Mahasiswa: Sebuah Komedi Pergeseran Dari Sisi Kiri

Pada tahun 1969 Jurgen Habermas menerbitkan sebuah tulisan yang berjudul Protestbewegung und Hochschulreform (Gerakan oposisi dan pembahasan perguruan tinggi). Dalam tulisannya tersebut Habermas mengkritik aksi-aksi yang dilancarkan oleh gerakan mahasiswa, yang menurut perkiraannya sudah tidak lagi produktif, sebuah revolusi palsu. Pada tahun-tahun sebelumnya ia merupakan seorang pemikir marxis yang digandrungi oleh kelompok mahasiswa yang memperkenalkan dirinya dengan identitas Sozialistischer Deutsche Studentenbund (Kelompok Mahasiswa Sosialis Jerman), bahkan ia adalah salah seorang dari ideolognya. Akibat tulisan tersebut, ia mendapatkan reaksi dari para mahasiswa tersebut, sehingga hubungannya harus segera kandas. Konflik antara dirinya dengan para mahasiswa yang bernafaskan kiri tersebut mendorongnya untuk meninggalkan Universitas Frankfurt. Kemudian ia menerima tawaran untuk menjadi peneliti di Max Planck Institute di kota Stanberg.

Ironi yang terjadi pada peristiwa tersebut tidak bisa dilihat hanya dari satu pihak saja, seolah Habermas telah berkhianat dengan pemikiran-pemikirannya yang telah ia bina sejak masa muda. Sebagai salah seorang pemikir marxis paling berhasil, dibandingkan pendahulunya Max Hokheimer dan Theodor Adorno, pemikiran Habermas justru bergerak ke arah yang lebih matang dan lebih rasional dalam arti sebuah pemikiran harus bisa meletakkan akar-akarnya diatas daratan, tidak lagi terbang di awang-awang dalam suatu imajinasi populis-utopis. Kira-kira kondisi tersebutlah yang sedang terjadi dalam dunia fiksi para mahasiswa. Semangat muda yang menggebu-gebu dalam mengejar dan terus ingin memastikan arti keadilan memberikan kelupaan kepada para mahasiswa bahwa dirinya tidak hanya sedang tanpa sabuk pengaman, tetapi sudah lepas landas terlalu tinggi yang tanpa ada perhitungan pasti bisa mendarat secara nyata.

Sebuah semangat mudah saja untuk dipastikan kemana orientasinya, tetapi suatu ide dan pemikiran tidak semudah itu untuk bisa dimanifestasikan menjadi fakta. Jika seorang ideology menyusun sebuah ide brilian tentang pemecahan masalah sosial dengan menawarkan suatu solusi, akan tetapi tidak relate dengan kehidupan bisa jadi buku-buku tebal yang ia susun sedemikian rumitnya dangan metodologi yang benar-benar canggih bisa bergeser ke rak buku dalam kategori novel fiksi. Bukankah itu yang terjadi pada negara idaman Plato? Saya tidak mengetahui apakah Habermas sudah mulai merasa atau bahkan cemas ide tentang marxisme tidak pernah bisa bercokol di tanah hanya menjadi semangat pembebasan dan fiksi yang terus menerus berkembang dalam alam pikir mahasiswa. Tetapi setidaknya kritik yang ia lancarkan menandai bahwa konsumsi-konsumsi marxisme yang dilakukan oleh mahasiswa dan berujung pada manifestasi pada ranah perbuatan, yaitu aksi-aksi massa, merupakan tindakan yang irrasional. Seorang pemikir besar seperti beliau, tidak akan menyia-nyiakan waktunya untuk mengabadikan sesuatu yang jauh dari rasionalitas.

Sebuah pertanyaan untuk hari ini, apakah gelombang aksi-aksi massa mahasiswa dengan semangat pembebasan dan terusan menagih kembali bentuk konkrit dari keadilan dari satu tapak aspal ke aspal yang lain terjinakkan setelah masuk ke dalam system?

Orang yang pertama kali yang menyodorkan jawaban “tidak terjinakkan” pertama kali dan paling kita kenal ketenarannya adalah Soe Hok Gie. Dia lah yang paling getol mengkritik orde lama secara keras tanpa tedeng aling-aling dengan tulisan dan corong pengeras suara yang ia arahkan ke telinga pemerintah. Setelah akumulasi kuasa orde lama mulai menurun ia tetap mengambil sikap sebagaimana apa dan posisinya dulu. Beberapa kawan bersama yang turut turun ke jalan dulu kemudian masuk ke dalam system, Gie mengirimi hadiah dalam bentuk kode ejekan, seperti lipstick. Sebagai sebuah pertanda bahwa mereka yang dulunya keras menjadi oposisi pemerintah justru menjadi karib dan menepati posisi yang sebenarnya akan terus diwaspadai dan dicurigai penyelewengan keadilannya.

Tetapi nasib sial menimpanya, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27 ia meninggal setelah menghirup uap beracun dalam pendakiannya untuk yang terkahir kalinya di gunung Semeru. Dengan berakhirnya usia aktivis idealis tersebut, berakhir pula jawaban “tidak terjinakkan” dalam usia muda yang sedang mengalami transisi ke usia dewasa dengan segala hiruk-pikuk dan atribut kebutuhannya dalam menatap kehidupan dengan kondisi mapan, sehingga kerap banyak yang terpleset ke dalam bagian system, tergiur oleh pusaran oligarki dan stabilitas sosial. Gie yang mati muda secara fisik juga menandai kematian idealisme di usia muda. Menurut usia Gie, 27 kurang sehari, pada usia seperti itulah, atau bahkan lebih muda, banyak kalangan mahasiswa yang aktivis bergerak mengambil sudut pandang lain dalam merespon isu-isu politik. Jika pada usia mahasiswa baru hingga batas aktivisme jalanan berakhir, dengan adanya tawaran masuk pada system, persepsinya pun berubah dalam menilai isu politik.

Dapat kita lihat secara jelas dan runtut, beberapa angkatan yang memproklamirkan dirinya dengan angka tahun, seperti angkatan 1966, 1998 dll, adalah angkatan demonstran yang kemudian menaiki tahta dan bagian dari system lantas menjadi objek demonstrasi angkatan dibawahnya. Manakala mereka melakukan aksi-aksi massa, system dan pola pikiran yang terbentuk dalam mindsetnya tidak akan jauh berbeda dengan para demonstran yang ia hadapi kala itu. Terdapat pergeseran orientasi dalam menyikapi isu-isu di ranah politik saat menjadi aktivis jalanan hingga aktivis parlemen. Problemnya pergeseran itu berdasarkan apa? Apakah kecemasan irrasional yang menimpa saat segal usahanya akan sia-sia tanpa ada perubahan, sehingga langkah yang ditempuh tidak lain hanya akan berujung kepada cerita-cerita heroic saja yang pantas dan tampak keren layaknya dongeng? Ataukah mereka yang berjuang secara taklid buta tanpa dasar ideologis yang jelas, hingga mudah terlena dengan jabatan strategis? Kurang lebih dari itu semua, partisipasi politik yang ditempuh oleh pemuda saat menjadi mahasiswa atau setelahnya pasti mempunyai basic cultural yang ia bawa dan kembangkan.

Dari Modal Basic Cultural Menuju Orientasi Politik

Selalu terngiang dalam ingatan sebuah ucapan dari Betrand Russel, ketika melihat fenomena partisipasi politik yang dilakukan oleh siapapun, tidak sekedar dari kalangan mahasiswa saja.

“akar dari persoalan dunia adalah orang-orang baik dan berwawasan luas ragu dengan dirinya, sedangkan orang-orang bodoh, mereka begitu yakin dengan dirinya”     

Terdapat dua jenis model orang dalam pernyataan tersebut dan kedua-duanya bukanlah model yang diharapkan. Pertama orang baik dan berwawasan luas tetapi peragu dan kedua orang bodoh tetapi percaya diri. Yang diharapkan kedatangannya adalah mafhum mukholafah dari pernyataan tersebut, yaitu orang baik dan pintar yang yakin dengan dirinya. Apabila dikontekskan dengan Soe Hok Gie, yang kira-kira telah memenuhi dua persyaratan yang diharapkan, dan berusia panjang dalam mengawal berlangsungnya tujuan dari sebuah system demokrasi, bukan sekedar bagian dari system tersebut, melainkan sesuatu yang berada diluar dirinya dan menyangkut tujuan didirikannya negara, untuk kemaslahatan orang banyak. Tidak salah apabila medan yang ditempuh adalah politik, sebagaimana yang juga diorientasikan oleh Aristoteles dengan adanya politik adalah untuk mendistribusikan keadilan, bukan sekedar akumulasi kekuasaan sebanyak-banyaknya.

Buku yang ditulis oleh Fathullah Syahrul dengan judul “Politik Pemuda Nusantara” mencoba untuk menganalisis orientasi politik mahasiswa dalam perhelatan presiden pada tahun 2019 di kota Makasar. Mahasiswa yang dimaksud tercakup pada organisasi mahasiswa ekstra, diantaranya PMII, GMNI, HMI, PMKRI, IMM, KAMMI, GMKI dan GEMA Pembebasan. Penulis memaparkan secara deskriptif orientasi mahasiswa dengan nalar positivis, para aktivis yang merespon aktivitas politik, sebagaimana yang ditemukan dalam penelitian penulis, terkategorikan dalam tiga aspek, kognitif adalah kepercayaan organisasi mahasiswa untuk menilai system politik yang disandarkan kepada penyelenggara pemilu, afektif adalah sikap organisasi mahasiswa dalam melakukan penguatan pengetahuan dalam berpolitik dan berdemokrasi, evaluative adalah keputusan dan pendapat organisasi mahasiswa yang berkaitan dengan evaluasi normative, moral politik dan etika politik.

Menurut kami ada hal yang perlu diperhatikan Syahrul ketika mencoba untuk mengulik dan mengurai orientasi politik mahasiswa, yaitu basic cultural yang dimiliki oleh masing-masing organisasi mahasiswa ekstra yang mana dapat mempengaruhi keberpihakan dan secara tidak langsung menjadi basis massa atau oposisi terhadap kandidat presiden dengan pertimbangan-pertimbangan ideologis dan strategis masing-masing organisasi. Tidak bisa menutup kemungkinan, sekalipun dalam AD ART organisasi-organisasi tersebut menolak adanya politik praktis dalam tubuh organisasi, tetapi pengaruh atmosfer organisasi, akar dasar pertumbuhan dan wacana yang dikembangkan jelas akan mengarah untuk pro atau kontra kepada kandidat, entah akan memunculkan respon sebelum pemilu atau pasca hasil pemilu. Dari basic cultural yang memungkinkan orientasi keberpihakan politik memang harus diulas dengan nalar kritis yang mana harus mempertautkan dengan adanya kepentingan.

Pertama, akar ideologi, dari ke delapan organisasisi mahasiswa ekstra dalam asal-usul keberadaaan dan pertumbuhan jelas mempunyai dasar ideologis yang kuat yang dapat dilihat dari visi dan misi organisasi. Untuk mewujudkan apa yang memang menjadi cita-cita dan alasan eksistensinya di setiap jenjang, masa dan perhelatan kepentingan makro akan menentukan sikap untuk menitipkan kepentingan mikro atau memungkinkan adanya peluang terdekat dari tercapainya kepentingan internal dan adanya kesamaan yang hendak diwujudkan. Dari beberapa variable dasar ideology diantaranya, nasionalisme, Islam moderat, Islam modern, tradisionalisme, marhaenisme dsb. Dari para kandidat yang tampil untuk berkontestasi, pasti mempunyai kesamaan visi. Oleh karena itu sangat membuka kemungkinan dari kesamaan tersebut akan adanya keberpihakan, sekalipun pemihakan tidak lantas secara gamblang tampak di permukaan munculnya wacana yang memberikan indikasi cukup mempengaruhi adanya massa pendukung atau oposisi dilintas kalangan organisasi mahasiswa.

Kedua, kaderisasi, salah satu kemewahan dari para mahasiswa aktivis, yang menjadi kader organisasi ekstra mahasiswa, adalah keluasan chanel. Dari masing-masing organisasi mempunyai relasi yang baik dan terkoneksi dari bawah hingga ke atas secara structural maupun cultural, secara individual maupun cukup sekedar institusional. Beberapa aktivis yang mempunyai karir politik cukup baik, yang dulunya adalah aktivis jalanan kemudian menjadi aktivis parlemen, akan tetap membangun koneksinya ke akar rumput, hubungan tersebut bersifat simbiosis mutualisme. Saling membutuhkan dan saling memberi manfaat kepada dua belah pihak. Ketika terjadi momen-momen politik, akan sangat membuka kemungkinan hubungan antara senior-junior yang berlandaskan organisasi dengan maksud penguatan lembaga dan kader dapat berubah menjadi pendidikan politik. Diskusi-diskusi politik tidak hanyak sekedar menjadikan melek terhadap situasi, intrik dan fenaomena politik kala itu juga akan terjadi penggiringan opini untuk kemudian menguatkan salah satu kandidat dengan alasan-alasan tertentu, sekalian menggugurkan kandidat yang lain.

Ketiga, naluri organisatoris, manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan manusia lain di satu sisi, tetapi di sisi yang lain juga mempunyai kewaspadaan dengan yang lain, karena secara tabiat manusia bisa jadi menjadi penolong atau pemangsa. Organisasi merupakan wadah yang digunakan untuk menampung aspirasi dari masing-masing individu, adanya kesamaan aspirasi dari tiap-tiap individu memungkinkan untuk bernaung di organisasi yang sama. Dalam mewujudkan cita-cita organisasi para pengurus akan berpikir keras untuk menggunakan strategi dan taktik, dari kebiasaan mereka dalam mengkordinir dan mengorganisir akan menumbuhkan naluri organisatoris setiap tantangan yang dihadapi akan meningkatkan ketrampilan dalam mengelola banyak karakter. Dari dasar naluri organisasi akan tumbuh bakat naluri politik, lebih-lebih kemampuan dalam membaca psikologi massa.

Sebagai suatu realitas dari sebuah konsekuensi politik, seseorang akan dituntut untuk menentukan pilihannya, lebih-lebih ketika bicara tentang suatu organisasi. Sekalipun bisa jadi tidak tampak pada permukaan tetapi hubungan emosional kelembagaan dengan kultur yang dimiliki kandidat tambah lagi dengan adanya para pendukung yang berafiliasi akan mendorong untuk mempunyai kedekatan dan alasan memilih dan mendukung. Setidak-tidaknya dengan adanya akar ideology yang sama menjadi alasan untuk dekat sekalipun tidak mengumumkan dukungan. Pertautan antara konsumsi pengetahuan dengan orientasi kepentingan menjadi sebuah keniscayaaan yang tidak bisa diabaikan dan ditangguhkan.

Dari Orientasi ke Afiliasi

Syahrul menyuguhkan sebuah deskripsi orientasi politik dari kalangan organisasi mahasiswa ekstra dengan menampilkan tanggapan organisasi kepada seperangkat dan system yang melingkupi pemilihan presiden pada tahun 2019 di kota Makasar. Ada hal yang menurut kami terlewatkan atau memang dilewatkan karena diluar fokus kajian. Tetapi hal tersebut tetap menjadi bagian yang tidak bisa terelakkan, dari masing-masing organisasi setiap pendapat yang diajukan sesuai dengan pertanyaan tidak bisa dipungkiri mempunyai landasan keberpihakan kepada kandidat. Kepercayaan kepada penyelenggara, sanggahan terhadap aturan pemilu, dan tanggapan atas strategi pendukung adalah merupakan wacana politik, karena mereka per-individu mempunyai status hak pilih.

Setiap wacana yang dilontarkan akan mempunyai potensi kritik ideology, status keberpihakan akan tampak apabila ditelisik dengan menggunakan nalar kritis untuk menyingkap pertautan antara pengetahuan dan kepentingan. Mahasiswa merupakan salah satu lapisan dari masyarakat yang juga cukup diperhitungkan eksistensinya dalam menggambarkan bentuk demokrasi, posisi dan sikap dari mahasiswa mempunyai fasilitas untuk mempengaruhi wacana public, sekalipun dari sekian jumlah penduduk hanya beberapa persen saja mahasiswa tersebut.

Seandainya dalam akumulasi suara hanya memberikan sedikit saja angka, tetapi gaung yang ditimbulkan cukup menarik perhatian massa. Mau tidak mau posisi mahasiswa tidak lebih dari media, yaitu pembuluh darah demokrasi. Dengan demikian jumlah mahasiswa yang tidak seberapa, tetapi secara kaulitatif dari sorotan para awak media akan sikap dan wacana yang dikembangkan mampu meningkatkan atau mengurangi elektabilitas para kandidat. Hal ini yang belum tercover secara sistematis dalam buku tersebut.        

Post a Comment for " Mahasiswa: Sebuah Komedi Pergeseran Dari Sisi Kiri"