Ditengah-tengah persaingan
kuliner kekinian, Nasi Pecel sebagai masakan tradisional tidak pernah undur
diri dan rendah diri ketika dihadapkan dengan nugget, sosis, ayam geprek,
spaghetti, seblak, beragam jenis mie, ndoweh, setan dsb, dan juga masakan
ala-ala Korea yang digandrungi oleh kalangan wanita. Pecel senantiasa tetap
memperoleh satu bilik di hati para penikmatnya, penikmat tetap akan senantiasa
ada. Bukan karena ia telah menyejarah dengan kehidupan masyarakat, tidak hanya itu,
tetapi juga sebab cita rasanya yang khas.
Lebih-lebih hari ini, ketika
kuliner menggoda dan menggiurkan diasosiasikan untuk kembali pada masakan
pedesaan, back to village. Maka pecel adalah salah satu dari sekian kuliner
yang tidak bisa dilupakan dan diabaikan. Sejarah mencatat bahwa pecel telah ada
pada abad ke 9 Masehi, bahkan konon sebelum Masehi. Ia juga disebut sebagai
saladnya Indonesia. Jadi Pecel jelas sekali, sangat senior daripada kuliner
yang usianya terhitung masih kemarin.
Sensasi rasa sayuran rebus yang
disiram dengan bumbu kacang ini dapat ditemukan dimana saja. Salah satunya
adalah di Umbulsari, tepatnya di Dusun Krajan Desa Umbulsari, sekitar kurang
lebih 100 meter dari Gladak Penggung. Pemilik warung yang namanya sudah sangat
akrab ditelinga masyarakat bernama Mbok Natu. Seorang wanita yang usianya telah
lanjut, tetapi tidak sedikitpun mengurangi semangat mudanya dalam mencari
nafkah dan memenuhi kebutuhan pelanggannya yang diserang perut keroncongan
ketika pagi datang.
Hanya dengan modal 3000 rupiah,
perut anda telah terselamatkan dari gangguan rasa lapar, cukup sebagai tenaga
untuk digunakan beraktivitas sampai siang. Jika merasa kurang, Mbok Natu juga
menyediakan versi jumbo, tidak butuh modal banyak hanya menambah 1000 rupiah,
jadi 4000 anda sudah akan merasa sangat kenyang.
Beberapa pelanggan yang datang
beraneka ragam. Mulai dari orang rumahan yang sekedar ingin mampir untuk makan,
kelompok pesepedah yang lewat, para juragan yang membelikan anak buahnya,
petani yang sedang menggarap sawahnya bersama buruh tani. Pokoknya pelanggan
nasi pecel Mbok Natu sudah berasal dari berbagai kalangan. Nasi pecelnya sudah
sama populernya dengan penjualnya, namanya sudah sangat akrab didengar. Bahkan
bisa dipastikan tiap hari namanya dan pecelnya disebut orang setiap hari,
"ayo tuku Sego pecel neng nggone Mbok Natu".
Jarang sekali melihat halaman
warung Mbok Natu sepi pengunjung. Karena setiap orang lewat depan warungnya pasti
akan mendapati sepedah berjejer-jejer mengantri. Kalau suatu ketika tidak
ditemukan sepedah yang parkir, orang yang lewat akan terheran-heran seraya
berucap, "kok sepi warungnya Mbok Natu". Kalimat tersebut diucapkan
sebagai bentuk rasa aneh, karena sebagaimana biasanya dan seringnya warung Mbok
Natu akan selalu ramai.
Disamping memberikan layanan
kuliner pecel yang ekonomis dan digandrungi masyarakat karena cita rasanya.
Tanpa sengaja Mbok Natu dan para
penjual pecel diseluruh penjuru daerah, sebenarnya telah merawat sebuah warisan
berharga dari sejarah panjang bangsa ini. Jika memang benar dan dapat
dipastikan bahwa pecel ditemukan pada abad ke 9 atau bahkan sebelum Masehi,
maka para raja-raja Jawa Ratu Sima, Raja Airlangga, Brawijaya, Raden Patah,
Sultan Agung Hanyakrokusumo, para sultan Jogja dan Solo pasti pernah makan
pecel. Orang-orang besar di Nusantara makan pecel dan melahirkan kebesaran
mereka. Hari ini pecel akan dan sedang bersaing dengan kuliner kekinian, apakah
pecel sendiri mampu bertahan menghadapi gempuran dan himpitan kuliner tersebut,
kita lah penentunya untuk merawat dan melestarikan kuliner asli dan mempunyai
sejarah panjang di bumi Nusantara.
Prase
20-03-2022

Post a Comment for "Nasi Pecel Fenomenal di Umbulsari"