Tetapi tidak untuk jomblo, apalagi yang berasal dari angkatan 90-an. Disamping suasana menarik sebagaimana yang disebutkan tetapi juga berpadu dengan suasana getir-getir cemas. Bagaimana tidak? Pasalnya sebulan puasa setelah itu hari raya. Pertanyaan yang sangat mengerikan pada saat momen kumpul keluarga saat hari raya adalah kok masih sendirian? Mana pasangannya? Mau sampai kapan? Lihat teman mu itu si anu sudah bawa gandengan, dua lagi? Gak mau gendong kayak si anu itu? Sudah punya kerjaan mau cari apa lagi? Gak perlu ragu dan khawatir dengan rezeki, sudah ada yang ngatur. Dan seribu lagi kalimat dengan konotasi sejenis. Apabila dalam posisi sebagai bagian keluarga besar, maka besar pula pertanyaan yang diajukan. Berat.
Saya juga tidak habis pikir, kenapa mereka yang telah berhasil mengekang hawa nafsunya dengan cara berpuasa, masih saja melontarkan kalimat yang membuat orang lain merasa insecure menrima kenyataan yang bersifat taken for granted. Aneh.
Bagaimanapun itu, tetap saja fakta harus dihadapi secara ksatria. Artinya jombo sebagai pelengkap penderitaan pada momen ini harus siap sedia, lapang dada, menyiapkan kalimat yang santun dengan senyuman yang diracik seikhlas mungkin ketika pertanyaan-pertanyaan semacam itu dilontarkan secara bertubi-tubi. Jangan sekali-kali memasang wajah yang emosional, karena percuma mereka akan terus menggerogoti mental sampai titik darah penghabisan, tidak peduli dengan konsekuensi yang akan terjadi. Karena mereka adalah golongan dari orang-orang yang jarang berpikir pada konteks ini. Semisal dengan mempertimbangkan variabel takdir. Untuk itu sebisa mungkin menguatkan diri, tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata dari Karl Marx, “Jomblo (Buruh) sedunia bersatulah”.
Sebagai satu fakta yang harus dihadapi dan tidak ada kesempatan atau alasan untuk meyingkir, maka tidak ada cara lain, selain harus mencari cara dengan menyusun argumentasi untuk memenangkan situasi. Pada konteks hari raya yang backgroundnya ceria, jangan sampai diperkeruh apabila terdapat pertanyaan yang membuat murung, tetap ditimpali dengan jawaban yang membuat ceria pula. Apabila sudah tidak bisa, terpaksa harus berjibaku sekiranya menang saja. Meskipun harus dengan menyerang pribadi orang lain, daripada karakter sendiri mati dibunuh oleh mereka yang tidak berperi kemanusiaan itu. Apapun kondisi yang dihadapi sebagai jomblo yang ksatria jangan sampai lari dari kenyataan harus dihadapi dengan cara apapun dan berani. Berikut argumentasi sebagai alternatif jawaban yang telah saya pikirkan dalam-dalam untuk menghadapi orang-orang tidak menyenangkan itu.
Pertama, bawa ke pojok, maksudnya bawa ke wilayah yang mana bukan menjadi kendali kita, karena termasuk wewenang Tuhan. Apabila ada yang bertanya, “tahun kemarin sendirian dan sekarang sendirian lagi, sampai kapan terus begini?” jawab saja,”tahun kemarin adalah ketentuan Tuhan sekarang pun masih begitu. Soal jodoh seperti hidup dan mati hanya Tuhan yang tahu (kutipan dari surat Ibu Sinta Nuriyah kepada Gus Dur)”. “kalau tidak usaha mana mungkin ketemu?”, timpali saja ”masak kalau mau usaha mau omong-omong”. Jadi jawab saja dengan sesuatu yang sebetulnya tidak bisa menjadi bahan diskusi atau undebateable.
Kedua, serang secara pribadi (ad hominem), pastikan kita mengetahui betul latar belakang orang yang menyerang kita. Semisal kondisi ekonomi, keluarga, kelemahan dan privilege-privilege yang ia miliki untuk kita bandingkan dengan kondisi kita. Dibawa ke alur logika, bahwa seandainya kita memiliki apa yang dia miliki maka semuanya akan terjadi nyaris bersamaan, tetapi karena kondisi berbeda maka semuanya pun niscaya berbeda pula. Apabila kita tidak memiliki data tersebut, langkah yang kita buat adalah dengan balik bertanya, semisal diberi pertanyaan, “sampai hari ini kok belum menikah?”, balik bertanya dengan kalimat, “lha dulu anda menikah usia berapa?”. Jika ia menjawab usia pernikahannya lebih tua dari usia kita, semisal usia kita 25 tahun dan ia menikah di usia 26 tahun, maka katakan saja, “usia saya lho masih 25 tahun, lebih muda dari usia anda waktu menikah”. Apabila ternyata ia menikah di usia lebih muda dari usia kita sekarang, maka jawab saja dengan menyatakan bahwa di usia ketika dirinya menikah kita dalam proses pengembangan diri, semisal kuliah, kerja demi menata kehidupan yang layak, karena dengan begitu akan menunjukkan tingkat kualitas kita. Jangan menyatakan pada saat di usia yang sama saat dia menikah kita sedang melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, semisal kluyuran tidak jelas atau apapun yang memungkinkan kurang prestisius.
Kedua argumen tersebut memang dirasa cukup keras, tetapi bagaimanapun juga mereka yang bicara perkara takdir dalam spektrum sosial adalah mereka yang cukup arogan. Sehingga saya rasa tidak salah untuk menjawabnya dengan argumentasi tersebut. Alih-alih kalau ada yang menyindir dengan kalimat, semisal, “kalau mau, disana ada, jika berkenan bisa tak bantu”. Jika ada yang berkata seperti itu, kita harus ingat seorang ksatria yang masih jomblo tetap harus bisa membuat keputusannya secara independen tidak diintervensi oleh siapapun sekalipun sudah terdistorsi oleh sistem sosial-budaya yang mengerikan.

Post a Comment for "Bulan Ramadhan, Waktunya Jomblo menyusun Argementasi Perlawanan Bila Ditanya Saat Hari Raya,”Kapan Nikahnya?”"