Privilege

 


Akhir-akhir masa kepemimpinan Jokowi menampakkan kelebihan seorang bapak kepada anaknya. Anak bapaknya tidak hanya mewarisi DNA dan harta kekayaanya, tetapi juga segala jenis nilai plus dan rasa penghormatan publik juga menjalar pada garis keturunannya. Ini adalah hal yang wajar, sebagaimana air yang jatuh dari atas lantas akan menyiprat disekelingnya, tidak akan ke daerah yang lebih jauh. Dengan begitu yang berada jauh mempunyai kesempatan mendapatkan cipratan apabila mendekat, itupun setelah yang mempunyai kedekatan permanen telah memperoleh. Cipratan itu pula yang diterima oleh orang dekat Presiden, lebih-lebih adalah anaknya.

Setelah sebelumnya, Gibran menuai prestisius yang gemilang dengan menjadi walikota Solo, hari-hari ini publik dipertontonkan dengan putra Presiden yang hendak maju menjadi cawapres. Begitu cepatnya sepak terjang Gibran, pamornya melesat tanpa kendali. Apakah hal tersebut berdasarkan tinjauan bahwa ia telah cukup baik dalam menyelesaikan persoalan di Solo, entahlah, tetapi posisi bapaknya menjadi nilai lebih tersendiri ketimbang nilai kepemimpinan yang amalkan oleh sang putra Presiden.

Lain dari kakaknya, adik sang wali kota, Kaesang tiba-tiba mengejutkan publik pula, dengan pidatonya sebagai Ketua Umum PSI, jika sebelumnya ia menyibukkan diri dengan bergelut di dunia hiburan sebagai Youtuber dan memulai bisnisnya dengan pisang-pisangnya, tiba-tiba ia maju dalam dunia persilatan. Apa yang diperoleh oleh dua putra Presiden tersebut merupakan sesuatu yang sangat mustahil diperoleh oleh anak orang biasa. Mau tidak mau, mereka berdua dikatakan mendapatkan cipratan yang cukup banyak dari pengaruh dan tercover oleh baying-bayang bapaknya. Sekalipun pada dasarnya mereka juga melakukan segala jenis upaya dan mengoptimalkan kemampuan diri secara penuh, tetap saja bayang-bayang Jokowi lebih besar dari usaha mereka.

Artinya nasib seseorang lebih ditentukan oleh dari keturunan siapa ia lahir, bukan perbuatan yang dilakukan untuk merubah nasib. Sepertinya kesimpulan ini tampak benar apabila kita perhatikan. Orang biasa yang orang tuanya adalah seorang petani tidak mungkin ia merawat kepercayaan publik dengan maju menjadi seorang caleg, misalnya. Ia akan tetap dan harus merawat sawah dari orang tuanya, untung-untung sebagai petani yang rajin, ia mampu melipat gandakan sawah tersebut menjadi lebih luas, dengan jerih payahnya. Tetapi anak orang kaya dengan segala kelebihan harta orang tuanya, ia bisa membeli kepecayaan publik yang akan mengantarkannya ke ruangan ber-AC yang mana tugasnya menentukan nasib banyak orang, termasuk petani.

Sayangnya dalam hidup ini, kita tidak bisa memilih terlahir dengan takdir yang kita inginkan. Tetapi setiap hidup senantiasa memberikan kesempatan untuk merubah nasibnya. Bagi mereka yang terlahir dengan pas-pasan maka segala bentuk usaha yang diterapkan harus lebih, berbeda dengan mereka yang telah berlebih, ia bisa berbuat pas-pasan karena segalanya telah tercukupi.

Jika dalam hidup seseorang mencari kebahagiaan, untungnya tolak ukur kebahagiaan bukanlah ditinjau dari segi kuantitas apa yang kita miliki, melainkan berdasarkan cara kita melihat apa yang ada. Sudut pandang inilah yang dimiliki oleh semua orang, tetapi caranya menjadi hak masing-masing orang untuk menggunakannya.

Anak orang kaya jelas mewarisi segala macam kemewahan dan keterpenuhan hidup. Anak orang terhormat akan ketularan kehormatan orang tuanya. Tetapi kehormatan dan kekayaan tidak menjamin seseorang untuk hidup bahagia, tergantung bagaimana mereka menyikapi dan menghadapkan segala persoalan yang ada. Tidak ada yang pernah tahu apakah posisi dua anak Presiden tersebut adalah wujud lain dari kebahagiaan yang diharapkan orang hidup. Tidak ada yang pernah tahu, bahkan seandainya orang yang dimaksudpun tidak sadar dengan hakikat kebahagiaan dalam bentuknya yang sejati, itupun maklum. Karena semakin besar kenikmatan terkadang semakin tebal pula selubung kepalsuan, hanya dari masing-masing individulah yang bisa menyingkap itu semua tanpa bisa mengandalkan orang lain, bahkan bapak sendiri dengan apapun privilege yang dimiliki.

Oleh karena itu kehidupan bisa baru dikatakan telah dimulai sesaat setelah seseorang sadar akan dirinya sendiri dan mau menghormati dirinya sendiri. Kemewahan tertinggi tidak lain adalah rasa hormat terhadap diri sendiri. Hal tersebut bisa terwujud apabila seseorang mau dan mampu menggunakan apa yang dimiliki dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tidak berdasarkan ketergantungan pada siapapun, bahkan kepada orang tua sendiri.

Mungkin hal itu yang dilakukan oleh Jokowi, tanpa privilege orang tua, tetapi dari segala jerih payah, tekad dan kerja keras hingga ia mencapai orang nomor satu di Indonesia. Hingga menciptakan privilege kepada anak-anaknya. Mengatakan kalau nasib putra-putra Jokowi akan senantiasa dalam lindungan kasih saying orang tuanya sangatlah tidak realistis, tetapi mereka harus berupaya sendiri, jika kali ini mereka tampil sebagai pendekar yang hendak berkelahi diatas gelanggang politik 2024, mengandalkan Jokowi hari ini mungkin saja bisa, tetapi untuk jangka waktu yang panjang haruslah menjadi petarung handal yang tidak bersembunyi dibawah baying-bayang siapapun kala terik maupun badai.

Dan untuk itu mari kita lihat bersama-sama dunia persilatan kita, privilege adalah gejala social yang irrasional.

17-10-2023 

Post a Comment for "Privilege"