Buku Menjadi Jendela Dunia atau Aksesoris Dinding?


            “Buku adalah jendela dunia”. Begitu ungkap pepatah. Sampai hari ini kita tidak tahu apalagi kenal siapa sebenarnya orang dibalik pepatah tersebut?. Sejak kapan kalimat tersebut disebar? Kemudian apa konteks kesejarahan yang mendasari kalimat tersebut terlahir? Ada kepentingan apa? Apakah kemungkinan ada pergeseran makna dari kata tersebut, sehingga membedai dengan makna awal?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut jelasnya ditanyakan seolah sedang mencurigai adanya konspirasi besar, tingkat dunia barangkali tentang adanya persekongkolan beberapa oknum untuk memasarkan produknya yang bernama buku. Dengan bantuan beberapa tim ahli mulai dari mereka yang memangku kekuasaan sampai pengajar ditingkat bawah. Karena  terdapat pajak atau jatah untuk mereka yang telah membantu percetakan buku, sehingga bisa laris bersih dan dicetak berulang-ulang.

            Mirip dengan persekongkolan ilmuwan yang meracik obat dan ilmuwan yang mendeteksi sekaligus mengidentifikasi sebuah penyakit. Selanjutnya disebarkan pada khalayak ramai untuk di woro-worokan. Sehingga masyarakat akan berduyun-duyun demi keselamatan hidup menjadi keharusan membeli produk obat tersebut yang dipromosikan lewat bantuan media cetak atau media tayang. Ini benar bisnis besar meraup begitu banyak pundi-pundi rupiah. Pertanyaannya, apakah skema dari percetakan bisnis buku juga sama dengan pabrik farmasi yang menjual janji-janji kesehatan?

            Seandainya benar dengan menjadikan slogan “Buku adalah jendela dunia” maka pertanyaan selanjutnya, apakah hanya karena meraup rupiah kemudian rela untuk melakukan persekongkolan besar-besaran ataukah karena minat baca masyarakat dunia atau hanya indonesia sangat minimalis sehingga terdapat seseorang yang kemudian mencari cara untuk menarik minat membaca dengan mengarang kata bijak tersebut ataukah dulu memang ada seorang yang setelah membaca mampu melihat isi dunia setelah membacanya? Entahlah.

            Pertanyaan tersebut diatas dapatlah diperpanjang sampai yang tidak mungkin menjadi mungkin pada ketidak terbatasan. Seandainya memang benar dikarenakan ada bisnis besar-besaran, maka kita akan mendapati bahwa manfaat, sebagai bentuk dari kemungkinan-kemungkinan akibat yang terjadi, akan lebih banyak daripada kerugian yang ditimbulkan. Biarkan para oknum tersebut meraih kekayaan duniawi, tetapi mereka yang menjadi korban untuk membeli buku akan meraih kekayaan intelektual. Sekalipun sekedar mengetahui judul bukunya saja itu sudah keren. Lebih-lebih membaca daftar isinya atau iseng-iseng membaca sinopsis dari buku tersebut, selanjutnya ditaruh dengan rapi di lemari buku sampai waktu yang tidak ditentukan dan tidak diketahui akan memegang untuk membacanya.

            Selain daripada itu mempunyai buku dalam jumlah banyak juga bisa digunakan untuk menghias dinding. Sekalipun ia bukanlah seorang profesor atau ilmuwan yang sejak masa mudanya sudah mengoleksi berbagai macam judul buku karena didorong tugas kuliah, melainkan seorang milioner dengan anjuran dari seorang ahli tata ruang hias rumah untuk menjadikan buku-buku sebagai variasi untuk mendesain dinding. Ide tersebut merupakan brilian, karena membuka cakrawala baru dalam hal keindahan.

            Kembali kepada ungkapan pepatah “Buku adalah jendela dunia”. Kata tersebut secara tekstual menyampaikan pesan bahwa buku adalah jendela saja, bukan membuka jendela sehingga hamparan luas dari isi dunia sejauh mata memandang bisa tampak. Bukan itu. Hanya jendela. Membeli buku di toko buku berarti sama dengan membeli jendela di toko bangunan atau tukang kayu. Ketika jendela itu dipasang dirumah berarti tidak ada jaminan yang diberikan tukang kayu untuk dapat dibuka. Terbukanya jendela itu tergantung pada kemampuan si pemilik untuk membukanya atau tidak. Begitu juga dengan membeli buku, seorang dapat membuka bentangan pengetahuan yang disajikan didalamnya setelah membaca dan memahami isi buku tersebut. Jadi mempunyai saja tidak cukup, bahkan membaca saja juga tidak cukup setidak-tidaknya adalah memahami apa yang tercantum dalam isi buku tersebut. Bahkan memahami juga tidak cukup, tetapi harus ada upaya konkrit bagaimana untuk mewujudkan pemahaman menjadi kenyataan.

            Membaca buku artinya menguji kelayakan gagasan yang ada didalamnya dengan kondisi pada waktu buku tersebut dibaca. Serta ujian bagai pembaca untuk mampu menghidupkan gagasan yang ada didalam buku tersebut. Tidak hanya menyatakan keusangan isi, tetapi harus terdapat eksplorasi atau tafsir ulang atas pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang buku. Oleh karena itu gagasan setua dan sepurba Yunani kuno atau bahkan Mesir kuno, Mesopotamia, bahkan Babilonia akan senantiasa menemukan kesesuaiannya dalam babakan sejarah kapanpun. Karena tugas sebenarnya dari seorang pembaca tidak hanya menuangkan air kedalam gelas yang kosong, tetapi juga meracik air tersebut menjadi berbagai macam racikan mulai dari teh, kopi, susu dan sebagainya. Bisa juga diracik untuk menjadi obat atau racun. Pada hakikatnya seorang pembaca tidak akan menjadikan bukunya sebagai hiasan dinding saja, karena itu adalah tugas seorang desainer atau pustakawan.

 

Tegalwangi, 29-11-2020

Arif Prastyo Huzaeri      


Post a Comment for "Buku Menjadi Jendela Dunia atau Aksesoris Dinding?"