Pelajaran Hidup dari Semut dan Dinosaurus

 



Di sebuah akun Instagram yang bekerja untuk memberikan informasi unik dan menarik, mencatat bahwa mainan anak-anak berbentuk Dinosaurus yang dibuat dari bahan plastik, pengolahannya terbantukan dengan minyak bumi yang dihasilkan dari tulang belulang Dinosaurus sungguhan yang telah mati dan punah hari ini.

Apakah memang benar Dinosaurus beneran, tulangnya mempunyai kontribusi dalam pengolahan plastik terus dicetak menjadi mainan Dinosaurus? Entahlah benar atau tidaknya, yang memang benar tidak terbantahkan adalah bahwa Dinosaurus memang benar punah, para ahli pra-sejarah mengira bentuk dan rupanya disesuaikan dengan hasil tulang belulang yang tidak sengaja ditemukan.

Wajahnya garang, giginya  tajam, berjuta kali buasnya singa, rahangnya lebar, sekali kunyah hancur sudah mangsanya. Itu mungkin gambaran Dinosaurus, bisa jadi lebih dari itu berlipat-lipat, bisa pula tidak seekstrem itu. Karena kepastiannya tidak bisa dipegang secara utuh dan akurasinya masih dipertanyakan. Jawabannya jelas, karena tak seorangpun pernah berjumpa.

Siapapun bisa bertanya-tanya, bagaimana mungkin hewan yang pernah hidup di alam fana ini bisa sirna tak meninggalkan keturunan sedikitpun. Sedangkan dari postur dan parasnya saja tidak ada yang berani melawan untuk membinasaknnya. Kalau dibandingkan dengan semut, hewan termasyhur dengan ukuran tubuhnya paling kecil itu ternyata masih bisa bertahan dari satu era ke era selanjutnya. Tubuhnya yang mungil dan tidak dihiraukan oleh tiap pasang mata kala ia berada, ternyata lebih eksis dari Dinosaurus yang perkasa itu.

Bukan sebab apa, tetapi karena semut mematuhi mekanisme kehidupan sedangkan Dinosaurus bandel sekali. Hewan besar itu tidak bisa melakukan adaptasi. Benar kata Charles Darwin, yang mampu bertahan hidup bukanlah mereka yang terkuat, melainkan yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Itu saja, sederhana semut ini dalam menghadapi kehidupan sehiingga ia bisa eksis dan tetap ada. Salah satu cerita didalam Al-Qur’an yang mengisahkan tentang semut, disebutkan bahwa ketika pasukan Nabi Sulaiman sedang berarak, seorang komandan semut memberi instruksi agar tetap tidak bergerak, sehingga mereka tidak kena injak oleh pasukan besar sang Nabi.

Semut dan Dinosaurus mengajarkan kepada siapapun yang mau berpikir lebih luas dan dalam tentang arti kehidupan, bahwa salah satu mekanisme pertahanan hidup agar tidak punah dan senantiasa mereproduksi keturunan bukan dengan jalan menghimpun kekuatan untuk menjadi terkuat, melainkan cara paling sederhana, yaitu mengupayakan diri untuk menyesuaikan dengan lingkungan. Termasuk menghindar dari gesekan dan konfrontasi dengan siapapun.

Sederhana, tetapi banyak yang mengabaikan. Lebih mudahnya untuk menilai dan melihat konsep tersebut bisa kita tengok bagaimana manusia ketika merasa kedinginan, pasti ia akan mengambil jaket, selimut atau alat penghangat lainnya untuk menjaga kondisi tubuh agar tidak terserang dingin yang sangat mengganggu.

Maka bagaimana dengan kondisi umat manusia sekarang? Agar tetap bertahan hidup dalam arti yang memang benar-benar sebagai manusia hidup. Jika dulu orang Indonesia era kerajaan kuno, kekuatan supranatural adalah bagian dari cara mempertahankan kehidupan. Untuk mengahadapi ancaman dari luar dirinya, entah berasal dari orang lain atau dari hewan buas.

Seiring dengan perkembangan zaman, sedikit demi sedikit kebudayaan dengan sistem sosial yang diselubungi hal-hal mistis mulai memudar. Bukannya orang tidak mempercayai lagi, tetapi lebih cenderung karena adanya perubahan sosial itu sendiri. Kalau dulu orang sakti bisa berkuasa secara politis dan ekonomi. Sekarang orang berduitlah yang berkuasa secara politis, untuk hal-hal mistis, ia bisa beli saja kepada sisa-sisa orang yang masih mempertahankan ilmu tersebut

Sebenarnya dulu, perkara uang juga penting, kembali pada sistem pemikiran masyarakat, sekarang dominasi kuasa paling otoritatif berasal dari uang. Bahkan orang mendalami ilmu kesaktian justru ujung-ujungnya ditujukan untuk uang. Senjata paling ampuh untuk menghancurkan orang lain atau orang banyak, sekarang tidak perlu tenaga dalam, melainkan cukup dengan membiayai wacana untuk adu domba di media massa.

Uang tidak bisa menjadi parameter pertahanan hidup dalam mencari kesesuaian dengan lingkungan, karena uang senantiasa dibutuhkkan untuk menunjang sistem sosial sampai kapanpun. Tetapi yang dimaksud dengan adaptasi adalah kesadaran akan konteks kehidupan hari ini, apa saja yang seharusnya disesuaikan dengan hari ini, sehingga antara tubuh, pikiran dan cara hidup menjadi satu kehidupan, yaitu hidup di hari ini. Jangan sampai tubuhnya hadir pada zaman ini sedangkan pikirannya bekerja di era kolonial atau kerajaan. Bisa saja manusia tidak akan punah secara biologis, berbeda sekali dengan Dinosaurus. Tetapi ia bisa punah sebagai esensi dari manusia itu sendiri, kehidupan tubuh yang tidak dibersamai dengan kehidupan fungsi dari sebuah subtansi itu sendiri

Penyesuaian diri yang dilakukan oleh manusia bukanlah dengan menjadi kaya, melainkan mengikuti alur pikiran peradaban itulah yang disebut sebagai adaptasi. Hari ini kehidupan menuntut sebuah aturan dalam lingkup sistem sosial, agar seseorang mampu menguasai teknologi. Karena sepertinya dunia fana sudah benar-benar terpilah menjadi dua, maya dan nyata. Maka ketidakhadiran seseorang dalam salah satu dunia tersebut akan menjadikannya kehilangan sebagian hidupnya. Ia tidak akan bisa mensejajari percakapan khalayak pada umumnya dan pada akhirnya ia pun akan tersingkir. Sekalipun ia tidak mati dalam arti biologis maka tersingkirnya dari peradaban manusia bukankah itu jenis dari kematian yang lain? Itulah sebabnya seseorang harus punya beberapa akun sosial media untuk mengintip isi dunia dan percakapannya dalam satu genggaman.

Arif Prastyo Huzaeri

Tegalwangi, 14-03-2022

 

Post a Comment for "Pelajaran Hidup dari Semut dan Dinosaurus"