HARI-HARI SETELAH PEMILU

 

PEMILU

HARI-HARI SETELAH PEMILU 

            “gimana rumahmu apa ada orang yang mendatangi?”, “kok, belum ya”. Percakapan tersebut adalah salah satu ungkapan yang akrab di telinga kita, manakala mendekati pemilu. Menarik, karena mengandung makna bahwa pasti ada sesosok yang akan bertamu dengan suatu kepentingan lima tahunan dan disampaikan dalam beberapa menit saja. Tidak perlu gusar, apabila ternyata sosok-sosok yang ditunggu-tunggu ternyata tidak datang. Kejadian semacam itu juga termasuk yang sudah akrab di kehidupan detik-detik pencoblosan. Tidak perlu pula bertanya “serangan fajar” itu ada atau tidaknya. Apabila ada tapi tidak sampai, jelas itu bukan penyelewengan anggaran, seperti halnnya kepala-kepala yang menjadikan aspal dengan tebal 3 cm hanya menjadi 2 cm. Untuk pencoblosan sendiri kita sebenarnya tidak membutuhkan apapun dari calon, mungkin visi-misinya saja, itupun kalau ada yang sifatnya realistis. Jika tidak, maka kita hanya cukup memejamkan mata mendengarkan sesuatu dibalik kesunyian, dan dari sana kita tunggu samapai nurani mengucapkan pilihannya. Itulah yang kita pilih. Apabila yang diucapkan adalah untuk tidak memilih, ya tidak masalah ikuti saja. Karena itu yang terbaik, pertama untuk diri sendiri saja dulu.

            Saya termasuk dari entah apa harus menerima sebutan yang pas. Beberapa menit dan berlanjut menjadi jam setelah nyoblos, mungkin sampai keesokan harinya pun, beberapa teman menyampaikan sindiran atau juga bisa dianggap klaim. “kamu pasti 01”. Yang lain “kalau orang kayak kamu ini jelasnya 02”. “ini lho, calon pilihanmu”, sembari menunjuk seorang calon, dimana ia mengungkapkan kalimat itu sekedar menebak pilihan saja. Seandainya terdapat calon sebanyak sepuluh atau bahkan belasan barangkali saya akan menerima sebanyak-banyaknya kalimat dari teman-teman untuk mengklaim pilihan saya dalam PEMILU kali ini. Beginilah nasib mempunyai banyak teman dari banyak kalangan organisasi dan komunitas yang berafiliasi dengan pilihannya sendiri-sendiri. Sebenarnya tidak begitu penting untuk memilih siapapun pasangan calon yang dikehendaki untuk menang. Karena dari dulu pasti ada saja yang menang, sejarah tidak pernah mencatat angka pemilihnya sama, sehingga KPU melakukan sesuatu opsi-opsi sebagi solusi. Yang ada adalah ketika salah satunya kalah sehingga menuduh KPU nya curang, lantas bersiap-siap menghimpun massa dari tim sukses, simpatisan, apabila masih kurang cari orang bayaran untuk bersiap-siap menagih keadilan didepan BAWASLU. Maka yang beruntung adalah toko bangunan, karena pasti ada seorang pegawai dengan seragam dan berlogo khusus datang untuk membeli kawat berduri.

            Siapapun pemenangnya itulah pemimpinnya atau bisa menggunakan kalimat siapapun pemimpinnya itulah pemenangnya. Dua kalimat itu sama-sama benar. Kalimat pertama benar secara rasional, sementara kalimat kedua benar secara empiris. Sampai kapanpun negara-negara didunia yang mengadakan pemilu pasti mendapatkan pemenang dan pemimpin sekaligus. Oleh karena itu, selama masih mempunyai pemenang tidak perlu khawatir bagi yang merasa calonnya kalah. Negara sudah memperoleh calon yang menang yang akan membawa daerahnya sesuai dengan visi dan misinya. Sedangkan pendukung yang kalah adalah warga dari negara yang telah menemukan pemenangnya untuk menjadi pemimpin. Maka yang kalah harus mempunyai cinta yang besar terhadap negaranya, sebesar gunung-gunung yang menjadi paku bumi. Harus memastikan bahwa cinta terhadap negaranya menembus batas-batas teritorial, golongan, kesukuan dan mampu menghapus fanatisme. Bahkan harus menumbuhkan cinta yang semakin besar daripada kekecewaannya. Sehingga siapapun pemimpinnya yang telah dimenangkan oleh rakyat karena pemilihnya lebih banyak tidak menjadi masalah apapun yang penting rakyat damai, aman, martabatnya terjaga dan tidak ada yang lapar. Dengan begitu hari-hari setelah PEMILU adalah hari sebagaimana biasanya, yaitu senin sampai minggu. Selama cinta kepada negaranya lebih besar daripada cinta kepada calon pilihannya.

            Selanjutnya, hal-hal yang perlu dikoreksi adalah pemimpin yang menang mesti diukur dalam beberapa hal. Mulai dari pemenihannya terhadap janji-janjinya, upaya yang dilakukakan untuk mewujudkan visi dan misinya, serta mekanisme atau cara yang ditempuh di masa kepemimpinannya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dan datang secara spontanitas tanpa kabar-kabar. Maka masyarakat, entah dari pendukung dan yang tidak mendukungnya dulu, harus benar-benar jeli untuk melihat beberapa kebijakan yang dilakukan oleh sang pemimipin yang pemenang itu agar berorientasi kerakyatan dan kebangsaan bukan sekedar golongan semata atau atas hasil pertimbangan keuntungan sesaat dari satu pihak saja.

 

Tegalwangi, 14-12-2020

Arif Prasetyo Huzaeri   

Post a Comment for "HARI-HARI SETELAH PEMILU"