KEMUNCULAN RASA TAKUT DALAM DIRI SENDIRI


KEMUNCULAN RASA TAKUT DALAM DIRI SENDIRI

            Tidak diragukan lagi, ketakutan menjadi perkara yang menggemparkan. Jiwa-jiwa yang sedang dilanda untuk mencari sebuah tempat singgah, sekalipun untuk sesaat dan selanjutnya ia harus mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa hanya untuk berlari menjauhi nya. sampai kiranya menemukan sebuah atap abadi yang mampu menjaga nya menghalau ketakutan dan segala jenis nya. dalam hal ini keberadaan seorang tatkala diperhadap kan dengan amuk ketakutan didalam jiwa yang sedang terseok-seok, maka hanya satu pinta yang dimiliki yaitu terselamatkan. Entah dengan beragam cara atau beragam penyelamat dalam bentuk apa pun. Sebab hanya satu kepentingan, yaitu selamat saja. Lantas, seandainya keselamatan telah digapai maka dengan cuma-cuma beribu balas terimakasih akan segera terucap.

            Untuk kedua kondisi, yaitu keselamatan dari hal-hal yang ditakutkan dan kejadian sesudah itu; rasa terimakasih untuk si penyelamat, tanpa terasa rasio terbelenggu. Itu artinya keadaan ketakutan menjajah supaya berhenti berfikir. Secara tiba-tiba syaraf-syaraf kesadaran bergeser tidak aktif. Semakin banyak penjelmaan dari perkara yang ditakuti semakin banyak pula waktu untuk berhenti berfikir. Karena diganti dengan waktu untuk semakin berharap menjauh dari ketakutan. Sartre pernah berujar bahwa orang lain adalah neraka (the other is hell), karena selalu ada upaya dari orang lain untuk subjek, yaitu aku, agar terobjektifikasi kan sesuai keinginan nya. begitu pula dengan ketakutan sebagaimana orang lain (the other) menurut Sartre, menjadi neraka. Karena ia berpotensi mengobjekkan kedirian dari sebuah subjek. jika dicermati lebih lanjut, orang lain adalah sesuatu yang berada di luar diri si subjek. Sedangkan ketakutan berpindah dari luar menuju kedalam untuk dikonfirmasi sebagai hal yang perlu dihindari, bukan dihadapi. Disini kekeringan makna bertambah satu dan sedang berlangsung untuk bertambah lagi dan lagi. Karena seharusnya dihaapi untuk diselesaikan selama-lamanya.

            Kehidupan bukan lah permainan judi tetapi terkadang juga seolah seperti itu, manusia hanya bisa mengkocok dadu tanpa mampu menentukan sisi dadu sebelah mana yang harus terbalik sesuai keinginan. Pada proses penentuan terbalik nya dadu, kemampuan yang dimiliki hanya menjadi berani atau takut itu saja. Seandainya ia berani, maka sensasi kehidupan ternikmati jika tidak maka sebaliknya dan fokus kehidupan menjadi aktif sehingga mengurangi potensi matinya kewarasan. Meskipun demikian ketakutan sudah sangat menusiawi, seperti yang sering didengar, tidak hanya dalam rengekan para kawanan ternak yang mengalami jarak jauh dari sungai untuk minum dan lebih dekat musuh untuk membunuh tetapi juga terabadikan dalam kata-kata seorang rendra. “jangan takut ibu karena ketakutan akan meningkatkan penjajahan”. Begitu pula pada puisi perlawanan Widji Tukul,”ketakutan akan memperpanjang barisan perbudakan”.

            Ada baik nya melihat penjelmaan para hantu dengan cerita bersejarah di angka 1848 yang menjadi tahun penuh arti bagi para buruh sedunia. Ditahun tersebut diterbitkan sebuah buku yang ditutup dengan kata paling akhir,”buruh sedunia bersatulah” dan dibuka dengan kata “hantu sedang membayangi eropa-hantu komunis. Hantu inilah yang nantinya menjadi juru selamat para buruh dari hantu yang lain. Tidak aneh, seperti penuturan Isac Leibniz, ketika para pekerja tambang sedang menghadapi sakaratul maut, sayang permintaan terakhir nya bukan dihadirkan disisi nya seorang agamawan untuk meringan kan rasa sakit akibat dikoyak-koyak kematian, melainkan permintaan terakhirnya adalah ketika ia dikubur ditemani oleh buku Comunist Manifesto yang telah berhasil menghidupkan harapan akan kebebasan di kala kematian tubuh oleh para korporat yang mereka sebut keparat.

            Hantu ini telah berhasil melenyapkan hantu lain yang tidak dapat diragukan sekali lagi, sudah cukup memberi arti beralih fikir mencari suaka dipihak lain, ialah dibawah naungan hantu komunis. Sial nya buruh tersebut, sebagaimana dalam cerita Leibniz, tidak benar-benar melepas belenggu perbudakan nya yang hakiki. Ia hanya mempunyai harapan terlepas dari belenggu majikan nya saja, sebagaimana hantu komunis telah memberikan bahan untuknya berimajinasi tentang kebebasan. Andai saja, ia dengan keras kepala sekalipun menentang segala ketidak sesuaiannya, seperti apa yang diterima dengan identitas buruh, dan rela menanggung apapun resiko yang hendak di ambil demi melepaskan nya tanpa menunggu dan bermimpi datang nya pertolongan apa pun. Maka kemerdekaan yang sebenar-benar nya telah ia genggam dengan baik dan akan setia bersama nya.

            lebih sial lagi kalau ia masih menanti pertolongan, bagaimana tidak? Soal nya, sebenar nya ia bebas dari jejaring sistem borjuasi tetapi terjerat kembali dengan sistem baru yang diduga telah berhasil menjadikan si buruh manusia bebas. Belenggu itu beralih wujud dari satu ke yang lainnya. dengan begitu hanya menunggu waktu untuk menerima tali kekang yang sama untuk kembali. Satu hal yang sangat dan perlu untuk dicermati, kebebasan sebab yang lain akan meminta ganti rugi atas sesuatu yang telah ia perbuat. Semacam meminta tumbal. Ternyata hal ini benar, ketika sistem komunis telah dengan gagah berdiri tegak atas kemenangan pada tahun 1917 dan cerita ditahun selanjutnya, ia menjelma sebagai monster yang sangat menakutkan. Kembali kepada buruh tersebut, kebebasan yang hakiki akan ia terima jikalau mampu menihilkan cara berfikir yang dipengaruhi oleh jejaring sistem sekitar lingkungan dimana ia menghela nafas. Baru memulai cara berfikir dengan berangkat dari keharusan perbuatan untuk individunya saja. Pastinya, dilakukan demi merobohkan konsepsi ketakutan yang menjelma dalam bentuk konkrit.

Percaya atau tidak jejaring makna akan selalu bersandingan dengan jejaring ketakutan. Hanya sekedar menanti musim semi yang diharapkan supaya terdapat perubahan dari benda yang abstrak menjadi benda konkrit. Sehingga dari kalangan paling awam pun akan merasakan semacam gangguan pada intonasi bernafas nya. makna-makna yang tersimpan dengan rapi bisa terejawantahkan apabila sebuah momen menghendakinya untuk terucap. Dengan standar bahasa hantu itu diketahui telah terlahir atau belum. Entah lah, apakah meskipun pada dirinya tidak memiliki tujuan pribadi, tetapi memang sepertinya begitu. Hanya saja ia akan bertindak untuk menggerogoti naluri sejati dari para manusia dan fenomena ternistakan sekalipun bukan tujuan tetapi menjadi tepi pantai untuk berlabuh nya sampah yang di terjang gelombang.  

            Dapat untuk di akui bahwa hantu-hantu adalah penjelmaan dari konsepsi ketakutan. Harus ditekankan konsepsi itu tidak akan mampu terlahir dari dirinya sendiri secara tersendiri melainkan aktivitas luar yang terpendam dalam individualitas nya dengan sebuah proses evolusi yang sangat panjang. Mengakar kuat pada psikobiologis manusia. Tetapi, sebagai makhluk sosial, ketakuatan yang sejatinya cacat individu terkadang mampu terobati dalam skala solider tetapi rapuh tatkala dalam skala soliter. solidaritas seperti demikian, hanya secara kuantitas saja seolah tampak mayor tetapi secara mentalitas jelas ia sangatlah minor. Hal itu terjadi tidak lain dari beberapa premis-premis yang menghimpun didalam kondisi sosial, berbentuk problematika ekonomi, hasrat politik, pelaksanaan konstitusi dan sampai pada tegur sapa antara aparat dengan rakyat berikut kosa kata yang dipergunan.

            Pertama kali yang akan merasakan terhantui adalah sepotong jiwa yang merasa nyeri dikala sepi. Dalam artian terhibur apabila ada sesuatu yang lain dari diri nya datang kepada nya. sesuatu yang lain ini lah, pula datang dalam wujud dan dipandang berbeda sekedar memberikan pengaruh, entah dalam bentuk apa pun. Tetapi yang sigifikan adalah adanya wujud yang berubah karena terpengaruh. Bahaya nya selama tidak menggunakan potensi yang ada dan masih berharap dari potensi lain, selama itu pula maka akan tampak sebagaimana selokan yang berubah rasa, warna dan bau nya karena diterjang arus. Bisa berupa dari arus selokan lain atau air hujan. Bukan sebuah samudra yang tak berubah subtansi tatkala diterjang arus atau zat-zat lain yang berupaya mencemari.      

            Memang, problem krusial yang tiada henti-henti nya menghujam tiada lain adalah persoalan mengatasi manusia. Proyek ini seolah tidak menemukan dermaga terakhir untuk berlabuh. Harus senantiasa bersiap untuk menghadang badai, dengan pilihan menjadi karam atau tetap berdiri, menjadi selokan atau samudra. Bagaimana pula melawan untuk menolak dikuasai oleh hantu-hantu yang sebenarnya diciptakan oleh konsepsi ide sendiri. Mereka terkadang bermunculan dari suasana psikologis terkadang pula dari kondisi sosio-historis. Sampai suatu ketika perwujudan dari pikiran kepada kenyataan akan benar-benar tampak, karena nya jenis kebebasan yang semestinya pertama kali dipertahankan, bukan lah kebebasan dunia luar tetapi kebebasan dari dalam diri yang secara alamiah tercipta untuk merdeka. sekali lagi untuk selalu ingat untuk menjadi samudra bukan selokan. Dengan begitu tidak akan ada hantu-hantu dalam bentuk apapun yang akan menguasai diri.

 

Tegalwangi, 2019

Arif Prasetyo Huzaeri

              

           

Post a Comment for "KEMUNCULAN RASA TAKUT DALAM DIRI SENDIRI"