3 MACAM JABATAN
Secara
umum manusia akan berusaha untuk memperoleh apa yang akan membuatnya merasa
nyaman dalam dimensi kehidupannya. Untuk itu mereka akan digiring kepada suatu
cara pemenuhan kebutuhan hidupnya. Semakin tampak sempurna dalam memperoleh apa
yang semestinya dibutuhkan, maka seorang manusia akan lebih tampak
ke-manusia-an nya, dimana manusia yang lain berlomba-lomba untuk dapat
mencapai. Bagi yang telah memperolehnya lebih dahulu atau lebih banyak, maka
akan jelas kiranya bahwa ia akan mendapatkan tempat yang istimewa di mata,
pikiran, dan hati masyarakat pada umumnya. Kebutuhan-kebutuhan manusiawi tersebut
yang mereka saling berkompetisi adalah ekonomi, kekuasaan, dan pengetahuan.
dari
ketiganya berdiri secara sendiri-sendiri, tetapi selalu berkelindan tidak bisa
dipisahkan antara satu dengan yang lain, lebih-lebih akan tampak ketika
kemampuan seseorang dalam memperoleh salah satu ari ketiganya menjelma menjadi
suatu status sosial, semisal untuk jabatan ekonomi pengusaha, pegawai, petani dan
seterusnya. Untuk jabatan kekuasaan semisal mulai dari ketua RT sampai ke atas
yang berbau-bau politik dengan mengantongi kepercayaan massa banyak atau
kedudukan sebagai suatu pegawai yang berbau-bau popularitas. Untuk jabatan
pengetahuan bisa berupa seorang akademisi, dosen, ustadz, guru dan kyai yang
dimintai pituduh nya lewat ilmu yang telah dikaruniakan Allah kepadanya.
Status
sosial yang telah disebut adalah bentuk mayor dari akumulasi antara salah satu
dari ketiganya. Sehingga bukan berarti seorang Kyai adalah seorang yang hanya
memiliki ilmu saja tanpa ada hubungannya dengan ekonomi dan jabatan politik,
selalu berkaitan melainkan tidak dominan, begitu pula dengan mereka yang
menduduki jabatan kekuasaan politik dan pengusaha. Bahkan kerap kali kita
menemukan perkawinan jabatan antara seorang politisi dengan pengusaha, antara
modal kapital dan modal kekuasaan. Bisa dugunakan untuk saling memanfaatkan
satu sama lain dengan cara sama-sama menunjang. Ditambah lagi, kemampuan untuk
mencapainya harus dengan menggunakan penanganan yang baik, oleh karenanya harus
terdapat ilmu dan pengalaman yang dikuasai. Bahkan tidak jarang kita jumpai
untuk mendapatkan pengesahan mereka membawa perangkat agama.
Pada
era sekarang ini, entah apakah berlanjut pada era-era selanjutnya, dari ketiga
jabatan tersebut mengacu pada kegemaran dan popularitas di masyarakat, dengan
adanya pergeseran paradigma, maka asumsi-asumsi yang tersusun akan memberikan
sebuah konklusi kepada peringkat dari ketiganya dengan dasar orientasi yang dipilih
dari anggapan mana yang lebih menghidupi. Maka jabatan ekonomi menempati posisi
paling atas, baru kemudian jabatan kekuasaan, dan terakhir jabatan pengetahuan.
Artinya
manusia akan berusaha untuk memperoleh yang berada di atas, yaitu ekonomi sedangkan
kekuasaan dan pengetahuan akan dijadikan batu loncatan untuk mencapainya.
Seseorang yang telah sukses secara ekonomi akan lebih mendapatkan posisi di
masyarakat, pendapatnya akan suatu masalah, entah didasarkan pada pengetahuan
atau tidak, akan menjadi pertimbangan yang lebih banyak di benarkan, karena
ujung-ujungnya yang diharapkan adalah kucuran dananya, karena menurut paradigma
umum pengetahuan yang ada dalam pikiran tidak akan merubah apapun, sebab
perubahan akan dimulai dengan langkah-langkah praksis yang jelas harus ada
pendanaan.
Apabila ia
berkehendak untuk mencapai sebuah pangkat, maka akan disambut dengan sejuk dan
meriah, lagi-lagi karena adanya harapan kebaikan berdasarkan kemampuannya pada
segi pendanaan. Ia mampu membuat pendukungnya puas dengan ramah tamah yang
diberikan, kemudian yang sebenarnya menjurus kepada permasalahan pokok adalah
ketika para pendukung atau masyarakat umum kehilangan kesadarannya dengan
melihatnya sebagai suatu pas untuk menempati jabatan tersebut, padahal sebuah jabatan
harus ditangani dengan pengetahuan yang mumpuni bukan dengan kelebihan ekonomi.
Inlah yang cukup memilukan saat-saat ini. Lebih-lebih ketika ada seseorang yang
sebenarnya mampu secara kepemimpinan karena memiliki pengetahuan yang mapan
tetapi ia kekurangan secara finansial, maka tidak lepas dari sinisme
masyarakat. Aneh dan memilukan tetapi ini adalah sebuah realita yang sedang
terjadi.
Untuk jabatan
kekuasaan sebenarnya bukanlah sebuah jabatan yang dapat berdiri sendiri secara
serius. Karena bisa digunakan untuk strategi oleh para pemilk modal untuk
meningkatkan bisnisnya, karena hanya dengan kekuasaan seluruh akses dan
kemungkinan terbuka secara lebar. Bagi pejabat pengetahuan digunakan untuk
memperlihatkan kepada manusia, bahwa ia telah sukses dalam mencari pengetahua.
Semisal contoh, seseorang yang telah studi sampai tingkat tinggi lantas ia
harus mempunyai tempat secara kedudukan entah dengan sebagai PNS di suatu
departemen negara atau sebagai pegawai di sebuah perusahaan. Semakin tinggi
tingkatan pendidikan, maka pikiran masyarakat semakin menuntutnya untuk
memperoleh jabatan yang tinggi pula. Jika seseorang yang mempunyai kualitas
pendidikan cukup mapan kemudian ia tidak mempunyai popularitas dalam karirnya,
mencukupkan diri dengan kebaikan sebagai hasil pengatahuan yang telah dimiliki
maka dimasyarakat hanya dua sampai lima yang memahami kebenaran tersebut,
sedangkan sisanya akan bersikap nyinyir.
Sebagai suatu realita yang terjadi dimasyarakat memang sepertinya sangat memprihatinkan ketika orang pada umumnya lebih memihak atau berorientasi pada sesuatu yang sebenarnya didalam pikiran mereka memungkirinya, semuanya berlalu begitu saja akibat dari kebutuhan-kebutuhan hidup yang mendesaknya untuk menciptakan kerangka berpikir semacam itu, sekalipun kadang kebenaran sering terlintas bahkan singgah, tetapi lebih banyak akan memihak kepada sesuatu yang dalam kerangka pikir materi. Inilah realita yang harus disadari untuk tidak diikuti.
Tegalwangi,
05-04-2021
Arif
Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "3 MACAM JABATAN"