Para Aktivis Sebenarnya Mau Kemana?

bincang-bincang.com 

Sewaktu menjadi mahasiswa dulu, senior sering bicara tentang sejarah aktivisme mahasiswa. Mulai dari angkatan 66, 72, 98 dan aktivis-aktivis pasca reformasi. Setiap angkatan menandai adanya aksi demonstrasi besar-besaran mengutuk rezim penguasa kala itu. Setiap angkatan selalu terinspirasi dengan kegagahan para aktivis-aktivis tersebut. mulai dari keberanian melantangkan kebenaran dan kritik atas kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat. Jadi pada waktu masa belajar aktivis mahasiswa sudah menjadi pahlawan. Itu kan keren sekali. Sampai sekarang setiap terjadi demonstrasi pasti ada seorang orator yang berkhutbah dengan menceritakan aktivisme angkatan-angkatan tersebut.

Tetapi mirisnya, kata si senior, para aktivis tersebut yang keren dan mewah pada masanya justru kemudian menjadi pejabat politik yang didemo oleh angkatan dibawahnya. Bisa jadi aktivis yang sekarang melakukan aksi masa suatu saat akan didemo kembali dengan angkatan dibawahnya. Dan kejadian seperti ini seolah akan terus berputar secara terus menerus memintal keabadian tanpa ada putusnya.

Mahasiswa itu murni. Mereka bersih dan mempunyai kemewahan terakhir, seperti kata Tan Malaka, yaitu idealisme. Tetapi setelah menyandang gelar sarjana, barulah sadar tentang bagian dunia yang sebelumnya tak dipikirkan, seolah tersentak kaget karena apa yang ada di buku tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya dalam dunia nyata. Maka tidak salah jika mereka dalam memenuhi kebutuhan biologis dan angan-angan masa depannya harus bermanuver sedemikian rupa, termasuk memanfaatkan chanelnya sewaktu jadi mahasiswa dulu dengan beberapa senior yang telah menempati posisi mapan. Begitulah seterusnya terhadap junior-juniornya. Seperti drama kolosal, mereka yang diteriaki korup, suatu saat juga akan dimintai pertolongan.

Keadaan semacam ini sepertinya akan beradaur ulang lagi dan lagi secara terusan, kecuali jika ada sarjana yang rela untuk bunuh diri kelas meninggalkan kemewahan ide dan tatapan masa depan yang keterlaluan jauhnya itu dengan menjadi apa adanya seperti apa ia dilahirkan. Jika punya ladang bisa jadi petani yang bersarjana, pelaut, pedagang bukan mengharap menjadi tenaga ahli dan staf khusus para pejabat. Sayangnya hal seperti ini sangatlah jarang atau bisa tidak pernah ada. Mungkin nanti ketika Indonesia telah berusia satu abad kemudian ingin mengetahui jumlah dari bekas aktivis mahasiswa yang tidak berharap kekuasaan, mungkin hanya beberapa gelintir orang saja. Jari tangan tidak akan kewalahan untuk menghitungnya.

Dalam hal ini bukan berarti para mahasiswa sebagai aktivis dan akademisi yang telah dididik dengan ilmu pengetahuan dan metode modern tidak semestinya menempati posisi di pemerintahan, bukan begitu maksudnya. Tetapi siapapun orangnya yang berada diposisi penting dalam mengendalikan maslahat hidup orang banyak, dalam kancah politik seharusnya mereka tidak mewarisi sifat dari Duryudana yang sombong dan haus akan kekuasaan atau Dursasana yang bodoh karena hanya menuruti kemauan kakaknya itu. Tidak juga dengan Yudistira yang lugu, sekalipun mempunyai keadilan, dan menerima permainan dadu dengan mempertaruhkan seluruh miliknya, termasuk saudara-saudaranya dan Drupadi. Tidak pula Karna yang merasa sakit karena terdzolimi disepanjang hidupnya sehingga ia mesti mendukung rezim jahat karena telah membela dirinya.

Beberapa watak dari kstaria dalam wiracarita Mahabharata sering kali kita temukan pada para pejabat-pejabat pemerintahan yang mana sebagian dari mereka adalah aktivis mahasiswa. hukum timbal balik didemo oleh angkatan dibawah-bawahnya menjadi indikator kalau sebenarnya ada yang tidak beres dalam perangai mereka ketika mengeluarkan kebijakan dan keberpihakan. Apakah sedang dalam jelmaan Duryudana atau Dursasana, jangan sampai tidak mengira bahwa orang sebijak Bisma juga akan melakukan salah, karena ia diam ketika Drupadi dilucuti bajunya. Diam dalam melihat sebuah kejahatan adalah kejahatan pula.

Kecuali ketika mereka menjabat sebagai ksatria dalam watak yang baik, sekiranya matanya itu tidak mengerjap-ngerjap ketika melihat kemilau dunia dan tidak resah saat isi kantong sedang ludes, maka dari golongan mereka pasti ada yang seperti itu, seklaipun langka. Jika tidak, sehingga tetap saja memaksakan diri untuk mencari sebuah jabatan yang mana ia sebenarnya tidak mempunyai daya dan kemampuan untuk mengembannya. Maka akan memalukan sekali, karena juniornya dari kalangan aktivis mahasiswa akan mendemonya. Alasan, semisal, “kalian adek-adek mahasiswa tidak mengerti dunia luar, yang kalian tahu hanya soal pikiran yang dipenuhi isi buku” tidak lah berarti. Toh nyatanya dulu ia sewaktu jadi aktivis mahasiswa pikirannya juga dijejali dengan berbagai teori.

Bagi aktivis mahasiswa yang kiranya tidak mempunyai kapasitas dalam menjabat di arena birokrasi, maka sebaiknya lebih awal saja untuk naik gunung menjadi seorang begawan. Seperti begawan Parasurama yang mendidik Bisma agung, Guru Drona dan Adipati Karna atau juga seperti Guru Drona yang mendidik para pangeran Astinapura. Jadi seorang senior bukankah lebih baik menjadi begawan yang mendidik juniornya untuk mengetahui teknik sebagai seorang demonstran yang baik dan benar, ahli loby dan ahli tawar-menawar. Ketimbang, lagi-lagi harus disebut, jadi birokrat kalau akhirnya juga keparat.      

Post a Comment for "Para Aktivis Sebenarnya Mau Kemana?"