Mode Baru Kecantikan: Gadis Berkacamata

 


Roland Barthes, seorang semiolog yang mempraktikkan teori-teori Ferdinand De Saussure, dengan jeli melihat kacamata bukan sekedar sebagai tanda orang jenius melainkan orang yang berkebutuhan khusus, sebab kebiasaan fokus dalam jarak dekat, baca buku, semisal, atau banyak main game, sebagaimana di zaman sekarang. Tetapi ketika masyarakat mengasosiasikan kacamata hanya sebagai tanda orang jenius maka itulah mitos, menurutnya. Disamping menunjuk kepada kelebihan, anak pandai, juga menyiratkan kekurangan, yaitu mata minus.

Bahkan di era sekarang kacamata tidak hanya sebagai tanda orang pintar, kutu buku dan pemain game. Beberapa gadis menggemari menggunakan aksesoris itu untuk menambah daya cantik mereka, semakin indah dan menawan. Bola mata yang dengan tatapan pucat pasinya setelah diberi kacamata tampak berbinar terang, seolah ada cahaya kuat yang menyertainya dan seolah ada sesuatu rumit sebagai jenis keindahan untuk dijelaskan, tetapi terang sekali dalam pemahaman. Sangat terbukti sekali setelah kacamata dilepas dan tanpa aksesoris tampak sebenarnya bentuk aslinya, keanggunan dan keindahan berkurang.

Model kacamata yang dipilih adalah yang putih bukan gelap. Artinya dari kedua pasang mata tersebut sesungguhnya hanya membutuhkan hiasan yang mengelilingi sekitar area alis saja, tidak untuk menutupi bahasa mata yang dengannya, para gadis terlihat lebih jujur dari bahasa ucapnya. Berbeda sekali dengan mereka, kaum lelaki khususnya yang kurang mempunyai rasa percaya diri atau agar mata jelalatannya tidak ketahuan, ditutupi dengan kacamata gelap.

Para gadis lebih percaya diri daripada lelaki atau bisa dikatakan tidak mempunyai tabiat jelalatan, hanya saja mereka tidak percaya diri apabila tanpa hiasan. Menyoal dari bahasa mata para gadis, dengan adanya kacamata mau tidak mau bisa dikatakan kalau mereka setelah menggunakan kacamata hias, gerak hatinya lebih sulit untuk diterka, sekalipun kacamata bening, ada sekat yang menghalangi pembacaan bahasa mata tersebut, meskipun ketika matanya berkaca-kaca, kedipannya menjadi sering, layu dan sebal masih tampak, sayangnya kurang terdeteksi lebih jelas.

Mengikuti mode, pilihan para gadis tidak hanya pada kacamata dengan lensa bening, ada yang kuning tetapi tetap tembus pandang, ada yang fungsional, semisal ketika terkena cahaya beralih menjadi lebih gelap. Pada intinya semua itu mempunyai arti untuk para gadis sebagai jalan dan cara merawat keindahan dan menghias nilai kecantikan. Pokok soal penampilan diri gadis-gadis selalu berjuang secara optimal.

Karena bagian terindah dari wanita, khususnya para gadis adalah dari matanya. Hanya dengan mata tersebut dapat diketahui pesona batin mereka, juga lewat mata tersebutlah terpancarnya kejujuran yang tidak dimiliki lelaki. Karena kaum Adam bisa meniupkan seribu tipu muslihat dari ucapannya sedangkan bahasa mata bisa mendukungnya, tetapi wanita sekali saja mulutnya berdusta matanya tidak bisa berkelit dari kebenaran. Tetapi setelah terjadinya mode kecantikan gaya baru, yaitu dengan kacamata, kejujuran seolah sedang terhalangi, bukan tidak tersampaikan tetapi tersamarkan.

Kacamata mempunyai arti khusus bagi wanita sebagaimana mereka mengartikan beautifull adalah segalanya. Oleh karena itu kacamata juga segalanya. Mungkin hari ini mode kecantikan berada pada kacamata, entah suatu saat ada pergeseran cara pikir dalam menilai kecantikan, maka seluruh wanita dipelosok dunia juga akan mengejar, bukan pada benda yang menandainya, melainkan pada makna kecantikan yang melekat pada benda apapun itu.

Arif Prastyo Huzaeri

05-05-2022

 

 

Post a Comment for "Mode Baru Kecantikan: Gadis Berkacamata"