Oda menggambarkan Luffy dengan karakter konyol, hal ini
memungkinkan daya tarik serial One Piece bisa dan digemari oleh kalangan
anak-anak. Akan tetapi di sisi yang lain, Oda juga menampilkan sisi lain yang
bertentangan, kalau ternyata Luffy mempunyai watak terlampau bijak. Hal ini
terlihat salah satunya saat di arc Jaya. Persisnya ketika Luffy, Nami dan Zoro
bertemu dengan Bellamy di sebuah Cafe atau tempat nongkrong.
Perlu dijelaskan sebelumnya, Bellamy adalah tipikal
antagonis di arc Jaya. Kelak bertemu kembali di arc Dressrosa setelah timeskip sebagai anggota bajak laut
Donquixote, dibawah asuhan Doflamingo. Penampilannya dengan tubuh kekar,
berotot sempurna, berkulit sawo matang dan berambut kuning mirip rumput sehabis
di racun menggunakan herbisida. Dari penampilan fisik tersebut, tersimpan watak
dalam tubuh tersebut sebuah kesombongan.
Kemampuan bertarungnya berasal dari devil fruit, Bane Bane Nomi, yang akan memberikan kekuatan kepada
penggunanya dengan daya pegas, dapat memantulkan tubuh dengan kekuatan yang
sangat tinggi.
Bellamy menertawakan Luffy habis-habisan akan sebuah arah
tujuannya ke pulau langit. Menurutnya destinasi kru bajak laut Mugiwara tidak
pernah ada. Bersama dengan kawan-kawannya, yaitu anggota bajak lautnya
menertawakan sebuah impian dari Luffy dan krunya. Tidak berhenti sampai disitu
kesombongan si rambut pirang ini, ia juga secara sadar diri memandang rendah
Bounty yang dimiliki oleh Luffy. Bellamy tidak percaya bagaimana mungkin orang
kurus kering seperti Luffy mendapatkan Bounty sebesar itu.
Nami yang telah terlampau emosi akibat mulut Bellamy dan
kawan-kawannya, berubah pikiran. Awalnya ia melarang Zoro dan Luffy berkelahi,
merasa telinganya mendidih ia justru menyuruh kapten dan wakil kaptennya untuk
menghajar orang-orang tengik yang tidak bisa mengendalikan mulutnya itu.
Disinilah kebijaksanaan Luffy, pertama kali ia mencegah Zoro
untuk melawan dan selanjutnya ia terus saja menerima hinaan bahkan pukulan dari
Bellamy secara terus menerus. Seolah-olah ia lupa pernah mengalahkan penjajah
di desanya Nami, Arlong dan juga telah melumpuhkan pasukan bawah tanah yang
hendak melakukan kudeta di Alabasta bahkan mencabut sampai ke akar-akarnya,
ditandai dengan tumbangnya Crocodile selaku pemimpin utamanya. Luffy dan Zoro
akhirnya pulang dengan tubuh babak belur, bahkan kepergiannya dari Cafe
tersebut diseret oleh Nami.
Mengapa Luffy tidak melawan? Penonton dari kalangan anak-anak
barangkali tidak akan faham, bisa jadi kebingungan dengan menggantungkan tanda
tanya di kepalanya mengapa. Bisa pula
kecewa atas tindakan kapten topi jerami karena tidak melawan. Disinilah harga
sebuah impian. Sebuah impian benar-benar dikatakan tinggi setelah ia
mendapatkan hinaan dan makian dari orang lain yang tidak pernah bisa bermimpi.
Sebuah impian merupakan aktivitas pribadi, yang mana sulit
untuk mendapatkan tempat di kepala orang lain. Oleh karena itu, setelah
dianggap aneh dan dihina baru kemudian hal tersebut bisa dikatakan sebagai
benar-benar impian. Ketika ia terlampau mudah untuk dicerna oleh pikiran
khalayak umum atau merupakan dambaan dari orang banyak, maka impian tersebut
bukan lagi sesuatu yang spesial.
Luffy tidak melawan, ia sadar betul bahwa upayanya untuk
memukul balik sama artinya dengan memaksa orang lain untuk memahami impiannya. Hal
tersebut adalah mustahil. Ia rela dikoyak-koyak tidak hanya dari segi ragawi
tetapi juga dari segi harga dirinya, untuk menunjukkan bahwa harga dari
impiannya lebih tinggi dan tidak pernah bisa difahami dengan kesombongan yang
dimiliki oleh Bellamy.
Hanya orang yang mempunyai impian saja yang mampu
memahaminya. Hal ini tampak saat Nami menyeret dua kawannya untuk pulang dengan
hati kesal tidak sengaja bertemu Marshall D.Teach. orang besar bertubuh gelap
ini mengatakan bahwa pemenangnya adalah kelompok Topi Jerami, sedangkan Bellamy
dan kawan-kawannya telah kalah.
Istilah menang dan kalah yang diucapkan oleh buronan dari
buronan Bajak Laut Shirohige ini sangatlah sukar untuk diartikan. Baru bisa
dimengerti setelah mengikuti banyak episode One Piece. Apabilah di kontekskan
dalam kehidupan yang riil, di dunia nyata, baru akan bisa dipahami setelah
orang yang mempunyai impian berhasil mencapainya atau setidaknya orang tersebut
menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya karena melalui
proses-proses yang beraneka banyaknya. Sedangkan orang seperti Bellamy saat itu
hanya akan bisa melongo.
Luffy tidak mau menghajar Bellamy untuk menunjukkan arti dan
harga dari sebuah mimpi. Akan tetapi untuk harga pertemanan, ia tidak mau salah
seorang dari temannya terluka. Maka pada malam harinya ketika kakek kepala
ketupat dirampok oleh Bellamy, Luffy tidak segan-segan mengunjungi Cafe di
tempat dimana ia dihina. Untuk mengambil emasnya. Saat itu pula seluruh
pengunjung Cafe mengerti kemampuan dari nilai Bounty Luffy. Hanya dengan sekali
pukul Bellamy tersungkur.
Post a Comment for "Harga dari Sebuah Impian Adalah Hinaan "