Citra warung kopi seolah hanya tempat persinggahan, kumpul-kumpul gak jelas bagi orang-orang yang tidak jelas pula kehidupannya. Semisal bagi pengangguran, merasa tidak nyaman berada dirumah, sedangkan kalau keluar juga tidak ada kerjaan yang produktif. Maka untuk menghilangkan stress ada baiknya pergi ke warung untuk sambil lalu bercengkerama dengan teman-teman senasib tentang beragam topik disertai oleh secangkir kopi.
Pembahasan
yang dicapai jelas beragam tidak sekedar persoalan problematika sekitar,
seperti halnya kriminalitas, turun-naiknya hasil pertanian, jagung, cabai,
padi, kedelai dan sebagainya, rasan-rasan tetangga, sampai berbicara
sekaligus mengkritik arah kebijakan pembangunan dalam segal bidang mulai ekonomi,
sosial, infrastruktur ditiingkat desa sampai tingkat nasional yang ditayangkan
lewat media elektronik atau media cetak. Secangkir kopi bisa digunakan untuk
berjam-jam dengan topik pembicaraan yang tidak ada habis-habisnya. Seluruh isi
warung dipenuhi dengan kelakar dan gelak tawa sambil lalu bunyi mengaduk kopi
terdengar ditambah semerbak khas kopi panas.
Mereka
sebagai pecinta kopi, dianggap merisihkan oleh masyarakat sekalipun tidak
berbuat kriminal. Bukan apa lagi? Beban moral dalam sistem nilai yang
dikembangkan oleh masyarakat mengharuskan seseorang untuk rajin bekerja
sekalipun penghasilan tidak memenuhi tetapi kesediaan meluangkan waktu untuk
mencukupi kebutuhan adalah suatu kebaikan. Sedangkan banyak bicara tetapi tanpa
bekerja adalah suatu yang dapat mengarah kepada kehinaan bagi pelakunya.
Ada
hal lain yang dapat disoroti berkaitan dengan penikmat kopi diwarung. Mesti
dibedakan dengan penikmat kopi yang hanya sekedar dirumah sendirian. Dari
segala jenis warung entah di desa atau di kota, terdapat keistimewaan bagi
warung kopi. Terletak pada pengunjungnya
yang datang dengan berlama-lama untuk bercengkerama ngalor-ngidul.
Warung-warung lain sebenarnya mempunyai potensi untuk seperti itu, tetapi
pengunjungnya tidaklah menghabiskan banyak waktunya untuk terlalu lama.
Percakapan
yang terjadi menghasilkan peta pengetahuan yang cukup banyak dan rumit. Dapat
dipastikan seseorang yang lebih banyak berkunjung ke warung kopi akan lebih
mengetahui segala perbincangan yang terjadi di desa atau daerahnya. Oleh karena
itu warung kopi seolah menjadi media bertemunya pendapat dari masing-masing
orang untuk kemudian diambil suatu kesimpulan. Lepas dengan hasil yang didapat
itu penting atau tidak, sepertinnya pengalaman orang lain jelas memberikan
suatu wahana dalam mempertimbangkan persoalan diri sendiri.
Tanpa
disadari sebenarnya warung kopi adalah salah satu pusat literasi selain
institusi-institusi pendidikan. Bahkan kebebasan selalu dikedepankan, tidak
didahului oleh beberapa aturan yang dapat menghambat jalannya berpikir macet.
Pokoknya seluruhnya loss dol. Dalam hal ini yang dimaksud dengan
literasi jelas bukan menurut terminologi yang jadul yaitu melek
huruf. Melainkan jangkauan yang lebih luas tidak hanya membaca dan menulis,
lebih kepada peningkatan terhadap pengetahuan dan pemahaman yang didapat dari
pengalaman orang lain. Bukan buku ataupun ceramah yang sifatnya monolog tidak
bisa diganggu gugat, justru segala sesuatu yang kiranya dapat di uji dengan
nalar para pecinta kopi dan warungnya.
Fenomena
warung kopi dan tanpa sadar ada gerakan literasi yang terjadi di Indonesia
sebenarnya hanya satu dari sekian contoh yang mempunyai akibat sama persis
dalam kaitannya dengan pencerahan inteletual. Di Barat pada abad ke 17-18 salah
satu bentuk gerakan literasi selain bersentuhan langsung dengan buku, sistem
pendidikan sekolah dan surat menyurat antar pemikir adalah warung kopi. Dimana
mereka yang aktif dalam kegiatan pikiran akan bertemu dan bercengkerama
membahas isi pikiran masing-masing, yang terkadang tidak dibahas di
universitas, begitu pula di Indonesia.
Dewasa
ini, ada perubahan warung kopi secara besar-besaran yang akhirnya juga berimbas
kepada pengunjungnya dalam kegiatan yanng dilakukan. Mungkin tidak begitu
mendominasi dimana warung kopi difasilitasi dengan WIFI. Suatu teknologi
jaringan internet tanpa kabel, smartphone yang berbasis android dapat
menggunakannya sehingga mendapatkan layanan internet secara gratis. Pembiayaan
dibebankan kepada pemilik warung, hal tersebut dilakukan untuk menarik minat pengunjung
dengan iming-iming ada WIFI-nya.
Kondisi
yang terjadi akibat dari model warung seperti itu dapat dipastikan sepi. Tidak
ditemukan gelak tawa, perbincangan, dan teriakan-teriakan. Seluruhnya sunyi.
Mereka sedang sibuk sendiri-sendiri berkomunikasi dengan smartphone-nya
masing-masing. Meskipun begitu tidak dapat dikatakan bahwa gerakan literasi
yang terjadi diwarung telah tiada. Secara sederhana bisa dinyatakan dapat
berkurang atau tetap dengan model dan gaya yang berbeda. Sebab sumber pengetahuan
untuk melakukan pengayaan terhadap pikiran beralih kepada informasi yang di
dapat dari mesin pencari, google. Sedangkan berkurangnya karena pengunjung
warung bisa hanya melakukan kegiatan yang kurang berguna dalam pertumbuhan
nalarnya.
Mulai
dari mahasiswa, sales, pegawai kantoran, masyarakat umum tetapi tidak untuk
pelajar yang masih duduk dibangku sekolah, apabila ditemukan di warung kopi
dengan berseragam cenderung bolos sekolah jika bersamaan dengan jam masuk atau
setelah sekolah tetapi tidak pulang-pulang sedangkan orang tua, karena masih
anak-anak, mengkhawatirkannya. Apapun yang terjadi berkurang atau bertambah,
warung kopi selalu memberikan inspirasi karena disanalah sebagai tempat yang
bebas dan gerakan literasi bersemai.
Tegalwangi, 11-01-2021
Arif Prasetyo Huzaeri

Post a Comment for "Kedai Kopi dan Budaya Literasi"