Kesangsian yang dilancarkan oleh
Rene Descartes demi memenuhi keinginannya dalam memperoleh sistem filsafat yang
tidak lagi bisa tergoyahkan, memberikan sebuah temuan bahwa ketika aku
meragukan tubuhku, maka eksistensi dari tubuhku itu mempunyai celah untuk
diragukan. Tetapi aku yang ragu artinya aku yang berpikir tidak bisa diragukan
lagi bahwa aku yang berpikir memang benar-benar ketika mencoba untuk meragukan,
berpikir dalam arti menyadari ada atau tidaknya tubuhku itu. Dengan demikian
ada dua subtansi, sebagai hasil dari proses berpikir ini, yaitu subtansi yang
berpikir (res cogitan) dan subtansi yang berkeluasan (res extensa). Secara
ontologis, atas jerih payahnya dalam membangun sistem filsafat, Rene Descartes
dikategorikan sebagai seorang dualis.
Jauh sebelum Rene Descartes,
Plato sudah mengembangkan ide tentang dualisme, bahwa manusia terdiri dari dua
subtansi tubuh dan jiwa. Bagi Plato tubuh bukanlah sesuatu yang sejati, ia
sekedar bayang-bayang yang timbul dari jiwa itu sendiri. Sedangkan bagi Descartes
tubuh layaknya mesin, jika terjadi rasa sakit pada salah satu organ itu artinya
terjadi kesalahan mekanik. Begitu pula dengan kerusakan fatal yang tidak dapat
mempertahankan dirinya, maka terjadilah kematian.
Sedangkan jiwa menurut Descartes,
tidak lain adalah apa yang ia sebut sebagai pikiran dalam arti kesadaran. Hanya
subtansi inilah yang menjadikan perbedaan antara manusia dan binatang. Sebab
tidak ada binatang yang sadar akan dirinya sendiri, seekor kucing sekalipun
sejak kecil dididik sebagai anjing, lantas ketika besar karena terdidik sebagai
anjing kemudian ia disatukan dalam kandang anjing, maka yang terjadi adalah
pertengkaran antar kucing dan anjing. Begitu pula kalau ada anjing dipanggil
sebagai kucing, ia juga tidak akan faham kalau dirinya adalah anjing begitu
juga kucing.
Manusia, menurutnya, adalah satu
unit. Tubuh dan jiwa tidak bisa dihubungkan dengan sebuah kelenjar di otak yang
disebut sebagai pineal gland. Ia berfungsi untuk menjembatani hubungan antara
dunia material dan immaterial. Ketika pikiran memerintahkan tangan untuk
menepuk nyamuk, perintah itu akan terhubung dengan tangan lewat kelenjar
tersebut. Begitu pula rasa gatal akibat digigit nyamuk terasa setelah tubuh
menerima rangsangan yang kemudian akan dikirimkan ke pikiran.
Antara tubuh dan pikiran
mempunyai dunianya sendiri-sendiri. Tubuh yang berkeluasan membutuhkan ruang
dan waktu, ia tumbuh dan berkembang dengan mematuhi prinsip dan hukum alam.
Jika panas berlebih menerjang, sebagaimana plastik meleleh, tubuh jika tidak
menghindar akan ikut hancur. Ketika dingin menghampiri, jika tubuh tidak
mempunyai daya untuk bertahan, maka secara otomatis akan menggigil. Sedangkan
pikiran yang tidak membutuhkan ruang dan waktu tidak akan memperdulikan kondisi
sekitar, hukum alam. Bisa jadi ia akan memerintahkan tubuh dalam dinginnya
malam yang diselimuti kabut pekat untuk menuju ke sebuah tempat, sekalipun
tidak mengenakan jaket penghangat. Begitu pula dengan pikiran ketika telah
tenggelam dalam ketakutan, semisal, sekalipun secara tubuh mempunyai kekuatan
lebih untuk melawan, karena sudah dikuasai oleh ketakutan itu sendiri, maka ia
akan kalut.
Menarik untuk kita tampilkan
salah seorang murid Descartes, Geulincx, ia memberikan penjelasan bahwa antara
tubuh dan pikiran sebenarnya tidak terjadi kontak. Hal ini ia perjelas dengan
teori dua jam. Jika terdapat dua jam yang sama dalam menunjuk waktu, kemudian
salah satu berbunyi pada pukul 6, semisal. Seolah jam yang satu memberikan
pengaruh kepada yang lainnya, padahal keduanya bekerja secara sendiri-sendiri.
Artinya fenomena mental tidak memberikan pengaruh apapun kepada fenomena fisik,
begitu juga dengan sebaliknya. Ketika pikiran mempunyai keinginan, maka
bergeraknya anggota tubuh berdasarkan hukum-hukum fisik semata, tidak ada
pengaruh yang diberikan oleh keinginan untuk menggerakkan tangan. Dalam hal ini
fungsi pineal gland dicampakkan tidak berguna.
Arif Prastyo Huzaeri
20-03-2022

Post a Comment for "Tentang Dualisme Rene Descartes"