APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEMERDEKAAN?

 



APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEMERDEKAAN?

Sampai hari ini, kemerdekaan telah mempunyai tafsir tersendiri yang mempunyai potensi multi tafsir. Telah banyak para pakar, tokoh kemerdekaan, dan lebih-lebih warga indonesia sendiri dari berbagai kalangan mencoba untuk memberikan arti dari perlambangan 17 agustus 1945. Sampai saat ini saya secara pribadi belum menemukan panitia Agustus-an mengadakan lomba memaknai kemerdekaan, karena secara spontanitas pemaknaan secara nasional sampai sekarang atau tahun-tahun selanjut nya adalah beramai-ramai dan sorak-sorak berkompetisi dalam semisal balap karung, makan krupuk, gerak jalan dan bisa disebutkan sendiri apa saja lomba-lomba Agustus-an yang lainnya.

Tetapi apa itu merdeka? Apakah kalau orang berkulit putih telah hengkang dari bumi pertiwi dan bangsa ini diperintah oleh sesamanya apa sudah memenuhi persyaratan merdeka?. Memang benar kita bisa balapan karung atau makan krupuk dengan aman sentosa dan pemenangnya juga berasal dari pribumi pula setelah proklamasi, menandai kemerdekaan, dibacakan sampai detik ini. Seandainya belum merdeka kemudian ada anak Belanda ikut lomba dan kalah lanjut menangis dan mengadu kepada orang tuanya, sehingga wasit perlombaan disuruh untuk mengulangi permainan dengan syarat anak nya harus lah pemenangnya. Dari sini kita sadar dan harus membenarkan lomba-lomba Agustus-an adalah bukti kebenaran dari penting nya kemerdekaan berdasarkan khayalan cerita tersebut.

            Selain daripada itu setiap kali memasuki bulan Agustus, telah menjadi budaya nasional untuk mewarnai segala benda dipinggir jalan, dengan warna perjuangan dan kebanggaan, yaitu merah-putih. Bukan hanya sekedar warna biasa, semangat berapi-api bersama bambu runcing yang menjadi simbol perlawanan mengusir para penjarah dan penjajah yang telah merenggut habis martabat kita dan saat-saat merdeka seperi ini berarti adakalanya kita menyusun kembali martabat tersebut dari ketiadaan sebab habis atau menata kembali puing-puing nya.

Di ulang tahun yang kesekian kalinya, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, bambu yang ditanam di negeri sendiri tersebut, hari ini memikul bendera merah putih disekeliling jalan, secara simbolik ia telah setia mempertahankan, yang awalnya merebut, apa yang kita saat ini kita sorakkan, yaitu merdeka. Kalau sekarang jelas tidak mungkin menggenggam bambu runcing dengan cara yang sama seperti dulu, buat apa semisal hal tersebut dilakukan. Karena bendera sudah mampu berkibar dengan sendiri nya tanpa ada tangan yang dulu rela berdarah-darah. Sekarang orang nya cukup memeriahkan kemerdekaan saja entah dengan cara bergerombol dijalan untuk melihat beraneka perlombaan, juga bisa jadi peserta langsung perlombaan, tetapi yang jelas lihat-lihat dulu usia dan perlombaan yang hendak diikuti. Jangan sampai seorang bapak ikut lomba memegang belut dan ternyata anak nya juga ikut, yang berarti ia akan melawan anak nya sendiri. Tidak masalah juga sebenarnya yang penting panitia mengijinkan sebagai bentuk dari kemerdekaan yaitu merdeka untuk memilih kehendak hati, sebagaimana bapak tersebut, yang penting kuat malu untuk anak melawan anak sendiri, dan tipe terakhir untuk memeriahkan kemerdekaan adalah mereka yang menyediakan kesiapan dirinya untuk menjadi panitia.

            Kata merdeka yang dilontarkan berulang-ulang oleh para warga didepan publik adalah bentuk kemerdekaan itu sendiri bukan bentuk kata merdeka itu sendiri. Jelas teriakan tersebut penuh makna, karena hanya dapat diucapkan manakala memang benar telah merdeka, bisa dibayangkan seandainya diteriak kan didekat telinga penjajah, maka apa tidak pistol yang biasanya terikat dipinggang akan tertodong didepan dahi. Jadi memang teriakan merdeka menunjukan kondisi benar-benar merdeka.

Hal tersebut dapat dilakukan dimanapun mulai dijalanan, lapangan, kantor kelurahan, kantor kecamatan, pasar dan sebagainya. Tetapi jangan meneriakkannya di masjid apalagi pakai pengeras suara, bukannya hanya takmir yang akan marah-marah tetapi seluruh masyarakat pun akan tegang urat syarafnya atau juga jangan teriak “merdeka” dirumah sakit atau puskesmas, sangat memngkinkan dokter dan seluruh perawatnya akan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian dengan alasan mengganggu ketertiban umum. Seandainya anda berkilah dengan mengajukan alasan semisal hal tersebut untuk mengisi kemerdekaan dengan teriak-teriak dan warga negara seyogyanya mengisi kemerdekaan tersebut dengan cara apapun. Meskipun begitu harus sadar diri karena merdeka artinya tahu batas.

Tiba-tiba saya teringat dengan perkataan seorang eksistensialis Prancis yang terkenal itu, Jean Paul Sartre, beliau mengatakan bahwa manusia itu dikutuk untuk bebas. Jadi kebebasan itu sendiri menurutnya adalah kutukan karena seseorang setelah dicap merdeka maka selayaknya ia harus bertanggung jawab atas kemerdekaan itu, sehingga akibat dariekspresinya akan disensor oleh sekitar apabila termasuk dalam kategori menganggu maka ia akan dikenai hukuman entah dari sudut pandang nilai apapun.

Jadi sedikit dan seolah berputar-putar setelah bebas atau merdeka siapapun bisa melakukan apapun tetapi juga siapapun dibatasi oleh nilai yang dilakukan untuk mengekspresikan apapun dan nilai tersebut merupakan perwujudan dari kebebasan, yaitu bebas untuk membut nilai sendiri, meskipun nilai tersebut justru membatasi. Setidaknya kemerdekaan memperhatikan kemanusiaan seluruhnya dan pada umumnya serta kekayaan budaya bangsa sendiri. Menciptakan nilai sendiri jelas dapat dihasilkan dari kondisi terperintah oleh bangsa sendiri pula, bukan bangsa yang lain. Tetapi masalahnya apabila seorang pemimpin dari bangsa sendiri memerintah dengan sikap penjajah dan tidak memperhatikan kepentingan khalayak umum, maka ini yang repot. Soalnya orang tersebut berpotensi meneriakkan NKRI harga mati sekaligus mematikan distribusi keadilan. Repot.

Kita rehat sejenak seraya memandang bendera merah putih yang berkibar-kibar dijalan-jalan, tidak perlu berpikir negatif tentang semua itu dan selayaknya memang sebagai rakyat kita harus percaya kepada pemimpin-pemimpin kita, tetapi apabila merasa dipecundangi ya tidak apa-apa apabila sekali-kali kita ngeyel untuk menagih keadilan sebagai bentuk dari adanya kemerdekaan. Kata Albert Camus, beliau adalah teman nya Jean Paul Sartre yang namanya sudah saya sebut diparagraf atas, “kebebasan bukanlah hadiah dari negara melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari oleh setiap orang”.

 

Tegalwangi, 16-05-2021

Arif Prasetyo Huzaeri

 

Post a Comment for "APA YANG DIMAKSUD DENGAN KEMERDEKAAN?"