Denting gamelan saling bersahutan dengan gong dan kenong. Menciptakan suasana syahdu pada gelapnya malam tanpa bintang-bintang. Aroma hujan tadi sore menambah sejuknya pikiran. Dimana sebelumnya telah membuat resah dan kalut panitia, jika hujan turun dengan derasnya, sedangkan acara akan berlangsung beberapa jam lagi.
Ternyata guyuran air yang turun sekedar membikin debu berhenti berhamburan ketika diterpa angin jalanan. Bacaan sholawat mengiringi tabuhan musik khas Nusantara itu. Tampak bergetar dari jejaring sound besar yang dipasang di ujung pelataran sampai di dada para hadirin.
Sejak Selasa pagi (26/10/2021) beberapa orang dari kader Ansor Tegalwangi lalu-lalang membawa kesibukannya masing-masing, karpet, sound system, panggung, bunga, bambu, hingga layar. Dalam rangka mempersiapkan acara pengajian, lebih tepatnya “Bincang Sejarah”. Sebagaimana tulisan yang tertera pada banner yang terpasang dijadikan background acara tersebut.
Acara tersebut bertempat di rumah sahabat Qomarul Huda, Curah Putih yang berdampingan dengan pondok pesantren Al-Ishlah. Pengajian yang dibahasakan dengan bincang sejarah tersebut bermaksud mengulas seputar Hari Santri Nasional. Diambil dari sudut pandang peneliti sejarah dari kalangan NU sendiri.
Dalam hal ini panitia mengundang seorang akademisi dan kyai muda yang menjabat sebagai rektor Inaifas Kencong, Gus Rijal Mumazziq Zionis. Sebagaimana didapati beliau menulis sebuah buku yang berjudul “Surabaya Kota Pahlawan Santri”. Buku yang ditulis dengan bahasa ringan dan anekdotis ini, ternyata membangunkan kesadaran sejarah pembaca. Bahwa menyebut Surabaya sebagai kota pahlawan saja tidak cukup harus ditambahi santri. Kenapa begitu? Sekitar satu jam lebih Gus Rijal memberikan ulasan akan pertanyaan dalam acara “Bincang Sejarah” tersebut.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh GP Ansor ranting Tegalwangi didesain agak berbeda. Jika biasanya ada panggung dengan background acara. Ceremonial dipimpin oleh seorang MC yang membacakan rentetan agenda. Maka dalam acara “Bincang Sejarah” secara agak rumit, dibuat layaknya perkuliahan. Disamping ada MC juga ada moderator. Sekalipun tanpa panggung tetapi ada layar dan LCD nya.
Ketika Gus Rijal hadir, sebagai seorang akademisi yang akrab dengan media pembelajaran modern, sontak merespon kondisi tersebut dengan mempersiapkan beberapa bahan berupa power point dan video pendek secara spontanitas. Dimana sebelumnya beliau tidak mengetahui, jika persiapan sedemikian rupa.
Saat acara berlangsung, beberapa kali cerita menarik dilontarkan kepada hadirin disambut gelak tawa riang gembira. Sajian berupa narasi sejarah yang tertimbun bertahun-tahun dalam bangunan kemerdekaan Indonesia, puing demi puing diangkat oleh beliau. Sebagai suatu pengetahuan baru, dimana sejak dulu kontribusi kyai dan santri dalam ikut serta berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan kurang diketahui oleh publik secara luas.
Sesekali video pendek diputar menambah bahan imajinasi para pendengar. Ketika pekik takbir dan orasi dari Bung Tomo diputar getaran puluhan tahun silam seolah masih terasa hingga hari ini. Galeri foto para kyai, mulai dari KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Abbas Buntet, KH As’ad Syamsul Arifin dan lainnya beliau tampilkan lewat power point beserta cerita kontribusi dalam mengawal kemerdekaan. Termasuk kisah dr. Soebandi dan Moch Sroeji yang diabadikan dengan sebuah patung di Kaliwates.
Ceramah dari Gus Rijal diakhiri dengan sesi tanya jawab. Moderator, Gus Ali Harozim, mempersilahkan dari audien untuk mengajukan pertanyaan. Sekalipun telah larut malam ceramah yang menarik menimbulkan rasa ingin tahu dari pendengar untuk mengupas lebih jauh, sehingga didapati seorang penanya yang mengajukan empat pertanyaan. Acara pun akhirnya selesai dengan lancar.
Tegalwangi, 29 Oktober 2021
Arif Prastyo Huzaeri

Post a Comment for "Pengajian Rasa Perkuliahan Bersama Gus Rijal Mumazziq Z"