Pemilu 2024 menyita banyak cerita,
setidaknya akan terus diucapkan sampai dan dalam jangka waktu lima tahun ke
depan, menyongsong Pemilu selanjutnya tidak akan habis-habis. Mulai dari kisah
sedu, sedan, getir dan kecewa dari mereka yang kalah. Hingga suka, cita, gegap
dan gempita dari mereka yang menang. Tetapi tetap saja keduanya sama-sama
mampus dikoyak-koyak secara finansial ataupun mental dari modal yang digunakan
untuk Pemilu.
Jelas sedikit berbeda bagi yang menang,
sekalipun kantong sudah kosong bolong tetap saja ada masa cerah yang dinantikan
dan impikan segera datang. Bagi yang belum beruntung dalam kontestasi politik
ini bisa bersabar dan perbanyak ibadah untuk menguatkan mental. Bagi yang kalah
beruntungnya (meskipun kalah ada keuntungannya) tidak lagi ditagih apapun atau
ditanyai apapun. Cuma ucapan belasungkawa dan permohonan maaf sebesar-besarnya
dari tim yang belum bisa mensukseskan.
Sedangkan bagi yang menang, disatu sisi
perasaan bersuka cita karena menang tetapi juga mengalami perasaan bingung dan
senang. Alasan senang sudah jelas, bingungnya ketika ditagih oleh orang-orang
yang berjasa menjadikan dirinya bisa menempati sebuah kursi, yaitu tentang
sebuah pertanyaan, semisal kapan tasyakurannya?
Ada salah seorang legislatif terpilih yang
saya dengar dari cerita salah seorang timnya, ia ditagih akan hal tersebut.
“kapan tasyakurannya bos?”
jawabannya sesuatu yang tidak diduga dan
menarik,
”bentar, mau sembelih unta dari Arab dan
masih pesan”
“beh, kenapa begitu bos?”
“iya supaya tidak sampai-sampai kalau pesan
unta”
“hahahahahahaha”
Legislatif terpilih tersebut berkelakar
tetapi terasa beneran. Sekian banyak modal yang digelontorkan untuk memastikan
dirinya dikenal dan didukung oleh masyarakat pada musim kampanye dan realitanya
berhasil, ternyata kemenangan juga menghantui.
Bagaimana tidak? Mental masyarakat kita
sampai hari ini senantiasa masih suka meminta-minta, minta tasyakuran, minta
dianggap berjasa dan sebagainya. Tidak berpikir kalau orang yang dimenangkan
dalam kontestasi politik ini pusingnya sampai tujuh keliling manakala selalu
ditagih akan ini dan itu, sekalipun kondisi gembira.
Hari sejak ditetapkan dirinya menang sampai
kemudian dilantik masih panjang, yaitu pada bulan Oktober. Dengan demikian
sejak hari ini dan hari-hari seterusnya, sang legislatif terpilih tersebut akan
dikira bahagia sepanjang hari karena menang, sebagaimana tujuannya. Padahal
iya, tetapi juga lukanya belum sembuh. Mau menolak diajak tasyakuran gak enak,
mau mengiyakan untuk tasyakuran juga pusing.
Lebih-lebih setelah pleno perolehan
bertepatan bulan puasa, sangat jelas banyak tim-tim yang berjasa menagih
tunjangan hari raya (THR), meskipun tetap dalam kesadaran mereka kalau unta
yang dijanjikan belum sampai Indonesia atau dengan kata lain tasyakuran yang
diminta belum terpenuhi. Ini ada lagi. Yang mereka pikirkan mungkin, pokoknya
apa yang diminta relate dengan
kondisi sosial, sekalipun tidak relate
dengan kondisi yang dimintai adalah urusan lain.
Jadi dilema bagi sang terpilih, oleh karena
itu jika memang tidak ada modal kampanye dulu tersisa dan disisakan untuk
sesuatu yang terduga, maka sang legislatif terpilih harus pandai-pandai
berkelakar dan memelintir kalimat menjadi joke-joke segar, yang dibelakang itu
semua menahan rasa perih dan nyeri. Setidaknya harus bertahan sampai dapat gaji
pertama. Toh nanti setelah seremonial pelantikan juga pasti ditagih tasyakuran
lagi.
Jawaban masih memesan unta merupakan
jawaban yang representatif untuk menjelaskan modal habis total dan tidak ada
sisa juga memberi penjelasan kalau sabar dulu, silahkan ditunggu. Apabila masih
ditagih tentang THR, maka legislatif terpilih harus pandai-pandai lagi untuk
menyertakan jawaban dalam kapasitas yang representatif diucapkan, di satu sisi
dirinya tidak kehilangan wibawa dan disatu sisi dirinya tidak memaksakan diri
menggelontorkan dana yang tidak ada, supaya tidak menanmbah nyeri dan pening
kepala.
Untuk itu, sambil menertawakan joke unta
tersebut saya mempunyai saran bagi legislatif terpilih yang tidak bisa memenuhi
tagihan THR dari para pendukungnya dengan alibi bahwa dirinya hendak mencari
pencerahan dengan ziarah ke makam para wali.
Dengan kata lain, jika tidak bisa menahan
serangan bertubi-tubi berupa permintaan yang tiada henti dan cukup menggelikan
maka ada baiknya untuk sejenak menghilang. Entah kemana dan jawaban seperti itu
(ziarah wali) cukup mendasari kondisi, tidak dengan jawaban pergi umrah ke
tanah suci. Karena kesan yang ditimbulkan justru seseorang tersebut mempunyai
dana yang cukup besar, apalagi mengingat biaya umrah di bulan Ramadhan.
Para tim pendukungnya akan berpikiran, “kok
gak dibuat bingkisan saja”. Ucapan seperti itu sudah tidak perlu dihiraukan, orang
akan terus ngomong dan ngomong.

Post a Comment for "Jawaban Alternatif Bagi Legislatif Terpilih Apabila diajak Tasyakuran dan ditagih THR, Sedangkan Dana Kosong"