HUMOR GUS DUR TENTANG BANSER
Salah satu dari bentuk kecerdasan dan kejeniusan seseorang bisa dilihat dari caranya melihat sesuatu dimana tidak seorangpun yang mampu melihat dengan caranya tersebut. Jadi ia mempunyai suatu sudut pandang tertentu dan hanya dirinya lah yang mampu (think unthinkable). Suatu daya melakukan olah pikiran yang orang lain tidak dapat memikirkannya. Sehingga hasil yang didapatkan serta merta akan mengejutkan yang lain. Dewasa ini kita mengenal KH. Bahaudin Nursalim, sebagai publik figur yang ceramah dan pengajiannya dapat kita tonton lewat kanal-kanal Youtube. Tidak sedikit dari gojlokan dan candaannya mengundang gelak-tawa. Menariknya lagi sambil menikmati kelucuan yang ditampilkan oleh Gus Baha’, sapaan akrab, sebenarnya mengandung ilmu yang disampaikan. Inilah salah satu bahwa kecerdasan dan keluasan pengetahuan dari seseorang akan mampu menghadirkan suatu humor.
Masih
tidak akan terlupakan, nama Gus Dur sebagai seorang Kyai, Presiden, Guru
bangsa, humanis. Beliau merupakan orang yang berpikir melampaui zamannya serta
berpikir sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Contoh seperti
ini sering dipaparkan oleh budayawan Emha Ainun Najib dalam jamaah ma’iyah
nya, semisal, ketika Gus Dur jadi
presiden, Cak Nun mengingatkan supaya beliau memutus hubungan dengan penguasa
laut selatan, Nyai Roro Kidul. Tetapi jawabannya itu unik, “wes tak sms lho
cak, tak kongkon nganggo jilbab”. Siapapun orangnya mana mungkin akan
berpikiran seperti itu untuk menyuruh mengenakan jilbab. Beliau selalu
imajinasi, ide dan gagasan yang berada diluar nalar manusia pada umumnya.
Inilah sebagai bentuk kecerdasan.
Kecerdasan Gus
Dur juga memberi ruang akan hadirnya sense of humor yang tinggi. M.
Mas’ud Adnan menghimpunnya sampai menjadi
sebuah buku. Diterbitkan oleh Harian Bangsa pada tahun 2010 dengan judul “Gus
Dur hanya kalah dengan orang Madura”. Buku tersebut berisi 108 humor yang ia
peroleh dari berbagai macam sumber. diantaranya dari ceramah-ceramah pada
acara-acara resmi maupun santai, teman-temannya seperti Gus Mus, A.Mujib
Mannan, termasuk dari buku-buku, media massa dan internet. Salah satu buku yang
juga dijadikan rujukan oleh Mas’ud Adnan adalah bukunya sendiri yang ia tulis
sewaktu Gus Dur menjadi Presiden “Presiden Dur yang Gus itu, Anekdot-anekdot KH
Abdurrahman Wahid”.
Barangkali
bisa lebih dari angka 108 humor-humor Gus Dur dan M. Mas’ud Adnan kiranya masih
melewatkan banyak lagi. Dikarenakan pada era tersebut ceramah-ceramah Gus Dur
tidak seluruhnya di rekam lantas disebar luaskan lewat Youtube, sabagaimana
dewasa ini. Keistimewaan Gus Dur dari kecerdasannya dapat mengambil bahan
apapun untuk dijadikan joke-joke segar, mulai dari Dessy Ratnasari, Pak Harto,
habibie, Che Guevara, NU, Clinton, Turis, ABG Arab, dan banyak lagi yang
lainnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Seolah apapun yang ditemukannya dapat
dijadikan lelucon untuk ditertawakan bersama-sama. Salah satunya adalah
humornya tentang Barisan Ansor Serbaguna (BANSER), didalam bukunya M.Mas’ud
Adnan terdapat dua buah cerita yang berkaitan tentang Banser, yang akan saya
kutip sebagaimana berikut:
Dikawal banser mogok
Dalam
suatu pertemuan, Gus Dur bercerita. Suatu ketika, kata Gus Dur, dirinya
diundang ke suatu daerah untuk menghadiri acara. Ia datang bersama beberapa
orang. Seperti biasa, kali ini pun Banser merasa bertanggung jawab mengawal
tokoh NU tersebut. Tak tanggung-tanggung, mereka mengawal mobil Gus Dur dengan
mobil layaknya petugas lalu lintas mengawal pejabat tinggi negara. namun
celakanya, ditengah perjalanan mobil si Banser mogok.
“Mobil
yang saya naiki terus saja jalan,” kata Gus Dur disambut tawa hadirin.
Guyonan
tersebut disampaikan beliau pada waktu pidato dihadapan PWNU Jatim Surabaya,
bulan Juni tahun 1996. Cerita tersebut menjadi lucu manakala kita tilik pada kondisi
Banser yang sudah siap dan sedia hendak mengawal sang Kyai. Tetapi justru
ditengah perjalanan mengalami kegagalan akibat mobil yang mereka gunakan tidak
mendukung. Mengetahui bahwa mobil yanng sedang mengawal tiba-tiba mogok, Gus
Dur tidak ambil perduli, beliau terus saja jalan. Jadi niat baik
sahabat-sahabat Banser batal karena armada yang digunakan tidak menghendaki
kebaikan tersebut terlaksana sampai selesai. Sebenarnya apakah cerita yang
disampaikan tersebut adalah memang benar-benar terjadi atau tidak entahlah.
Tetapi yang jelas cerita tersebut mampu mengundang gelak tawa hadirin. Ini adalah
salah satu bentuk kemesraan ditengah-tengah warga nahdliyin, mereka
mampu menertawakan sesuatu yang merupakan bagian dari mereka sendiri, tanpa
membutuhkan bahan dari luar.
Banser keseleo Lidah
Ketika diundang pada suatu acara di Malang Jawa Timur,
Gus Dur ditunggu banyak pihak. Banser pun yang selalu sibuk bila Gus Dur ada
acara di daerahnya juga memantau melalui walky talky yang selalu berada
digenggamannya. Salah seorang Banser berada di Bandara Abdurrahman Saleh,
Malang. Ia senantiasa melaporkan perkembangan disana setiap saat.
Begitu
pesawat yang ditumpangi Gus Dur datang, ia senang bukan main. Maka dengan
bersemangat dia langsung melapor ke panitia di lokasi acara, melalui walky
talky-nya. Karena begitu bersemangatnya dia pun gugup tidak karuan.
“halo,
kontek, kontek! Kiai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di bandara Abdurrahman
Wahid,”katanya. Tentu saja panitia yag menerima laporannya kaget dan sekaligus
tertawa.
Untuk
cerita ini bersumber dari salah seorang pengurus GP Ansor Jatim. Kegugupan dari
Banser mengakibatkan tertukarnya nama Gus Dur, yang seharusnya KH Abdurrahman
Wahid bukan Abdurrahman Saleh. Sehingga yang menjadi Kyai adalah nama bandara
tersebut, yaitu Kiai Abdurrahman Saleh.
Hebatnya Banser
Saat
berada di sebuah kapal pesiar, Gus Dur, Presiden Amerika Serikat dan Perdana
Menteri Jepang saling memamerkan kebolehan tentara masing-masing. Presiden AS
bilang tentaranya bisa mengelilingi kapal 10 kali tanpa berhenti, dan langsung
dibuktikan, ternyata benar. Perdana Menteri Jepang malah bilang tentaranya bisa
mengelilingi kapal selama 25 kali. Ia panggil salah seorang prajurit untuk
terjun ke laut berenang mengelilingi kapal sebanyak 25 kali dan......luar
biasa, ternyata ia bisa.
Gus
Dur hampir-hampir dipermalukan dalam perdebatan itu. Prajurit AS dan Jepang
benar-benar pemberani. Untung Gus Dur segera punya ide. Dipanggilnya seorang
tentara NU, yaitu Banser yang kebetulan ikut dalam rombongan tersebut.
“ini
bapak-bapak, dia seorang anggota Banser NU. Dia bukan tentara, dan tidak pernah
mengikuti latihan militer resmi. Dia akan saya suruh berenang 100 kali” kata
Gus Dur sambil menepuk-nepuk pundak anggota Banser tersebut. Presiden AS dan
Perdana Menteri Jepang melongo.
“ayo
sekarang kamu nyebur ke laut dan berenang keliling kapal sampai 100
kali”. Kata Gus Dur kepada anggota Banser tadi dengan penuh percaya diri. “mana
mungkin Gus, saya masak disuruh berenang mengelilingi kapal sebesar ini, saya
tidak mau Gus” kata anggota Banser. “gila apa...!” tambahnya menggerutu sambil
lalu.
“ya
sudah kalau begitu kamu balik ke tempat”, kata Gus Dur dan anggota Banser tadi
balik ke tempatnya semula. Gus Dur lalu mendekati dua pimpinan negara adidaya
itu. “tuh kan bapak-bapak, sekarang tentara siapa yang berani coba? Pasti lebih
berani tentara saya. Lha wong perintah presidennya aja tidak dipatuhi?”
kata Gus Dur sambil duduk dan menepuk-nepukkan tangan ke pahanya.
Untuk
cerita terakhir, dapat kita lihat bahwa Gus Dur mengalahkan lawan bicaranya,
yaitu Presiden AS dan Perdana Menteri Jepang, dengan cara menampilkan
keberanian seorang Banser yang berani menolak Presidennya sekaligus Kyai
panutannya. Karena keberanian untuk menolak kepada pimpinan yang juga adalah
panutan lebih besar nilainya daripada keberanian untuk sekedar mengelilingi
kapal sebanyak mungkin sekalipun. Dalam hal ini Gus Dur benar-benar berfikir
diluar nalar (out of the box) perihal makna keberanian. Beliau mampu
menampilkan suatu sudut pandang lain yang tidak dijangkau oleh pikiran-pikiran
pada umumnya.
Berkaitan
dengan cerita tersebut, apakah benar nyata terjadi atau hanya humor karangan
Gus Dur belaka? Tetapi kalau mengacu kepada redaksinya, seorang Banser
sepertinya sulit untuk menolak perintah seorang Kyai apalagi ditambah seorang
Presiden. Tetapi dalam cerita tersebut, Banser mengatakan, sambil menggerutu
“gila apa....!”. jelas kalimat tersebut tidak mungkin diucapkan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa cerita tersebut adalah bentuk kecerdasan yang di imajinasikan
dalam cerita rekaan tentang Banser sebagai sarana untuk mendekatkan jalinan
dalam gelak tawa.
Tegalwangi, 22-01-2021
Arif Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "Humor Gus Dur Tentang Banser"