Zoro dengan tegas dan berani menyatakan tidak percaya kepada
adanya Dewa. Kalimat tersebut dikatakan oleh pendekar pedang dan wakil kapten
Bajak Laut Topi Jerami, saat mencapai pulau yang berada diatas langit. Sebuah
pulau yang memang benar-benar aneh, lebih dapat dipercaya untuk dianggap tidak
ada. Tetapi pulau tersebut benar-benar ada, setelah sebelumnya Luffy diejek
oleh Bellamy dan kawan-kawannya.
Kumpulan cerita dalam pulau tersebut terdapat pada arc
Skypia. Wilayah yang dikuasai oleh seorang bertubuh tingg, besar, tegap,
bernama Enel. Orang inilah yang mengaku sebagai Dewa dan bersikap
sewenang-wenang. Adapun Zoro tidak percaya dan Luffy menyerangnya
habis-habisan, hingga kemenangan bisa dicapai sekaligus pembuktian bahwa Enel
bukanlah Dewa. Sebagaimana yang ia paksakan kepada rakya Skypia untuk
dipercaya.
Enel mendapatkan kepercayaan sebagai Dewa, dikarenakan ia
membuktikan beberapa kelebihan dari anugerah yang ia miliki. Salah satunya
adalah berkat buah iblis yang ia konsumsi, berjuluk Goro Goro Nomi (tipe
logia). Memberikan kekuatan untuk mampu mengeluarkan petir dengan tegangan
semaunya. Siapapun yang menghadapi Enel, tidak satupun bisa selamat. Enel
tinggal mengeluarkan petir, kemarahan yang ia miliki akan memberi dampak pada
voltase petir itu dikeluarkan.
Selain itu, ia juga memiliki sebuah mantra untuk bisa
mendengarkan percakapan orang dari jarak jauh. Ia juga bisa mengetahui posisi
orang tersebut, hal ini lebih signifikan nilainya apabila orang yang dideteksi
adalah musuh yang sedang mengendap-endap hendak menyerangnya. Oleh karena itu
tidak ada satupun warga Skypia yang berhasil mengalahkannya. Termasuk pemimpin
sebelumnya, Gan Fall.
Mantra yang dimaksud, di kemudian series One Piece dikenal
dengan sebutan Haki. Secara spesifik masuk dalam kategori Kenbunshoku Haki.
Sebuah kekuatan untuk mengobservasi secara mendetail. Melalui buah iblis dan
Haki yang dimiliki, Enel merekognisi dirinya sebagai seorang Dewa dan
masyarakat Skypia terpengaruh.
Relasi masyarakat Skypia dengan Enel dipertontonkan tidak
lebih antara tuan dan budak. Enel bertindak sesuka hatinya, dengan riang
gembira ia meluluhlantakan seluruh kesadaran masyarakat, sehingga secara mutlak
menjadi objek yang dikuasai. Enel memang benar-benar bertindak layaknya dewa
yang paling berkuasa tiada tanding, dimanapun gerak dan ghibah yang dimunculkan
oleh salah seorang warga, selalu diketahuinya. Haki atau mantra yang ia kuasai,
benar-benar digunakan layaknya dewa yang selalu dan serba tahu.
Masyarakat Skypia merasa getir dan waswas apabila
memperbincangkan Enel, karena tindakan tersebut bisa berujung pada sebuah azab,
berupa petir Thor, yang keluar secara tiba-tiba. Tidak ada satupun yang berani
untuk melakukan pemberontakan, jangankan upaya-upaya perlawanan membicarakan
saja langsung dihukum.
Salah satu penduduk yang berani melakukan perlawanan berasal
dari Shandora. Motivasi cukup kuat, dikarenakan kekuatan berupa keberanian
sudah diwariskan secara turun temurun. Sebagai warga yang merasa menjadi
pewaris sah pulau yang dikeramatkan oleh Enel dan diserahkan pengurusannya
kepada pendeta, kaki tangan Enel. Hanya saja percuma, mereka kalah kuat
sehingga harus menerima rasa memar serta gosong jika Enel langsung yang
menyerang.
Pada saatnya, Enel harus menerima kehadiran musuh yang
menjadikan kekalahan secara alamiah bagi dirinya. Pertandingan antara petir dan
karet. Ke-dewa-an Enel ditagih oleh Luffy, apakah ia benar-benar seorang dewa
yang kudus dan maha segalanya, sehingga lantas pantas untuk mendominasi
masyarakat langit? Jawabannya tidak. Karena ia kalah dengan manusia karet. Seorang
pria muda yang konyol tetapi bertekad kuat.
Menarik sekali untuk diendus lebih jauh, mengapa Luffy tidak
tergerus dalam dominasi atau hegemoni Enel, layaknya masyarakat langit yang ia
kunjungi. Lebih-lebih ia juga melihat dengan kepala sendiri bagaimana kuasa
Enel dan kesewenangannya di dunia atas awan tersebut, yang mana tidak satu pun
orang yang berani dan mampu menundukkannya.
Luffy adalah tipikal orang yang keras kepala dalam tekad. Sekali
ia mengatakan sesuatu maka apapun yang menghadang tidak mempunyai arti baginya,
ia terjang segalanya. Wataknya mirip sekali dengan karet, sulit sekali untuk
dibentuk. Ditarik sekuat apapun tetap akan kembali seperti sedia kala. Ia adalah
gambaran dari karet itu sendiri, biarpun secara harfiah adalah manusia karet.
Maka teror yang dilancarkan oleh Enel untuk membentuk
persepsi tentang kekuatan, kekuasaan, lawan yang tidak berdaya dihadapannya
bagi Luffy tidak membekas sama sekali. Ia mampu melepaskan diri dari pengaruh
sosial untuk membangun sebuah perspektif akan sosok Enel yang mengaku sebagai
dewa. Luffy selalu berusaha untuk melampaui dirinya sendiri, ia tidak pernah
tersekat oleh pikirannya sendiri. Tidak sekedar kemampuan untuk beradaptasi
dengan lingkungan baru yang ia jumpai. Ia senantiasa menjadikan lingkungan baru
sebagai pengalaman untuk mengasah kekuatan dirinya sendiri. Itu semua dilalui
dengan cara tidak berputus asa secara cepat dan mempunyai keinginan untuk
mencoba, meskipun harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Pada akhirnya, memang nasib Enel yang naas. Secara subtansial
bukan karena Luffy lebih berpengalaman dan unggul. Mengingat Enel sudah
menguasai Haki sedangkan Luffy belum. Kekalahan Enel memang disebabkan
kekuatannya tidak mempan ketika berhadapan dengan karet. Selebihnya adalah
tekad kuat Luffy yang menghajar Enel habis-habisan. Seandainya manusia karet
yang melawan Enel bukan karakter seperti Luffy, belum tentu mampu mengkudeta dewa
palsu di kerajaan atas awan itu.
Nasib Enel harus berakhir setelah menguasai Skypia selama
enam tahun dengan mengalahkan Gan Fall dan menduduki tahta tertinggi. Tidak ada
periode kedua bagi Enel, ia sudah kalah telak oleh manusia karet.
Post a Comment for "Kemenangan Luffy atas Enel, Bukan Sebab Manusia Karet"