Seorang pemimpin spiritual Amerika Serikat John Maxwell
mengatakan cara terbaik untuk mengubah orang lain adalah dengan mengubah diri
sendiri terlebih dahulu. Orang yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungannya
adalah sosok yang memiliki nilai lebih, ia telah melampaui dirinya dan
sekitarnya.
Dalam upaya untuk mengubah diri sendiri, jelas bukan perkara
mudah. Sangat sulit, bahkan lebih mudah berambisi untuk mengubah diluar dirinya
secara serampangan daripada mengubah diri sendiri secara terstruktur.
Orang yang mampu mengubah dirinya sendiri artinya ia
berhasil menghidupkan cahaya redup dalam dirinya. Setiap orang selalu mempunyai
cahayanya masing-masing, dimana dengan sinarnya ia akan tampil sebagai
seseorang yang unik dengan dirinya sendiri. Mereka yang berhasil menghidupkan
cahaya diri berarti memiliki kesempatan untuk menciptakan ruang bersinar di
sekitarnya atau dalam kata lain, ia bisa diandalkan dan memberikan manfaat
kepada sesamanya.
Menurut hemat penulis, dalam upaya untuk mengubah diri
sendiri sebagaimana disebut oleh Maxwell, ada pola universal yang mesti
diupayakan oleh individu-individu, sehingga ia bersinar dengan kemilaunya
sendiri. Pola ini bukan bersifat parsial, yang hanya cocok untuk seseorang dan
tidak bisa digunakan oleh orang lain. Tidak demikian, mengingat bahwa setiap
manusia yang hidup di bumi mempunyai kadar subtansi yang sama, diciptakan
dengan komposisi yang sama dan potensi yang sama hanya saja menggunakan peluang
secara berbeda.
Berikut pola-pola yang mesti diperhatikan oleh individu
dalam proses mengubah diri sendiri dan mengupgradenya.
Pertama, pengetahuan. Aspek paling fundamental dari seorang
manusia adalah kemampuannya untuk berpikir, memahami dan menganalisa. Dalam
kapasitasnya tersebut, maka seseorang perlu mempertimbangkan dan mengkalkulasi
asupan ide yang dikonsumsi oleh otak. Dari perjalanan hidup hari per-hari
selayaknya mesti ada pengetahuan baru yang diperoleh. Jangan sampai antara hari
sekarang dengan kemarin sama saja, tidak ada rangsangan pengetahuan baru. Hanya
mutu pengetahuan seseorang yang dapat memberikan distingsi Antra
kekanak-kanakan dan kedewasaan, bukannya usia atau keturunan apalagi jabatan.
Kedua, kesehatan. Dalam menjalani kehidupan seseorang sangat
dibatasi oleh kemampuan fisiknya. Bentuk dan ukuran tubuh yang dianugerahkan
Tuhan tidak bisa diprotes, apabila ada kurang dan lebihnya. Apa yang telah terberi sudah mutlak jadinya, akan tetapi
untuk menambah stamina dan merawatnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan
kualitas tubuh. Semakin sehat kondisi tubuh maka semakin luas jangkauan akses
yang bisa dilakukan, sehingga banyak proses-proses bisa terlaksana. Fahami
sendiri ukuran tubuh kita, apa saja yang mesti dimakan dan mesti dijauhi.
Berapa kali kekuatan untuk berolahraga sebagai jalan menambah kekuatan, itu
tergantung dasar fisik yang dimiliki.
Ketiga, membangun jaringan. Sebuah jaringan tidak sekedar
identik dimiliki oleh para politisi dan aktivis saja. Kesadaran akan pentingnya
jaringan harus dimiliki oleh setiap individu, tanpa melihat latar belakang. Seolah-olah,
petani yang hidup di desa dengan rutinitas, pagi ketika embun masih hinggap di
daun ia pergi ke sawah kemudian setelah corong masjid berbunyi baru pulang,
istirahat, sholat dan makan kemudian kembali ke sawah, sore pulang dan malam
tidur karena sudah terlalu capek, dianggap tidak butuh jaringan dan hanya
menuruti intervensi pasar. Itu adalah salah besar. Seorang petani yang
menghasilkan sebuah komoditas untuk dijual dan terikat dengan pupuk, maka
sebisa mungkin ia membuka jaringan di luar untuk memudahkan segala akses yang
dibutuhkan agar mempunyai nilai jual lebih. Bagaimana perkembangan tanaman yang
sejenisnya dari harga jual, kebutuhan pasar dan alternatif lain yang menjadi
jalan terobosan.
Jaringan dalam konteks ini, mempunyai urgensi sebagai arus
yang akan menghindarkan seseorang bersikap stagnan, begitu-begitu saja,
terjebak dengan rutinitas dan tertipu dengan mereka yang lebih luas akses
jaringannya. Oleh karena itu, entah apapun profesi dan latar belakangnya tidak
sekedar berkompetisi untuk meningkatkan kualitas produk yang dimiliki tetapi
juga berpacu untuk melebarkan relasi.
Keempat, manejemen. Tata kelola yang baik akan menghasilkan
hasil sebagaimana yang diinginkan. Skill manejemen sangat dibutuhkan sekali,
berdasarkan cakupan kemampuan yang dimiliki sebagaimana digunakan untuk menangani
sebuah masalah, setidaknya seseorang mempunyai watak kedisiplinan. Ada dua
jenis yang harus diperhatikan, disiplin waktu dan disiplin administrasi. Lebih daripada
itu bagaimana seseorang menangani pokok permasalahan yang dihadapi, sudah
tergantung kelincahan strategi.
Empat hal tersebut seyogyanya seseorang menekuni dan
merawatnya sebagai basic skill, yang
mana nantinya akan memberikan pengaruh kuat pada mutu aktivitas yang sedang
didalami dan ditekuni.

Post a Comment for "Perhatikan Empat Hal Ini Untuk Meningkatkan Mutu Individu"