MENGHADAPI DUNIA YANG PARADOKS
Di dunia ini
apapun yang kita temukan selalu mengajak bahkan dalam tingkatan menggoda untuk
dipikirkan. Manakala kita dapati disuatu layang-layang terbang ke arah selatan,
maka hal yang terbesit dalam pikiran adalah bukannya angin itu pada umumnya dan
biasanya bergerak dari arah selatan ke utara atau mungkin agak ke pojok dikit
entah barat laut atau timur laut. Tetapi ada apa hari ini angin bergerak
sebaliknya, ada apa gerangan?. Semisal yang lain apabila bahan pangan, daging,
beras, minyak gula dan lain sebagainya tiba-tiba mengalami kenaikan harga, maka
kita pun juga akan bertanya dalam logika ekonomi, apakah permintaan lebih besar
daripada jumlah barang? Atau kita ajukan pertanyaan dalam bentuk kecurigaan
tentang kondisi tersebut, dikarenakan barang begitu mahal, hal tersebut terjadi
apakah dikarenakan ada permainan yang dilakukan oleh beberapa oknum agar mereka
mendapatkan laba yang cukup besar.
Dimanapun kita berada pertanyaan akan selalu mengikuti
bahkan tatkala bayangan kita sendiri enggan untuk ikut karena berada dalam
kegelapan, pertanyaan akan selalu menuntut jawaban. Sesuai dengan kondisi,
lokasi, kreativitas dan mentalitas dari seseorang untuk memunculkan kalimat
tanya. Barangkali seseorang yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula pasti
mempunyai pertanyaan terhadap apa yang terjadi, hanya saja terjadi perbedaan
ditinjau dari mutu atau kualitas pertanyaan dan atau sudut pandang yang
dipergunakan untuk membaca sesuatu. Hal tersebut seluruhnya tidak lain karena
manusia mendapatkan anugrah akal yang secara kognitif berusaha untuk mencari
tahu sebab dan akibat dan hanya diperuntukkan kepada manusia tidak untuk hewan
dan tumbuhan, dimana ketiga-tiganya merupakan makhluk bermateri.
Dari pikiran manusia muncullah beberapa hal yang dianggap
samar-samar tentang kebenarannya. Kondisi seperti ini sedang di alami oleh
manusia dalam tingkatan logika “begini tapi kok begitu”. Jadi ada dua hal
saling bertabrakan dan tidak terjawab atau terpecahkan dengan bantuan ilmu
pengetahuan yang menggunakan metodologi ilmiah. Hendak dipungkiri tetapi jelas
nyata terjadi di dunia ini mau diyakini tetapi tidak masuk akal pikiran
manusia. Sehingga tindakan yang ingin dilakukan adalah meniadakan salah satu
atau tidak membahas sekalian dari paradok yang sedang terjadi. Saya akan
mengajukan contoh yang kiranya penting untuk dicari akar kejadiannya, yaitu
orang yang hubungan nya dengan Allah baik tetapi kenapa hubungan nya dengan
manusia tidak baik. Jadi vertikalnya baik sedangkan horizontalnya bobrok. Kenapa
orang yang naik haji dan umroh tiap tahun tetapi masih terlibat korupsi. Kenapa
orang yang rajin ke masjid sholat berjama’ah bahkan hampir lima waktu tetapi
tidak baik dengan sesama manusia.
Jadi yang
digunakan untuk memilih contoh masalah ditingkat logika “begini tapi kok
begitu” dan bersifat antara vertikal dan horizontal, bukan sesuatu yang murni
vertikal saja atau horizontal saja, semisal untuk yang vertikal saja orang yang
kentut pantatnya kenapa yang dibasuh mukanya, meskipun seandainya hendak dicari
pemuasan logisnya juga akan ditemukan. Untuk yang horizontal saja, seperti
seorang yang tidak mau membantu sesamanya, otomatis ketika ia butuh bantuan
juga tidak ada yang mau membantuk. Untuk yang wilayah horizontal jelas akan
berkesinambungan dengan yang vertikal begitu juga sebalik nya tetapi pada
dimensinya masing-masing mempunyai logikanya sendiri.
Untuk
memulai mengurainya, kita mesti membuat kesepakatan apa yang dimaksud manusia
yang baik itu?. Jelas nya manusia baik adalah seseorang yang secara vertikal
dan horizontalnya juga baik, tidak berat atau dominasi sebelah, tetapi harus
utuh kedua-duanya. Seseorang yang rajin ibadahnya, mulai dari sholat berjama’ah
lima waktu dimasjid, puasa yang wajib dan yang sunnah, zakat dan shodaqoh
sunnahnya, haji hampir tiap tahun umrohnya entah berapa kali dalam setahunnya.
Maka ia harus juga mencintai seluruh manusia tiada iri, dengki yang singgah
dihatinya untuk sesama manusia, merawat kelestarian lingkungan beserta seluruh
hewan dan tumbuhan dan singgah dihatinya apa itu kebenaran dan tidak
pergi-pergi, karena kebenaran betah untuk tetap tinggal selamanya. Maka orang
tersebut bisa dikatan sebagai orang baik, tetapi masih terbatas karena definisi
tersebut diajukan oleh pikiran manusia yang juga terbatas pula. Tetapi
setidaknya ada gambaran lah tentang siapa dan bagaimana orang baik itu.
Dalam
kehidupan ini kita dapatkan peistiwa yang membuat akal pikiran kita tergoda
untuk mencari jawabannya. Suatu paradok berskala nasional yang sedang terjadi,
yaitu kenapa orang yang berhaji sekaligus berkorupsi. Jelas dengan definisi
orang baik yang disepakati diatas contoh tersebut menunjukkan tersangka
bukanlah orang baik. Meskipun tidak bisa terkecoh ketika dihadapkan dimeja
persidangan tersangka menggunakan peci putih yang ia beli dari tanah suci untuk
menutupi pikiran kotornya dan tangannya terus-terus memutar biji tasbih seolah
mencoba mengelabui mata bahwa tangan tersebut pernah menghitung jumlah besaran
dari penyelewengannya. Akal akan mengajukan pertanyaan kenapa begini tapi kok
begitu?.
Seorang
yang berhaji jelasnya telah memahami mekanisme haji mulai dari syarat dan
rukunnya dan itupun juga dikawal oleh penuntun ketika tiba di tanah suci. Tetapi
masih terjadi “begini tapi kok begitu”. Berarti ada prosedur yang dilupakan atau
sengaja tidak dipenuhi, sehingga seseorang yang berhaji melakukan thawaf mengelilingi ka’bah setelah sampai dirumah
ka’bah tidak berganti thawaf didalam pikiran orang tersebut. Ketika
melempar jumroh tidak benar-benar melempar secara luar-dalam sehingga
setan masih kerap menggoda karena tidak benar-benar terusir. Ketika wukuf
memang benar-benar niat dengan sungguh, tidak digunakan untuk mengatur strategi
pemenangan PEMILU sewaktu telah kembali di rumah. Ketika masuk masjidil haram
ia melepas sandal tetapi menghafal dipintu mana sandalnya dilepas ada
kekhawatiran kehilangan. Ketika kedua sandalnya dilepas, sebagai suatu
simbolisme, kedua nafsunya tidak ikut di lepas, yaitu nafsu ghadabiyyah
dan nafsu syahwatiyyah. Tatkala memanjatkan do’a isinya masih sekitar
kenaikan jabatan dan menghimpun kekayaan. Sehingga hajinya memang benar-benar
haji tidak sekedar pencitraan.
Begitu juga
orang sholat yang masih korupsi, “begini tapi kok begitu”, ia mengerjakan
sholat bahkan berjamaah, dalam bentuk simbolismenya, sholat itu gerakannya
berdiri sebagai pertanda ada nafsu yang tegak kemudian dilanjutkan dengan ruku’
yaitu gerakan untuk menekuk tubuh, simbolisme ditekuknya nafsu, kemudia berdiri
lagi, nafsu tegak kembali, selanjutnya sujud, dalam kondisi sujud itulah tubuh
mengalami banyak tekukan berarti nafsu harus banyak ditekuk sehingga tidak
menjadi liar tatkala seseorang telah selesai melakukan sholat. Sehingga sholat
melatih untuk mengendalikan nafsu bukan mengakhirinya, karena nafsu adalah
sesuatu yang alamiah. Sholat yang yang mencegah dari perbuatan keji dan munkar
bisa terwujud. Dengan demikian sebuah bentuk peribadatan memang dengan jelas
harus lillahi ta’ala, tidak sekedar dorongan nafsu semata, nafsu harus
dilepas sebagaimana dilepasnya sandal ketika hendak mau masuk masjid dan tidak
ditemukannya lagi logika “begini tapi kok begitu” lagi, suatu paradok dalam
dunia sosial.
Tegalwangi,
21-11-2020
Arif
Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "MENGHADAPI DUNIA YANG PARADOKS"