Orang kecewa berarti ia salah memilih tiang untuk bersandar, karena terlalu rapuh, rentan dan memang tidak layak untuk dijadikan. Tetapi ia sendiri terlalu meyakininya sebagai satu-satunya yang bisa menopang beban hidup tubuhnya. Semakin yakin maka rasa kecewa pun semakin perih dirasa. Apabila ia menyiapkan dua opsi, atau lebih, sandaran dan ternyata yang satu tidak bisa diandalkan maka jiwanya tidak akan lantas cedera. Karena masih ada harapan dari yang lain, baru setelah semua yang diandalkan tidak bisa terealisasi dari situlah kekecewaan timbul.
Setidaknya ada dua faktor yang menjadikan rasa kecewa muncul, yang mana sama-sama dengan syarat bahwa yang menjadi sandaran dan harapan tidak bisa mewujudkannya. pertama, faktor internal, ialah berasal dari kemampuan diri sendiri, bisa kerja keras, pikiran, kekayaan yang digunakan sebagai media untuk mencapai sesuatu tujuan. Yang berujung pada kegagalan, sehingga kecewa.
Kedua, faktor eksternal, berasal dari harapan kepada sesuatu, entah orang atau yang bukan orang seperti cuaca, keadaan dan benda mati lainnya. Dan segala yang diharapkan kepada sesuatu yang diluar kita, ternyata berujung pada sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan. Akhirnya menjadi kecewa. Faktor eksternal dan internal mempunyai kesamaan yaitu sama-sama makhluk.
Terasa naif ketika harapan dilekatkan kepada orang lain, pasalnya, diri sendiri saja yang mempunyai kepentingan akan suatu hal tidak bisa merealisasikannya, bagaimana mungkin orang lain bisa. Seandainya orang lain tersebut mengetahui keuntungan dari tujuan yang kita inginkan, pastinya ia akan mewujudkan untuk dirinya sendiri tidak untuk kita.
Jadi, terdapat tingkatan kekecewaan dan kita bebas memilih, meskipun kita akan senantiasa berjuang supaya tidak pernah merasakannya, rasa kecewa yang terhormat berasal dari usaha kita sendiri yang gagal. Apabila kita meletakkan pada orang lain dan gagal, berarti ada campur tangan orang lain yang secara tidak langsung turut membantu kegagalan kita.
Bukan dalam arti segala usaha dan bantuan orang lain adalah kesia-siaan, tetapi sebenarnya ada yang tidak mengecewakan kita dan satu-satunya yang berkuasa dan berwenang atas segalanya secara mutlak, yaitu Allah. Setelah kita mempunyai keyakinan akan hal tersebut, kita tidak akan lagi merasakan sakitnya kecewa.
Apabila sesuatu yang kita inginkan nyatanya tidak berhasil, itu artinya Allah tidak menghendakinya. Sekalipun dengan usaha paling maksimal, ide paling jitu dan bantuan dari orang lain sudah hampir segalanya, secara hukum alam pun sudah teramat rasional. Jika Allah tidak menghendaki maka tidak akan terjadi, karena bisa jadi apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kapasitas kita.
Untuk itu dalam memohon dan berharap upayakan apa yang kita inginkan adalah sesuai dengan kapasitas diri. Apabila belum, maka upayakan untuk mengasah diri sendiri. Bagaimanapun kita tetap wajib berusaha dalam segala hal, tetapi tidak wajib untuk sukses. Jika setelah berusaha sekuat tenaga lantas gagal dan kita kecewa berarti ada yang salah dalam diri sendiri.

Post a Comment for "Kecewa"