Tetapi mirisnya, kata si senior,
para aktivis tersebut yang keren dan mewah pada masanya justru kemudian menjadi
pejabat politik yang didemo oleh angkatan dibawahnya. Bisa jadi aktivis yang
sekarang melakukan aksi masa suatu saat akan didemo kembali dengan angkatan
dibawahnya. Dan kejadian seperti ini seolah akan terus berputar secara terus
menerus memintal keabadian tanpa ada putusnya.
Mahasiswa itu murni. Mereka
bersih dan mempunyai kemewahan terakhir, seperti kata Tan Malaka, yaitu
idealisme. Tetapi setelah menyandang gelar sarjana, barulah sadar tentang
bagian dunia yang sebelumnya tak dipikirkan, seolah tersentak kaget karena apa
yang ada di buku tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya dalam dunia
nyata. Maka tidak salah jika mereka dalam memenuhi kebutuhan biologis dan
angan-angan masa depannya harus bermanuver sedemikian rupa, termasuk
memanfaatkan chanelnya sewaktu jadi mahasiswa dulu dengan beberapa
senior yang telah menempati posisi mapan. Begitulah seterusnya terhadap
junior-juniornya. Seperti drama kolosal, mereka yang diteriaki korup, suatu
saat juga akan dimintai pertolongan.
Keadaan semacam ini sepertinya
akan beradaur ulang lagi dan lagi secara terusan, kecuali jika ada sarjana yang
rela untuk bunuh diri kelas meninggalkan kemewahan ide dan tatapan masa depan
yang keterlaluan jauhnya itu dengan menjadi apa adanya seperti apa ia
dilahirkan. Jika punya ladang bisa jadi petani yang bersarjana, pelaut,
pedagang bukan mengharap menjadi tenaga ahli dan staf khusus para pejabat.
Sayangnya hal seperti ini sangatlah jarang atau bisa tidak pernah ada. Mungkin
nanti ketika Indonesia telah berusia satu abad kemudian ingin mengetahui jumlah
dari bekas aktivis mahasiswa yang tidak berharap kekuasaan, mungkin hanya
beberapa gelintir orang saja. Jari tangan tidak akan kewalahan untuk
menghitungnya.
Dalam hal ini bukan berarti para
mahasiswa sebagai aktivis dan akademisi yang telah dididik dengan ilmu
pengetahuan dan metode modern tidak semestinya menempati posisi di
pemerintahan, bukan begitu maksudnya. Tetapi siapapun orangnya yang berada
diposisi penting dalam mengendalikan maslahat hidup orang banyak, dalam kancah
politik seharusnya mereka tidak mewarisi sifat dari Duryudana yang sombong dan
haus akan kekuasaan atau Dursasana yang bodoh karena hanya menuruti kemauan
kakaknya itu. Tidak juga dengan Yudistira yang lugu, sekalipun mempunyai
keadilan, dan menerima permainan dadu dengan mempertaruhkan seluruh miliknya,
termasuk saudara-saudaranya dan Drupadi. Tidak pula Karna yang merasa sakit
karena terdzolimi disepanjang hidupnya sehingga ia mesti mendukung rezim jahat
karena telah membela dirinya.
Beberapa watak dari kstaria dalam
wiracarita Mahabharata sering kali kita temukan pada para pejabat-pejabat
pemerintahan yang mana sebagian dari mereka adalah aktivis mahasiswa. hukum
timbal balik didemo oleh angkatan dibawah-bawahnya menjadi indikator kalau
sebenarnya ada yang tidak beres dalam perangai mereka ketika mengeluarkan
kebijakan dan keberpihakan. Apakah sedang dalam jelmaan Duryudana atau
Dursasana, jangan sampai tidak mengira bahwa orang sebijak Bisma juga akan
melakukan salah, karena ia diam ketika Drupadi dilucuti bajunya. Diam dalam
melihat sebuah kejahatan adalah kejahatan pula.
Kecuali ketika mereka menjabat
sebagai ksatria dalam watak yang baik, sekiranya matanya itu tidak
mengerjap-ngerjap ketika melihat kemilau dunia dan tidak resah saat isi kantong
sedang ludes, maka dari golongan mereka pasti ada yang seperti itu, seklaipun
langka. Jika tidak, sehingga tetap saja memaksakan diri untuk mencari sebuah
jabatan yang mana ia sebenarnya tidak mempunyai daya dan kemampuan untuk
mengembannya. Maka akan memalukan sekali, karena juniornya dari kalangan
aktivis mahasiswa akan mendemonya. Alasan, semisal, “kalian adek-adek mahasiswa
tidak mengerti dunia luar, yang kalian tahu hanya soal pikiran yang dipenuhi
isi buku” tidak lah berarti. Toh nyatanya dulu ia sewaktu jadi aktivis
mahasiswa pikirannya juga dijejali dengan berbagai teori.
Bagi aktivis mahasiswa yang
kiranya tidak mempunyai kapasitas dalam menjabat di arena birokrasi, maka
sebaiknya lebih awal saja untuk naik gunung menjadi seorang begawan. Seperti
begawan Parasurama yang mendidik Bisma agung, Guru Drona dan Adipati Karna atau
juga seperti Guru Drona yang mendidik para pangeran Astinapura. Jadi seorang
senior bukankah lebih baik menjadi begawan yang mendidik juniornya untuk
mengetahui teknik sebagai seorang demonstran yang baik dan benar, ahli loby dan
ahli tawar-menawar. Ketimbang, lagi-lagi harus disebut, jadi birokrat kalau
akhirnya juga keparat.
Post a Comment for "Para Aktivis Sebenarnya Mau Kemana?"