Tepat pukul 24.00 puluhan kader GP Ansor Tegalwangi telah bersiap-siap di rumah sahabat Qomarul Huda, Curah Putih Tegalwangi, dengan seragam, kaos berwarna hitam tepat di dada terdapat sebuah gambar perisai berwarna kuning ditengah-tengahnya segitiga berwarna hijau bertuliskan Ansor, dibawahnya terdapat tulisan “Pagar Baja Gerakan Kita”.
Para kader Ansor Ranting Tegalwangi tengah bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan pembacaan sholawat burdah. Sesuai dengan slogan yang ada pada kaos “pagar baja gerakan kita” yang dikutip dari mars GP Ansor karya H.Mahbub Djunaidi, kegiatan tersebut bertujuan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT, agar terhindar dan diselamatkan dari wabah covid 19 yang tengah mengintai dan mencemaskan Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.
Acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh kader Ansor saja, melainkan juga diikuti oleh beberapa tokoh agama, kyai dan ketua tanfidziyah ranting NU Tegalwangi turut serta dalam pembacaan qashidah burdah.
Sesuai dengan hasil rapat, pembacaan dilakukan di enam titik perbatasan desa Tegalwangi. Pertama, perbatasan Tegalwangi-Karang Duren yang dipisah oleh sungai, kedua, Tegalwangi-Tanjungsari yang dipisah oleh gladak pulosari, ketiga, Tegalwangi-Umbulsari yang dipisah oleh gladak penggung, sebgaimana masyarakat menyebutnya, keempat, Tegalwangi-Besuki, yang dipisah oleh gladak.
Dimana dari keempat perbatasan tersebut sebenarnya secara letak geografis desa Tegalwangi dipisah oleh aliran sungai yang sama. Masyarakat Tegalwangi atau secara khusus menamainya dengan kali kulon, karena posisinya berada dibarat. Kelima, perbatasan Tegalwangi-Paleran, yang dipisah oleh jalan, dan terakhir, yaitu titik keenam, perbatasan Tegalwangi-Paleran bagian selatan, yang dipisah pula oleh jalan dan ditandai dengan adanya tugu perbatasan.
Secara teknis pelaksanaan pembacaan qashidah Burdah karangan Imam Al-Bushiri yang berjumlah 160 bait dibagi kedalam enam bagian, menyesuaikan kepada enam titik perbatasan. Gus Fadil, putra dari Alm. KH. Abdul Basyir Muhyidin ditugaskan untuk membaca dan membagi bait-bait qashidah Burdah secara berkala ditiap-tiap titik.
Dari setiap bacaan di satu perbatasan akan diakhiri dengan do’a yang dalam hal ini akan dipanjatkan secara bergantian oleh beberapa tokoh agama dan kyai. Beberapa kyai yang mendapatkan tugas pembacaan do’a diantaranya Gus Tofa, Kyai Syamsul Hadi, Kyai Abd Rohim, Kyai Zaenul Arifin, khusus untuk ketua Tanfidziyah ranting NU Tegalwangi, Kyai Asmito, mendapatkan tugas untuk membaca tawassul pra-acara dan do’a di titik perbatasan terakhir.
Perlu diketahui bahwa acara tersebut, secara sengaja memang diadakan pada malam satu bulan Muharram. Sebagai pergantian dari tahun 1442 Hijriyah ke 1443 Hijriyah. Alasan di adakannya acara tersebut tengah malam adalah, pertama, tengah malam merupakan waktu istijabah, kedua, secara efektifitas, tengah malam merupakan waktu terhindarnya adanya kerumunan, mengingat kondisi masih pandemi dan dilarangnya adanya perkumpulan, oleh karena itu pada waktu tersebut sangat dimungkinkan tidak akan ada katerlibatan masyarakat dalam acara. Sehingga esensi dari kegiatan dapat terlaksana, yaitu memanjatkan do’a, dan mengabaikan sensasi, yaitu ramai-ramai.
Pada intinya, kegiatan ini bertujuan untuk memohon agar desa Tegalwangi terhindar dari bencana dalam bentuk pendemi covid 19. Sebagaimana telah diketahui bahwa segala kebijakan dan ikhtiyar dari pemerintah telah dilaksanakan maka perlu kiranya untuk mengembalikan segalanya kepada sang pencipta, dalam bentuk do’a dengan perantara bacaan qashidah Burdah yang berisi sanjungan-sanjungan kepada Nabi Muhammad SAW.
Hal tersebut sebagaimana terucap dalam sambutan terakhir, yaitu di titik perbatasan Tegalwangi-Paleran oleh ketua GP Ansor Ranting Tegalwangi sahabat Arif,”demikian bait demi bait telah kita baca secara seksama, dimana tiap bait kita selipkan do’a yang kita titipkan kepada Nabi Muhammad SAW, supaya wabah atau pandemi covid-19 ini segera diangkat di bumi tercinta kita ini”.
Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "GP Ansor Ranting Tegalwangi Membaca Qashidah Burdah di Enam Titik Perbatasan Desa"