. Dengan beberapa alp nya ia berhasil mematahkan nyali prajurit Mongol, hingga tunggang langgang. Ayya Nikola menyadari ada dua musuh dihadapannya, Osman dan Mongol. Sempat terjadi perkelahian, beberapa kali suara denting pedang yang saling bergesek dan berbaju hantam antara dirinya dan Osman bey. Nikola dipukul tertunduk, tinggal satu tebasan saja kepalanya bisa menggelinding di tanah. Tetapi itu tidak dilakukan. Osman bermaksud untuk berkoalisi dengan musuh bebuyutannya untuk menghadapi musuh yang lebih besar dan bahaya, Geyhatu.

Menjadi menarik, seharusnya Osman membunuh Nikola sebagai musuh justru mengulurkan tangannya sebagai teman. Ia mesti melenyapkan sejenak rasa permusuhan demi perhitungan yang lebih besar.

Kesadaran politik yang dimiliki Osman adalah suatu gerak untuk mencapai tujuannya dan mengahalau segala sesuatu yang dapat menenggelamkannya, sekalipun ia harus meraih punggung buaya. Hanya saja kecerdikan dan kesigapan betul-betul diaktifkan. Nikola adalah buaya yang dimaksud. Setelah dimungkinkan Osman tidak lagi merasa tenggelam, maka ia harus cepat-cepat membunuh buaya itu

Dalam politik, tidak dikenal istilah teman yang ada adalah kepentingan. Bahkan tidak dikenal jenis kelamin, seluruh manusia bisa jadi tanpa kelamin tetapi selalu berkepentingan. Menyertakan definisi "yang lain" untuk mereka yang diluar dirinya tanpa mempertimbangkan konsep kepentingan dari diri sendiri berarti sama halnya menyatakan untuk siap tenggelam karena enggan meraih punggung buaya yang berpotensi menyelamatkannya

Hal itu terjadi berdasarkan identifikasi diri dari catatan-catatan pengalamannya, bahwa buaya adalah hewan berbahaya titik. Tanpa kemudian membuka tafsir yang lain secara pragmatis dalam jangkauan hal-hal yang tidak dapat dikuasai di masa depan.

Oleh karena itu, Osman telah pandai memainkan siasat atau dalam terminologi lain lihai berpolitik. Berani untuk menatap masa depan yang masih buram, abu-abu. Tidak berdasar pengetahuan masa lalu, tetapi senantiasa mencoba diluar kawasan alam pikirnya.

Ayya Nikola musuh paling beruntung. Nasibnya tidak seperti Princess Sofia, pendeta Yanis, Balgay dan dukun Togay. Ia berumur paling panjang, menyertai pertentangan melawan Osman bey dalam banyak episode. Kali ini nyaris kepalanya terpenggal, tetapi hanya nyaris dan tidak terjadi

Nikola tidak mengetahui bahwa dirinya hendak disergap oleh pasukan kiriman Geyhatu. Sesaat setelah dirinya berencana merebut kembali kastil Harmankaya. Dengan berkoalisi bersama beberapa Tekfur, sayang ketahuan, mata-mata Mongol mampu menembus tebalnya dinding kastil hingga ke niat hati terdalam

 Beruntung Osman bey mengetahui akan hal itu. Dengan beberapa alp nya ia berhasil mematahkan nyali prajurit Mongol, hingga tunggang langgang. Ayya Nikola menyadari ada dua musuh dihadapannya, Osman dan Mongol. Sempat terjadi perkelahian, beberapa kali suara denting pedang yang saling bergesek dan berbaju hantam antara dirinya dan Osman bey. Nikola dipukul tertunduk, tinggal satu tebasan saja kepalanya bisa menggelinding di tanah. Tetapi itu tidak dilakukan.

Osman bermaksud untuk berkoalisi dengan musuh bebuyutannya untuk menghadapi musuh yang lebih besar dan bahaya, Geyhatu.

Menjadi menarik, seharusnya Osman membunuh Nikola sebagai musuh justru mengulurkan tangannya sebagai teman. Ia mesti melenyapkan sejenak rasa permusuhan demi perhitungan yang lebih besar.

 Kesadaran politik yang dimiliki Osman adalah suatu gerak untuk mencapai tujuannya dan mengahalau segala sesuatu yang dapat menenggelamkannya, sekalipun ia harus meraih punggung buaya. Hanya saja kecerdikan dan kesigapan betul-betul diaktifkan. Nikola adalah buaya yang dimaksud. Setelah dimungkinkan Osman tidak lagi merasa tenggelam, maka ia harus cepat-cepat membunuh buaya itu

Dalam politik, tidak dikenal istilah teman yang ada adalah kepentingan. Bahkan tidak dikenal jenis kelamin, seluruh manusia bisa jadi tanpa kelamin tetapi selalu berkepentingan. Menyertakan definisi "yang lain" untuk mereka yang diluar dirinya tanpa mempertimbangkan konsep kepentingan dari diri sendiri berarti sama halnya menyatakan untuk siap tenggelam karena enggan meraih punggung buaya yang berpotensi menyelamatkannya

Hal itu terjadi berdasarkan identifikasi diri dari catatan-catatan pengalamannya, bahwa buaya adalah hewan berbahaya titik. Tanpa kemudian membuka tafsir yang lain secara pragmatis dalam jangkauan hal-hal yang tidak dapat dikuasai di masa depan.

Oleh karena itu, Osman telah pandai memainkan siasat atau dalam terminologi lain lihai berpolitik. Berani untuk menatap masa depan yang masih buram, abu-abu. Tidak berdasar pengetahuan masa lalu, tetapi senantiasa mencoba diluar kawasan alam pikirnya.

Post a Comment for "Mencermati Kepentingan Abadi dalam Film Kurulus Osman"