MENGUPAYAKAN PIKIRAN MENJADI PERBUATAN
Apakah
pengetahuan selalu dapat di convert menjadi tindakan atau perbuatan?
Dalam arti, perbuatan yang dimaksud adalah sesuatu realita yang dapat dicerna
oleh panca indera. Untuk menjawab pertanyaan itu mungkin kita tidak dapat
tergesa-gesa mencari jawaban yang pas tanpa ada keraguan sedikitpun, bukan
kenapa? Karena memang lebih banyak menghasilkan temuan-temuan oleh pikiran
tetapi dalam dimensi selanjutnya lebih banyak mengalami benturan-benturan
manakala hendak mewujudkan pikiran tersebut dalam wujud konkritnya. Apabila ide
atau gagasan tidak dapat diwujudkan dalam perbuatan nyata, maka pertanyaan yang
sungguh sangat mengandung masalah besar adalah apa arti dari pengetahuan
tersebut bagi manusia? Toh, bukannya perubahan sosial justru diwujudkan pertama
kali dari perubahan cara berpikir terhadap realitas. Ternyata apabila pikiran
telah berubah, tetapi tidak mampu menggerakkan dinamika, lantas buat apa cara
berpikir dirubah untuk sesuatu yang tidak berguna. Karena perubahan pikiran
yang tidak berpotensi untuk merubah keadaan, minimal merubah pemikir sendiri,
adalah sama dengan tidak berubah.
Terdapat
banyak gangguan, jelasnya berasal dari diri si pemikir dan dari luar diri si
pemikir atau kondisi sosial. Sebelum melangkah kepada masalah-masalah yang
menimbulkan kemandulan terhadap sesuatu yang hendak dimaksud oleh pikiran,
adabaiknya kita menyimak cerita yang pernah dimuat dalam sejarah. George Orwell
penulis inggris yang masyhur dengan karyanya sebuah novel 1984 juga mengarang
sebuah novel lain yang berjudul animal farm diterjemahkan dalam bahasa indonesia
salah satunya oleh H.Mahbub Djunaidi dengan judul, atas saran dari Nyoto,
Binatangisme. Singkat cerita novel tersebut bercerita tentang sebuah revolusi
yang dilakukan oleh binatang ternak dengan dipimpin oleh seekor babi. Alasan
yang mendasari pergolakan untuk melawan majikannya seorang manusia adalah
karena mereka merasa ditindas dengan berbagai pola pikir kemanusiaan yang hanya
hendak mengeksploitasi kebinatangan. Revolusi tersebut mendatangkan sebuah
kemenangan yang gemilang dari pihak binatang ternak. Si peternak, manusianya
lari tunggang langgang kalah dalam perkelahian kelas. Tetapi ketika para
binatang telah bebas dari kendali perintah manusia dan diperintah dari
golongannya, justru bentuk ketertindasan semakin berat. Jika dulu adagium
keadilan sering dilontarkan juga sebagai pemersatu, maka dikemudian hari kalimat
“keadilan “ menjadi sarana penyiksaan lewat kebijakan-kebijakan pimpinan yang
dulu ingin membebaskan dari belenggu kepapaan dan ketidakberdayaan dari sistem
lama yang hanya mengeksploitasi. Singkatnya begitu.
Orwell
hidup setelah revolusi Bolshevik di Uni Soviet yang dipimpin oleh Lenin. Dapat
difahami kalau Orwell mendapatkan inspirasi novelnya dari revolusi proletar
tersebut. Gambaran dari revolusi 1917 tersebut adalah kondisi yang sama dalam
novel. Setelah babi mampu memimpin dan memenangkan
hewan ternak atas kekuasaan manusia dan berakhir dengan suatu ironi, ternyata
pemimpin-pemimpin revolusi menghadirkan kekejaman yang lebih dan lebih berlipat
dari sebelumnya. Lenin bekerja dan berfikir dengan sokongan dari pikiran Marx
yang pernah meramalkan akan runtuhnya sendiri sistem kapitalisme. Tetapi Lenin
mencoba untuk mengadaptasikan ramalan tersebut dengan jalan menyengaja adanya
keruntuhan dari kapitalisme. Sehingga ia tidak segan-segan untuk melakukan
revolusi dengan menggunakan senjata bukan dengan menunggu terjadinya
eksploitasi berlebih sehingga buruh dengan spontan tanpa terorganisir melakukan
perlawanan. semua itu terjadi sebenarnya adalah hasil dari pengejawantahan dari
motonya Marx bahwa seorang filosof bukan untuk menafsirkan dunia, melainkan
untuk mengubah dunia.
Suatu
gerakan dari teoritis ke praxis, sebagaimana marx idam-idamkan tidak semudah
untuk berteriak. Tentu menghadapi berbagai kendala, mulai dari cara
mengadaptasikan. Artinya pasti ada yang
harus menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Menerapkan sebuah metode paling jitu
tanpa harus mengurangi tujuan dari awal. Seandainya ada tujuan yang
terkorbankan itu berarti hal yang dimaksud telah gagal seketika. Oleh karena
itu adaptasi bukan perkara mudah antara gagasan dan kondisi sosial. Tambah lagi
adalah persoalan yang muncul dari penggagas ide itu sendiri. Seberapa kuat
mentalnya untuk di uji dan di cemooh khalayak ramai. Tentu pikirannya termasuk
sesuatu yang asing karena bersifat perbuatan yang dulunya belum ada atau sudah
ada melainkan terjadi beberapa inovasi-inovasi yang dilakukan terhadap yang
dulu-dulu.
Dipastikan
bahwa pikiran yang hendak diterapkan dalam bentuk perbuatan berpotensi untuk
masuk akal sehingga diterima oleh orang banyak. Artinya antara persoalan dan
jawaban yang sedang berlangsung dan dinanti-nantikan oleh kondisi sosial
benar-benar ada. Bukan membuat gagasan dengan mengarang jawaban yang justru
menambah permasalahan setidak-tidaknya berpotensi untuk timbulnya permasalahan.
Pikiran –pikiran yang terlalu tinggi sampai mencakar langit benar keren tetapi
pada akhirnya mengambang ditengah masyarakat. Oleh karena itu berpikir harus
mempunyai landasan, dimana letak dari landasannya adalah berasal dari situasi
sosial yang kemudian menjadi bahan untuk dicarikan solusinya, bukan berasal
dari persoalan-persoalan yang terjadi lantas diimajinasikan sedemikian rupa,
seolah sedang menjawab sesuatu yang akan terjadi sepuluh sampai dua puluh lima
tahun mendatang. Toh, apabila dimasa depan hal tersebut tidak benar-benar
terjadi maka pikirannya hanya berguna untuk melatih otak saja tanpa ada fungsi
dan guna bagi sebuah peradaban.
Terakhir
kali, tentang sulitnya pikiran yang tidak dapat direalisasikan, bisa
dikarenakan seorang pemikir kurang bermental dan kurang power, dalam bentuk
ekonomi dan kekuasaan, untuk itu bagi pemikir yang ingin mengubah realitas
lewat pikirannya sebaiknya untuk tetap berjuang sampai jalannya buntu dan
memang benar-benar tidak dapat terwujud. Sebagaimana kata Tan Malaka, “terbentur,
terbentur, terbentur dan terbentuk”. Untuk kata”terbentur”-nya bisa
diperpanjang sendiri sampai titik yang tidak terbatas.
Tegalwangi, 07-12-2020
Arif Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for " MENGUPAYAKAN PIKIRAN MENJADI PERBUATAN"